SulawesiPos.com – Ancaman menyusutnya ekspor minyak Arab Saudi setelah serangan pesawat nirawak melumpuhkan East–West Pipeline menuju Laut Merah bukan berarti kerajaan itu akan kehabisan minyak dalam tujuh hari, tetapi menunjukkan betapa kritisnya jalur distribusi energi sekaligus membuka ruang kenaikan harga di pasar global.
Menurut pengusaha nasional sektor pengeboran dan eksplorasi migas Ir. Andi Razak Wawo yang dihubungi jurnalis SulawesiPos, Senin (14/9/2026), menyusul laporan Reuters bahwa stok di terminal Yanbu hanya mampu mempertahankan ekspor selama lima hingga tujuh hari jika aliran pipa tidak segera dipulihkan.
Reuters pada 13 September 2026 melaporkan gangguan tersebut berpotensi menghilangkan hingga sekitar 4 juta barel minyak per hari dari pasar ekspor, volume yang setara dengan hampir empat persen pasokan minyak dunia apabila penghentian berlangsung berkepanjangan.

Pipa East–West sepanjang sekitar 1.200 kilometer menghubungkan pusat produksi minyak di bagian timur Arab Saudi dengan terminal Yanbu di Laut Merah dan selama gangguan Selat Hormuz menjadi salah satu jalur terpenting kerajaan untuk mempertahankan ekspor.
Saudi dalam beberapa bulan terakhir menggunakan jalur tersebut untuk mengalihkan sekitar 4 juta barel minyak per hari menuju Yanbu, sementara kapasitas teknis jaringan tersebut jauh lebih besar sehingga menjadikannya infrastruktur strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap Hormuz.
Serangan drone menyebabkan jalur tersebut ditutup, sedangkan hingga laporan Reuters diterbitkan pemerintah Saudi belum memberikan rincian lengkap mengenai skala kerusakan ataupun kapan operasi normal dapat dipulihkan.
Perkiraan sumber industri juga berbeda-beda, dengan kemungkinan pemompaan sebagian dapat kembali ketika pekerjaan perbaikan berlangsung, sementara perbaikan penuh menurut salah satu estimasi dapat membutuhkan waktu lima hingga enam minggu.
Andi Razak Wawo: Jangan Artikan Saudi Kehabisan Minyak
Andi Razak menilai istilah “stok minyak Saudi tinggal tujuh hari” harus dibaca secara hati-hati karena Arab Saudi mempunyai basis cadangan dan kemampuan produksi minyak yang sangat besar, sedangkan angka lima hingga tujuh hari terutama menggambarkan keterbatasan persediaan yang tersedia untuk mempertahankan ekspor melalui Yanbu pada tingkat sekarang.
“Arab Saudi memiliki stok minyak yang besar, jadi jangan dipahami bahwa minyak Saudi secara keseluruhan hanya tersisa tujuh hari, karena yang sedang menjadi masalah adalah stok yang tersedia untuk mempertahankan ekspor ketika jalur utama pengangkutannya terganggu,” kata Andi Razak.
Pandangan tersebut sejalan dengan laporan Reuters yang secara spesifik menyebut stok di Yanbu cukup mempertahankan ekspor selama lima sampai tujuh hari, bukan menyatakan cadangan minyak bumi Arab Saudi akan habis dalam periode tersebut.
Data U.S. Energy Information Administration juga mengestimasi persediaan minyak strategis Arab Saudi sekitar 74 juta barel pada kuartal kedua 2026, sehingga memperjelas perbedaan antara persediaan nasional dan stok operasional pada terminal tertentu.
Persoalan yang lebih menentukan menurut Andi Razak adalah logistik minyak, sebab minyak yang masih berada di bawah tanah atau tersimpan di lokasi tertentu tidak otomatis dapat dijual apabila jaringan pipa, terminal dan jalur pelayarannya terganggu.
Dalam industri migas, menurut analisisnya, kemampuan produksi harus selalu dibaca bersama kemampuan lifting, transportation, storage, terminal handling dan shipping, karena gangguan pada salah satu mata rantai dapat membuat minyak secara ekonomi seolah-olah “tidak tersedia” bagi pasar.
“Minyaknya ada, tetapi kalau jalur untuk mengalirkannya ke pelabuhan terganggu, maka kemampuan memasok pasar otomatis turun, dan pasar akan bereaksi terhadap kekurangan pasokan yang tersedia itu,” ujarnya.
Saudi Punya Kepentingan terhadap Harga
Andi Razak Wawo juga melihat krisis tersebut dari sudut ekonomi minyak dengan menilai posisi Saudi sebagai eksportir utama membuat kerajaan itu mempunyai kepentingan ekonomi terhadap tingkat harga minyak internasional.
“Arab Saudi ini bisa saja memanfaatkan momentum untuk mendorong harga minyak lebih tinggi karena Saudi merupakan salah satu eksportir terbesar dunia dan kenaikan harga tentu meningkatkan nilai minyak yang dijualnya,” kata Andi Razak Wawo.
Namun pandangan tersebut merupakan analisis pengusaha Andi Razak Wawo, dan sejauh ini tidak terdapat bukti dalam laporan Reuters yang menunjukkan pemerintah Saudi sengaja menghentikan East–West Pipeline untuk menaikkan harga, karena penutupan dilaporkan terjadi setelah serangan terhadap infrastruktur tersebut.
Secara ekonomi, hubungan antara gangguan pasokan dan harga memang sangat kuat karena minyak merupakan komoditas dengan permintaan jangka pendek yang relatif sulit segera digantikan, sehingga hilangnya beberapa juta barel per hari dapat menghasilkan perubahan harga yang jauh lebih besar daripada persentase penurunan pasokannya.
Pasar memperlihatkan mekanisme tersebut pada Senin, 14 September, ketika Brent kembali melonjak sekitar tiga persen ke kisaran US$107–108 per barel dan WTI berada di sekitar US$103 setelah serangan baru dan penutupan pipa Saudi memperbesar kekhawatiran pasokan.
Dengan demikian, Andi Razak Wawo menilai pernyataan mengenai persediaan Yanbu yang tinggal beberapa hari mempunyai efek psikologis yang besar karena pedagang minyak tidak hanya memperhitungkan jumlah minyak yang tersedia hari ini, tetapi juga risiko mengenai berapa banyak minyak yang dapat sampai kepada pembeli pada pekan-pekan berikutnya.
Tiga sumber industri yang mengetahui operasi ekspor Saudi mengatakan Yanbu hanya mempunyai stok untuk mempertahankan ekspor sekitar lima sampai tujuh hari apabila East–West Pipeline tidak kembali mengalir.
Kapasitas penyimpanan Yanbu diperkirakan sekitar 35 juta barel, tetapi fasilitas tersebut tidak dalam keadaan penuh sehingga kapasitas tangki secara teoritis tidak dapat disamakan dengan minyak yang benar-benar tersedia.
Arab Saudi juga memiliki persediaan yang dapat digunakan melalui Ain Sukhna di Laut Merah dan Sidi Kerir di pesisir Mediterania Mesir, tetapi sumber industri mengatakan minyak tersebut hanya mampu menopang kebutuhan pelanggan untuk beberapa hari tambahan.
Ain Sukhna diperkirakan memiliki kapasitas penyimpanan sekitar 18 juta barel dan Sidi Kerir sekitar 20 juta barel, tetapi kedua fasilitas tersebut tidak dapat secara terus-menerus menggantikan jutaan barel minyak yang biasanya bergerak melalui East–West Pipeline.
Produksi Saudi sendiri telah turun tajam karena gangguan regional, dengan kerajaan melaporkan kepada OPEC produksi sekitar 6,2 juta barel per hari pada Agustus dibandingkan sekitar 10,9 juta barel per hari pada Februari.
Survei Reuters yang diterbitkan 10 September juga menunjukkan total produksi 11 negara OPEC turun sekitar 640.000 barel per hari pada Agustus menjadi 19,71 juta barel per hari, terutama akibat gangguan ekspor Saudi dan hambatan terhadap pengiriman Iran.
Hormuz–Pipa Saudi–Bab el-Mandeb Jadi Segitiga Risiko
Krisis Saudi menjadi semakin serius karena sistem ekspor minyak kerajaan kini terjepit oleh tiga titik kerawanan yang saling berhubungan, yakni Selat Hormuz di timur, East–West Pipeline di daratan, dan Bab el-Mandeb di barat.
East–West Pipeline sebelumnya merupakan “asuransi geografis” Saudi karena memungkinkan minyak dari wilayah timur dialirkan melintasi daratan menuju Yanbu tanpa melewati Selat Hormuz.
Ketika pipa tersebut ikut terganggu, keunggulan strategis itu melemah pada saat risiko keamanan di sekitar Bab el-Mandeb dan Laut Merah juga meningkat.
Andi Razak Wawo menilai kondisi ini memberikan pelajaran penting bahwa negara produsen minyak tidak cukup hanya mempunyai cadangan besar karena keamanan infrastruktur dan keberagaman jalur distribusi sama pentingnya dengan minyak yang berada di dalam reservoir.
“Dalam bisnis migas, cadangan besar tidak banyak berarti bagi pasar kalau minyaknya tidak bisa diangkat, dialirkan, disimpan dan dikirim kepada pembeli secara aman,” katanya.
Perbedaan antara reserves, production, stocks dan export capacity menjadi kunci untuk memahami kontroversi “minyak Saudi tinggal tujuh hari”, karena keempat istilah tersebut menggambarkan kondisi yang berbeda.
Cadangan atau reserves menunjukkan minyak yang secara teknis dan ekonomis dapat diproduksi dari reservoir, produksi menunjukkan minyak yang sedang dihasilkan, stok menggambarkan minyak yang telah tersedia dalam penyimpanan, sedangkan kapasitas ekspor menentukan berapa banyak yang benar-benar dapat dikirim ke pasar internasional.
Karena itu, Saudi dapat sekaligus memiliki cadangan minyak sangat besar tetapi menghadapi kekurangan minyak siap ekspor di suatu terminal tertentu ketika jaringan logistiknya terputus.
Perbedaan tersebut memperkuat substansi analisis Andi Razak bahwa persoalan Saudi saat ini bukan semata-mata berapa banyak minyak yang dimiliki, melainkan berapa banyak minyak yang dapat sampai kepada konsumen dunia.
Harga Tinggi Bisa Menguntungkan, tetapi Juga Menjadi Bumerang
Kenaikan harga memang berpotensi meningkatkan penerimaan per barel bagi negara eksportir selama volume ekspor tetap memadai, tetapi harga yang terlalu tinggi tidak otomatis selalu menguntungkan Saudi dalam jangka panjang.
Harga minyak yang terus berada di atas US$100 dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia, menekan konsumsi energi, mempercepat peralihan menuju kendaraan listrik dan energi alternatif, serta mendorong produsen non-OPEC meningkatkan produksi.
Karena itu, kepentingan ekonomi Saudi secara struktural bukan sekadar memperoleh harga setinggi mungkin, melainkan mempertahankan kombinasi harga, volume ekspor, pangsa pasar dan permintaan global yang memberikan pendapatan berkelanjutan.
Pasar minyak dunia pada 14 September menunjukkan tingkat kerentanan tersebut ketika Brent berada di sekitar US$107–108 per barel setelah kekhawatiran terhadap East–West Pipeline bertemu dengan meningkatnya risiko pelayaran di Hormuz dan Bab el-Mandeb.
Gangguan tersebut juga telah merembet ke pasar keuangan karena kenaikan energi memperbesar kekhawatiran inflasi, mendorong imbal hasil obligasi dan mempersempit ruang sejumlah bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Krisis Saudi adalah Krisis Infrastruktur Energi Dunia
Krisis terbaru akhirnya menunjukkan bahwa keamanan energi abad ke-21 tidak hanya ditentukan oleh siapa yang mempunyai minyak paling banyak, tetapi siapa yang mampu mempertahankan produksi, penyimpanan, jaringan pipa, pelabuhan dan jalur pelayaran ketika terjadi perang atau serangan terhadap infrastruktur.
Andi Razak menilai kondisi Saudi menjadi peringatan bagi negara-negara pengimpor minyak untuk tidak menggantungkan keamanan energi hanya pada ketersediaan minyak dunia, melainkan membangun cadangan strategis, memperluas sumber impor dan memperkuat produksi domestik.
Bagi Indonesia, pelajaran tersebut menjadi semakin relevan karena lonjakan harga minyak internasional dapat diteruskan melalui biaya impor energi, transportasi, industri, logistik dan pada akhirnya harga barang yang dibayar masyarakat.
Krisis Saudi dengan demikian bukan cerita tentang kerajaan yang akan “kehabisan minyak dalam tujuh hari”, tetapi mengenai dunia yang dapat kehilangan akses terhadap jutaan barel minyak setiap hari ketika geopolitik memutus hubungan antara sumur minyak dan pasar.
Dan justru di situlah peringatan Andi Razak Wawo memperoleh konteks terpentingnya: di pasar energi global, minyak yang melimpah di bawah tanah tidak akan menenangkan pasar apabila dunia meragukan kemampuan minyak tersebut untuk sampai kepada pembeli. (Ali)

