Saudi Menuju Orbit, Ekonomi Antariksa Tembus Rp527 Triliun

SulawesiPos.com – Arab Saudi diproyeksikan memperbesar ekonomi antariksanya hampir empat kali lipat, dari US$8,7 miliar pada 2024 menjadi US$31,6 miliar atau sekitar Rp527 triliun pada 2035, melalui pengembangan teknologi satelit, infrastruktur digital, observasi Bumi, dan berbagai layanan berbasis antariksa sebagai bagian dari diversifikasi ekonomi Visi Saudi 2030.

Proyeksi tersebut tercantum dalam Digital & Space Sustainability Report 2026 yang diterbitkan Komisi Komunikasi, Antariksa, dan Teknologi Arab Saudi (CST) dengan dukungan International Telecommunication Union (ITU). Berita ini berdasarkan laporan harian Saudi Okaz pada 29 Agustus 2026.

Ekonomi antariksa Arab Saudi diperkirakan tumbuh rata-rata sekitar 12 persen per tahun hingga 2035, didorong oleh investasi pemerintah dan swasta dalam komunikasi satelit, navigasi, penginderaan jauh, manufaktur wahana antariksa, infrastruktur darat, peluncuran, serta pengamatan Bumi.

Istilah “ekonomi antariksa” dalam proyeksi US$31,6 miliar perlu dibedakan dari “pasar antariksa domestik”, sebab laporan resmi CST memperkirakan pasar domestik Arab Saudi mencapai sekitar US$5,6 miliar pada 2035, sementara nilai ekonomi antariksa mencakup aktivitas, investasi, layanan, dan manfaat ekonomi yang lebih luas.

Satelit Menjadi Mata Saudi dari Angkasa

Pengembangan sektor tersebut akan ditopang oleh produksi satelit di dalam negeri, pembangunan stasiun bumi, fasilitas perakitan, integrasi dan pengujian, serta perluasan layanan digital berbasis satelit untuk menopang telekomunikasi, pemantauan industri, dan konektivitas kawasan terpencil.

Arab Saudi juga membidik konektivitas satelit langsung ke perangkat atau direct-to-device, jaringan penghubung satelit berkapasitas tinggi, analisis citra Bumi, serta teknologi kesadaran situasional antariksa untuk memantau satelit, benda buatan, sampah antariksa, dan potensi tabrakan di orbit.

Teknologi tersebut tidak hanya bernilai komersial karena lebih dari 50 persen variabel iklim esensial dapat diukur dari antariksa, sehingga data satelit dapat membantu memantau perubahan iklim, sumber daya air, pertanian, perluasan gurun, kerusakan lingkungan, dan bencana alam.

Bagi Arab Saudi yang menghadapi kelangkaan air, suhu ekstrem, dan desertifikasi, penginderaan jauh memungkinkan pemerintah memantau kelembapan tanah, kesehatan tanaman, pergerakan badai pasir, perubahan garis pantai, serta penggunaan lahan secara lebih cepat dan luas daripada pengamatan darat semata.

Pemanfaatan teknologi antariksa untuk pembangunan berkelanjutan itu berjalan bersamaan dengan pembaruan tata kelola spektrum frekuensi, penguatan keselamatan orbit, dan penyusunan standar mitigasi sampah antariksa agar ekspansi bisnis tidak meningkatkan risiko tabrakan maupun gangguan layanan satelit.

Patrice Lumumba: Ekonomi Dunia Bergerak ke Antariksa

Akademisi Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, Dr. Patrice Lumumba, M.A., menilai pengembangan ekonomi antariksa merupakan pilihan strategis yang sejalan dengan perubahan struktur perekonomian dunia dari ketergantungan pada sumber daya alam menuju penguasaan teknologi digital.

BACA JUGA:  Situasi Timur Tengah Memanas, Pemerintah Imbau Jamaah Tunda Umrah

“Visi Saudi 2030 sangat sesuai dengan tren perkembangan ekonomi dunia yang mulai bergerak dari bumi menuju antariksa serta beralih dari ekonomi yang mengandalkan sumber daya alam menuju ekonomi berbasis teknologi digital,” kata Patrice ketika dihubungi jurnalis Sulawesi Pos pada 31 Agustus 2026.

Menurut akademisi yang memiliki bidang keahlian hubungan internasional, studi Amerika, serta diplomasi dan negosiasi tersebut, Arab Saudi menyadari bahwa pendapatan minyak dan gas tidak selamanya dapat menjadi satu-satunya fondasi kekuatan ekonomi nasional.

Akademisi Unhas Patrice Lumumba menilai investasi antariksa memperkuat transformasi ekonomi dan teknologi Arab Saudi. (Foto:Istimewa)

“Bagaimanapun, minyak dan gas yang selama ini menjadi andalan perekonomian Arab Saudi lambat laun akan berkurang perannya, baik karena keterbatasan sumber daya maupun perubahan global menuju energi yang lebih bersih, sehingga negara ini harus menyiapkan sumber pertumbuhan baru sejak sekarang,” ujarnya.

Pernyataan itu tidak berarti minyak akan segera kehilangan seluruh nilai ekonominya, melainkan menunjukkan bahwa transisi energi, perkembangan kendaraan listrik, kebijakan pengurangan emisi, dan inovasi energi terbarukan dapat mengurangi dominasi hidrokarbon dalam perekonomian global secara bertahap.

Patrice menjelaskan bahwa upaya diversifikasi telah lama dirintis Arab Saudi melalui kerja sama ekonomi dan teknologi dengan berbagai negara, termasuk dengan memanfaatkan kekuatan, modal, dan jaringan internasional Saudi Aramco.

“Arab Saudi sejak awal telah memahami pentingnya diversifikasi agar negara tidak bergantung kepada satu sumber pendapatan saja, sehingga kerja sama internasional melalui Aramco dan berbagai lembaga lainnya terus dikembangkan untuk memperoleh teknologi, investasi, serta pasar baru,” katanya.

Strategi tersebut terlihat dalam berbagai kemitraan Aramco di bidang komputasi awan, kecerdasan buatan, jaringan 5G industri, keamanan siber, dan komputasi kuantum, termasuk kerja sama dengan perusahaan teknologi internasional untuk membangun kemampuan digital di dalam negeri.

Pada 24 Agustus 2026, misalnya, Aramco mengumumkan sejumlah perjanjian dan nota kesepahaman dengan perusahaan-perusahaan Prancis yang memiliki potensi nilai gabungan lebih dari US$3,7 miliar, dengan fokus pada kecerdasan buatan industri, teknologi digital, transfer teknologi, penguatan kemampuan, dan ketahanan rantai pasok.

Mengikuti Transformasi Negara-Negara Teluk

Diversifikasi serupa juga dijalankan negara-negara Teluk lainnya, seperti Uni Emirat Arab yang mengembangkan perdagangan, penerbangan, logistik, pariwisata, properti, dan teknologi, serta Qatar yang memperkuat sektor penerbangan, olahraga, pariwisata, jasa, investasi internasional, dan ekonomi pengetahuan.

BACA JUGA:  Trump Menjauh, Netanyahu Terancam Tumbang di Tengah Badai Asia Barat

“Arab Saudi tidak bergerak sendirian karena negara-negara Teluk seperti Qatar dan Uni Emirat Arab juga telah mengembangkan pariwisata, properti, jasa, dan teknologi sebagai mesin ekonomi baru di luar minyak dan gas,” ujar Patrice.

Namun, pilihan Arab Saudi untuk memperluas investasi ke sektor antariksa memberi dimensi strategis yang lebih besar karena teknologi satelit berhubungan langsung dengan komunikasi, pertanian, pemetaan sumber daya, pengelolaan air, mitigasi bencana, keamanan, pertahanan, navigasi, dan kedaulatan data.

Dalam perspektif hubungan internasional, penguasaan teknologi antariksa tidak hanya menghasilkan keuntungan komersial, tetapi juga meningkatkan kekuatan nasional karena negara yang menguasai satelit dan data memiliki kemampuan lebih besar dalam menentukan kebijakan, melindungi wilayah, dan mengurangi ketergantungan kepada pemasok asing.

Infrastruktur Digital Menjadi Landasan

Ambisi antariksa Arab Saudi ditopang penetrasi internet yang mencapai 99,6 persen pada 2025, jaringan serat optik yang menjangkau lebih dari 3,9 juta rumah, serta kontribusi ekonomi digital sebesar 15 persen terhadap produk domestik bruto pada 2024 atau setara 459 miliar riyal Saudi—sekitar US$122,4 miliar.

Penggunaan kecerdasan buatan oleh perusahaan-perusahaan Saudi mencapai 33,1 persen pada 2025, sedangkan partisipasi perempuan dalam sektor digital meningkat dari 7 persen pada 2018 menjadi sekitar 35 persen, yang memperluas basis sumber daya manusia bagi industri teknologi masa depan.

Menteri Komunikasi dan Teknologi Informasi Arab Saudi Abdullah Al-Swaha menegaskan bahwa kecerdasan buatan dan inovasi digital diposisikan sebagai penggerak pembangunan berkelanjutan yang dapat memperkuat ekonomi, memberdayakan masyarakat, melindungi lingkungan, dan membantu mengatasi tantangan dunia.

Kerja sama Arab Saudi dengan ITU juga mencakup regulasi limbah elektronik, ekonomi digital sirkular, peningkatan kapasitas manusia, dan pertukaran pengetahuan internasional, sementara ITU mencatat Akademi Regulasi Digital CST telah melatih lebih dari 1.500 profesional dari 190 negara.

Investasi Mahal dengan Keuntungan Strategis

Patrice mengingatkan bahwa industri antariksa merupakan sektor padat modal, padat pengetahuan, dan berisiko tinggi karena membutuhkan pembiayaan besar, riset jangka panjang, tenaga ahli, fasilitas pengujian, serta kemampuan mempertahankan teknologi yang terus berubah.

“Teknologi digital antariksa merupakan industri padat modal dan padat teknologi, artinya investasi ini membutuhkan biaya serta devisa sangat besar, tetapi Arab Saudi memiliki kemampuan finansial untuk menanamkan modal dalam jangka panjang,” katanya.

BACA JUGA:  Penemuan Mumi Macan Tutul Langka di Arab Saudi

Keunggulan keuangan tersebut memungkinkan Saudi membiayai infrastruktur, mendatangkan tenaga ahli, membentuk kemitraan publik-swasta, memberikan dukungan kepada perusahaan rintisan, dan mempercepat transfer pengetahuan dari negara serta perusahaan yang lebih dahulu menguasai teknologi antariksa.

“Keterlibatan Saudi pada fase pertumbuhan industri ini dapat memberinya posisi strategis, baik secara ekonomi maupun dalam penguasaan teknologi masa depan, terutama jika investasi tersebut diikuti pembangunan kemampuan nasional dan tidak berhenti pada pembelian teknologi asing,” ujar Patrice.

Meskipun Amerika Serikat, China, Rusia, negara-negara Eropa, Jepang, dan India telah memiliki ekosistem antariksa yang jauh lebih matang, Saudi masih berpeluang menjadi pemain penting di Asia Barat dan Afrika Utara melalui kekuatan modal, lokasi geografis, infrastruktur digital, dan kemitraan internasionalnya.

Dari Negara Minyak Menuju Kekuatan Teknologi

Ekspansi ekonomi antariksa merupakan bagian dari Visi Saudi 2030 untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dengan menciptakan industri bernilai tambah tinggi, lapangan kerja ilmiah, rantai pasok teknologi, serta peluang investasi internasional.

Pemerintah Saudi akan mengandalkan kemitraan publik-swasta untuk menarik modal asing, mempercepat alih teknologi, melahirkan perusahaan rintisan, dan membangun kemampuan nasional dalam perakitan, integrasi, pengujian satelit, analisis data, serta pengoperasian jaringan stasiun bumi.

Arab Saudi juga mempunyai pengalaman penerbangan antariksa manusia setelah dua astronautnya, Rayyanah Barnawi dan Ali Al-Qarni, mengikuti misi Axiom-2 menuju Stasiun Antariksa Internasional pada Mei 2023, dengan Barnawi tercatat sebagai perempuan Arab pertama yang mencapai orbit.

Patrice menilai keberhasilan program tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan Saudi mengubah kekuatan modal menjadi penguasaan ilmu pengetahuan, inovasi domestik, pendidikan teknologi, dan kemandirian industri.

“Jika Visi 2030 benar-benar diwujudkan secara konsisten, Arab Saudi dapat melakukan lompatan luar biasa dan mempersempit kesenjangan dengan negara-negara maju yang selama ini menjadikan teknologi sebagai sumber kekuatan ekonomi,” katanya.

Namun, pertumbuhan sektor tersebut tetap menghadapi tantangan berupa kebutuhan tenaga ahli, biaya teknologi yang besar, ketergantungan pada komponen asing, keamanan siber, perlindungan data, persaingan geopolitik, dan kewajiban menjaga ruang orbit sebagai sumber daya bersama umat manusia.

Apabila investasi, pendidikan, regulasi, riset, dan kerja sama internasional dapat dipadukan secara konsisten, ekonomi antariksa senilai US$31,6 miliar tidak hanya akan mengubah struktur perekonomian Arab Saudi, tetapi juga berpotensi menjadikannya salah satu pusat teknologi, bisnis, dan pemanfaatan antariksa terpenting di Asia Barat dan Afrika Utara. (Ali)

SulawesiPos.com – Arab Saudi diproyeksikan memperbesar ekonomi antariksanya hampir empat kali lipat, dari US$8,7 miliar pada 2024 menjadi US$31,6 miliar atau sekitar Rp527 triliun pada 2035, melalui pengembangan teknologi satelit, infrastruktur digital, observasi Bumi, dan berbagai layanan berbasis antariksa sebagai bagian dari diversifikasi ekonomi Visi Saudi 2030.

Proyeksi tersebut tercantum dalam Digital & Space Sustainability Report 2026 yang diterbitkan Komisi Komunikasi, Antariksa, dan Teknologi Arab Saudi (CST) dengan dukungan International Telecommunication Union (ITU). Berita ini berdasarkan laporan harian Saudi Okaz pada 29 Agustus 2026.

Ekonomi antariksa Arab Saudi diperkirakan tumbuh rata-rata sekitar 12 persen per tahun hingga 2035, didorong oleh investasi pemerintah dan swasta dalam komunikasi satelit, navigasi, penginderaan jauh, manufaktur wahana antariksa, infrastruktur darat, peluncuran, serta pengamatan Bumi.

Istilah “ekonomi antariksa” dalam proyeksi US$31,6 miliar perlu dibedakan dari “pasar antariksa domestik”, sebab laporan resmi CST memperkirakan pasar domestik Arab Saudi mencapai sekitar US$5,6 miliar pada 2035, sementara nilai ekonomi antariksa mencakup aktivitas, investasi, layanan, dan manfaat ekonomi yang lebih luas.

Satelit Menjadi Mata Saudi dari Angkasa

Pengembangan sektor tersebut akan ditopang oleh produksi satelit di dalam negeri, pembangunan stasiun bumi, fasilitas perakitan, integrasi dan pengujian, serta perluasan layanan digital berbasis satelit untuk menopang telekomunikasi, pemantauan industri, dan konektivitas kawasan terpencil.

Arab Saudi juga membidik konektivitas satelit langsung ke perangkat atau direct-to-device, jaringan penghubung satelit berkapasitas tinggi, analisis citra Bumi, serta teknologi kesadaran situasional antariksa untuk memantau satelit, benda buatan, sampah antariksa, dan potensi tabrakan di orbit.

Teknologi tersebut tidak hanya bernilai komersial karena lebih dari 50 persen variabel iklim esensial dapat diukur dari antariksa, sehingga data satelit dapat membantu memantau perubahan iklim, sumber daya air, pertanian, perluasan gurun, kerusakan lingkungan, dan bencana alam.

Bagi Arab Saudi yang menghadapi kelangkaan air, suhu ekstrem, dan desertifikasi, penginderaan jauh memungkinkan pemerintah memantau kelembapan tanah, kesehatan tanaman, pergerakan badai pasir, perubahan garis pantai, serta penggunaan lahan secara lebih cepat dan luas daripada pengamatan darat semata.

Pemanfaatan teknologi antariksa untuk pembangunan berkelanjutan itu berjalan bersamaan dengan pembaruan tata kelola spektrum frekuensi, penguatan keselamatan orbit, dan penyusunan standar mitigasi sampah antariksa agar ekspansi bisnis tidak meningkatkan risiko tabrakan maupun gangguan layanan satelit.

Patrice Lumumba: Ekonomi Dunia Bergerak ke Antariksa

Akademisi Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, Dr. Patrice Lumumba, M.A., menilai pengembangan ekonomi antariksa merupakan pilihan strategis yang sejalan dengan perubahan struktur perekonomian dunia dari ketergantungan pada sumber daya alam menuju penguasaan teknologi digital.

BACA JUGA:  Trump Menjauh, Netanyahu Terancam Tumbang di Tengah Badai Asia Barat

“Visi Saudi 2030 sangat sesuai dengan tren perkembangan ekonomi dunia yang mulai bergerak dari bumi menuju antariksa serta beralih dari ekonomi yang mengandalkan sumber daya alam menuju ekonomi berbasis teknologi digital,” kata Patrice ketika dihubungi jurnalis Sulawesi Pos pada 31 Agustus 2026.

Menurut akademisi yang memiliki bidang keahlian hubungan internasional, studi Amerika, serta diplomasi dan negosiasi tersebut, Arab Saudi menyadari bahwa pendapatan minyak dan gas tidak selamanya dapat menjadi satu-satunya fondasi kekuatan ekonomi nasional.

Akademisi Unhas Patrice Lumumba menilai investasi antariksa memperkuat transformasi ekonomi dan teknologi Arab Saudi. (Foto:Istimewa)

“Bagaimanapun, minyak dan gas yang selama ini menjadi andalan perekonomian Arab Saudi lambat laun akan berkurang perannya, baik karena keterbatasan sumber daya maupun perubahan global menuju energi yang lebih bersih, sehingga negara ini harus menyiapkan sumber pertumbuhan baru sejak sekarang,” ujarnya.

Pernyataan itu tidak berarti minyak akan segera kehilangan seluruh nilai ekonominya, melainkan menunjukkan bahwa transisi energi, perkembangan kendaraan listrik, kebijakan pengurangan emisi, dan inovasi energi terbarukan dapat mengurangi dominasi hidrokarbon dalam perekonomian global secara bertahap.

Patrice menjelaskan bahwa upaya diversifikasi telah lama dirintis Arab Saudi melalui kerja sama ekonomi dan teknologi dengan berbagai negara, termasuk dengan memanfaatkan kekuatan, modal, dan jaringan internasional Saudi Aramco.

“Arab Saudi sejak awal telah memahami pentingnya diversifikasi agar negara tidak bergantung kepada satu sumber pendapatan saja, sehingga kerja sama internasional melalui Aramco dan berbagai lembaga lainnya terus dikembangkan untuk memperoleh teknologi, investasi, serta pasar baru,” katanya.

Strategi tersebut terlihat dalam berbagai kemitraan Aramco di bidang komputasi awan, kecerdasan buatan, jaringan 5G industri, keamanan siber, dan komputasi kuantum, termasuk kerja sama dengan perusahaan teknologi internasional untuk membangun kemampuan digital di dalam negeri.

Pada 24 Agustus 2026, misalnya, Aramco mengumumkan sejumlah perjanjian dan nota kesepahaman dengan perusahaan-perusahaan Prancis yang memiliki potensi nilai gabungan lebih dari US$3,7 miliar, dengan fokus pada kecerdasan buatan industri, teknologi digital, transfer teknologi, penguatan kemampuan, dan ketahanan rantai pasok.

Mengikuti Transformasi Negara-Negara Teluk

Diversifikasi serupa juga dijalankan negara-negara Teluk lainnya, seperti Uni Emirat Arab yang mengembangkan perdagangan, penerbangan, logistik, pariwisata, properti, dan teknologi, serta Qatar yang memperkuat sektor penerbangan, olahraga, pariwisata, jasa, investasi internasional, dan ekonomi pengetahuan.

BACA JUGA:  Konflik Saudi–Houthi Memanas, Bisakah Iran Membuka Jalan Damai?

“Arab Saudi tidak bergerak sendirian karena negara-negara Teluk seperti Qatar dan Uni Emirat Arab juga telah mengembangkan pariwisata, properti, jasa, dan teknologi sebagai mesin ekonomi baru di luar minyak dan gas,” ujar Patrice.

Namun, pilihan Arab Saudi untuk memperluas investasi ke sektor antariksa memberi dimensi strategis yang lebih besar karena teknologi satelit berhubungan langsung dengan komunikasi, pertanian, pemetaan sumber daya, pengelolaan air, mitigasi bencana, keamanan, pertahanan, navigasi, dan kedaulatan data.

Dalam perspektif hubungan internasional, penguasaan teknologi antariksa tidak hanya menghasilkan keuntungan komersial, tetapi juga meningkatkan kekuatan nasional karena negara yang menguasai satelit dan data memiliki kemampuan lebih besar dalam menentukan kebijakan, melindungi wilayah, dan mengurangi ketergantungan kepada pemasok asing.

Infrastruktur Digital Menjadi Landasan

Ambisi antariksa Arab Saudi ditopang penetrasi internet yang mencapai 99,6 persen pada 2025, jaringan serat optik yang menjangkau lebih dari 3,9 juta rumah, serta kontribusi ekonomi digital sebesar 15 persen terhadap produk domestik bruto pada 2024 atau setara 459 miliar riyal Saudi—sekitar US$122,4 miliar.

Penggunaan kecerdasan buatan oleh perusahaan-perusahaan Saudi mencapai 33,1 persen pada 2025, sedangkan partisipasi perempuan dalam sektor digital meningkat dari 7 persen pada 2018 menjadi sekitar 35 persen, yang memperluas basis sumber daya manusia bagi industri teknologi masa depan.

Menteri Komunikasi dan Teknologi Informasi Arab Saudi Abdullah Al-Swaha menegaskan bahwa kecerdasan buatan dan inovasi digital diposisikan sebagai penggerak pembangunan berkelanjutan yang dapat memperkuat ekonomi, memberdayakan masyarakat, melindungi lingkungan, dan membantu mengatasi tantangan dunia.

Kerja sama Arab Saudi dengan ITU juga mencakup regulasi limbah elektronik, ekonomi digital sirkular, peningkatan kapasitas manusia, dan pertukaran pengetahuan internasional, sementara ITU mencatat Akademi Regulasi Digital CST telah melatih lebih dari 1.500 profesional dari 190 negara.

Investasi Mahal dengan Keuntungan Strategis

Patrice mengingatkan bahwa industri antariksa merupakan sektor padat modal, padat pengetahuan, dan berisiko tinggi karena membutuhkan pembiayaan besar, riset jangka panjang, tenaga ahli, fasilitas pengujian, serta kemampuan mempertahankan teknologi yang terus berubah.

“Teknologi digital antariksa merupakan industri padat modal dan padat teknologi, artinya investasi ini membutuhkan biaya serta devisa sangat besar, tetapi Arab Saudi memiliki kemampuan finansial untuk menanamkan modal dalam jangka panjang,” katanya.

BACA JUGA:  Penemuan Mumi Macan Tutul Langka di Arab Saudi

Keunggulan keuangan tersebut memungkinkan Saudi membiayai infrastruktur, mendatangkan tenaga ahli, membentuk kemitraan publik-swasta, memberikan dukungan kepada perusahaan rintisan, dan mempercepat transfer pengetahuan dari negara serta perusahaan yang lebih dahulu menguasai teknologi antariksa.

“Keterlibatan Saudi pada fase pertumbuhan industri ini dapat memberinya posisi strategis, baik secara ekonomi maupun dalam penguasaan teknologi masa depan, terutama jika investasi tersebut diikuti pembangunan kemampuan nasional dan tidak berhenti pada pembelian teknologi asing,” ujar Patrice.

Meskipun Amerika Serikat, China, Rusia, negara-negara Eropa, Jepang, dan India telah memiliki ekosistem antariksa yang jauh lebih matang, Saudi masih berpeluang menjadi pemain penting di Asia Barat dan Afrika Utara melalui kekuatan modal, lokasi geografis, infrastruktur digital, dan kemitraan internasionalnya.

Dari Negara Minyak Menuju Kekuatan Teknologi

Ekspansi ekonomi antariksa merupakan bagian dari Visi Saudi 2030 untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dengan menciptakan industri bernilai tambah tinggi, lapangan kerja ilmiah, rantai pasok teknologi, serta peluang investasi internasional.

Pemerintah Saudi akan mengandalkan kemitraan publik-swasta untuk menarik modal asing, mempercepat alih teknologi, melahirkan perusahaan rintisan, dan membangun kemampuan nasional dalam perakitan, integrasi, pengujian satelit, analisis data, serta pengoperasian jaringan stasiun bumi.

Arab Saudi juga mempunyai pengalaman penerbangan antariksa manusia setelah dua astronautnya, Rayyanah Barnawi dan Ali Al-Qarni, mengikuti misi Axiom-2 menuju Stasiun Antariksa Internasional pada Mei 2023, dengan Barnawi tercatat sebagai perempuan Arab pertama yang mencapai orbit.

Patrice menilai keberhasilan program tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan Saudi mengubah kekuatan modal menjadi penguasaan ilmu pengetahuan, inovasi domestik, pendidikan teknologi, dan kemandirian industri.

“Jika Visi 2030 benar-benar diwujudkan secara konsisten, Arab Saudi dapat melakukan lompatan luar biasa dan mempersempit kesenjangan dengan negara-negara maju yang selama ini menjadikan teknologi sebagai sumber kekuatan ekonomi,” katanya.

Namun, pertumbuhan sektor tersebut tetap menghadapi tantangan berupa kebutuhan tenaga ahli, biaya teknologi yang besar, ketergantungan pada komponen asing, keamanan siber, perlindungan data, persaingan geopolitik, dan kewajiban menjaga ruang orbit sebagai sumber daya bersama umat manusia.

Apabila investasi, pendidikan, regulasi, riset, dan kerja sama internasional dapat dipadukan secara konsisten, ekonomi antariksa senilai US$31,6 miliar tidak hanya akan mengubah struktur perekonomian Arab Saudi, tetapi juga berpotensi menjadikannya salah satu pusat teknologi, bisnis, dan pemanfaatan antariksa terpenting di Asia Barat dan Afrika Utara. (Ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru