SulawesiPos.com — Ramainya suara tamu yang datang, bercampur dengan sapaan hangat tuan rumah. Dari satu rumah ke rumah lainnya, tamu datang silih berganti.
Ada yang datang bersama keluarga, ada yang berkelompok. Sebagian bahkan datang dari luar daerah.
Pagi itu (Minggu 30 Agustus 2026), Weddae, Desa Patangnga, Bone Utara, terasa berbeda. Jalan-jalan desa lebih ramai dari biasanya. Rumah warga terbuka lebar.
Tamu datang, duduk, berbincang, menikmati hidangan, lalu kembali melanjutkan perjalanan ke rumah warga lainnya.
Inilah suasana Maulid Nabi Muhammad SAW di Weddae.
Bagi masyarakat setempat, Maulid bukan sekadar seremoni keagamaan. Ini adalah hari ketika pintu rumah dibuka lebih lebar, hidangan disiapkan lebih banyak, dan siapa pun yang datang dianggap sebagai tamu yang harus dijamu.
Di sejumlah rumah, male telah disiapkan. Wadah-wadah berisi makanan khas Maulid itu menjadi salah satu yang paling dinanti.
Ada yang datang untuk bersilaturahmi, ada pula yang penasaran ingin melihat langsung tradisi Maulid yang masih begitu kuat dipertahankan masyarakat Bone Utara.
Bahkan, warga dari Kabupaten Soppeng turut berdatangan. Mereka rela menempuh perjalanan ke Weddae, sekadar menikmati suasana Maulid, bersilaturahmi dengan warga, sekaligus berburu male.
Di tengah keramaian itu, wajah-wajah warga terlihat sumringah. Tuan rumah sibuk menyambut tamu. Tidak ada kesan keberatan meski tamu datang berkali-kali.
Justru sebaliknya, kedatangan tamu menjadi kebahagiaan.
“Di sini setiap tahun memang begini. Ramai, bahkan lebih ramai dari hari raya Lebaran. Kita juga warga di sini senang menjamu warga,” kata H. Sidik, salah seorang warga setempat.
Ia mengaku suasana seperti itu sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setiap kali Maulid tiba.
Bagi warga, semakin banyak tamu yang datang, semakin terasa pula semangat berbagi dan bersilaturahmi.
Seorang warga lainnya, Andi Rahman, mengatakan Maulid selalu menjadi momentum yang ditunggu-tunggu.
“Kalau sudah masuk bulan Maulid, suasananya memang berbeda. Rumah-rumah warga ramai. Kami senang kalau ada tamu datang, karena memang tujuan kita juga untuk berbagi,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Nurhayati, warga setempat.
Menurutnya, kedatangan warga dari Soppeng menjadi bukti bahwa tradisi Maulid di wilayah tersebut bukan hanya dinikmati masyarakat sekitar.
“Banyak yang datang dari luar. Ada yang bersama keluarga, ada juga yang memang ingin melihat suasana Maulid dan mencari male. Bagi kami, semakin banyak yang datang, semakin ramai dan semakin terasa berkahnya,” katanya.
Di tengah hiruk-pikuk itu, ada satu hal yang terasa kuat: keramahan.
Tidak ada tamu yang datang dengan tangan kosong tanpa disambut. Tidak ada pula tuan rumah yang terlihat enggan menerima kedatangan orang lain.
Semua melebur dalam suasana yang sama. Duduk bersama. Makan bersama. Bercerita bersama.
Anak-anak berlarian di sekitar rumah. Orang tua bercengkerama dengan kerabat.
Sementara para ibu sibuk memastikan hidangan untuk tamu tetap tersedia.
Sekilas, suasananya memang seperti hari raya. Namun hari itu bukan Lebaran.
Itulah Maulid, sebuah tradisi yang tidak hanya menghadirkan makanan dan kemeriahan, tetapi juga menghidupkan kembali semangat berbagi, bersedekah, menghormati tamu dan mempererat tali silaturahmi.
Dan ketika satu per satu tamu mulai berpamitan, tuan rumah kembali bersiap menyambut rombongan berikutnya.
Sebab, Maulid bukan sekadar satu hari untuk diperingati. Ia adalah tradisi yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Tradisi ketika rumah dibuka, tamu disambut, male dibagikan, dan berkah Maulid dirasakan bersama. kar


