SulawesiPos.com – Arab Saudi mengirim delegasi resmi tingkat tinggi yang dipimpin Wakil Menteri Luar Negeri Waleed Al-Khuraiji untuk menghadiri upacara penghormatan dan pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei di Teheran, Jumat (3/7/2026), sekaligus menyampaikan belasungkawa resmi dari Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud dan Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Mohammed bin Salman kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Kehadiran delegasi Saudi menjadi salah satu perkembangan diplomatik paling menonjol setelah hubungan kedua negara beberapa tahun terakhir diwarnai ketegangan geopolitik.
Al-Khuraiji menyerahkan langsung ucapan belasungkawa pimpinan Arab Saudi kepada Presiden Pezeshkian dalam upacara resmi yang digelar pemerintah Iran di Teheran.
Delegasi Saudi juga mengikuti prosesi penghormatan terakhir kepada jenazah Ali Khamenei bersama puluhan delegasi asing dan pejabat tinggi dari berbagai negara.
Media pemerintah Saudi menyebut kehadiran tersebut sebagai bentuk penghormatan diplomatik sekaligus penyampaian simpati resmi Kerajaan Arab Saudi kepada pemerintah dan rakyat Iran.
Sementara itu, media Iran menayangkan rekaman video yang memperlihatkan Al-Khuraiji memasuki aula penghormatan, memberikan penghormatan terakhir kepada jenazah Khamenei, serta menandatangani buku belasungkawa yang disediakan pemerintah Iran.
Duta Besar Arab Saudi untuk Iran juga tampak mendampingi rombongan resmi tersebut bersama jajaran diplomatik Kerajaan.
Isyarat Baru Diplomasi Riyadh–Teheran
Kehadiran delegasi Saudi menarik perhatian luas karena terjadi setelah hubungan kedua negara sempat kembali mengalami ketegangan akibat konflik bersenjata antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang memuncak pada awal 2026.
Dalam beberapa bulan sebelumnya, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud bahkan pernah meminta Iran untuk “menghitung ulang” strategi regionalnya setelah serangan berulang terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk yang turut meningkatkan kekhawatiran negara-negara Teluk mengenai stabilitas keamanan kawasan.
Meski demikian, keputusan Riyadh mengirim wakil menteri luar negeri menunjukkan bahwa saluran komunikasi diplomatik antara kedua negara tetap terbuka di tengah berbagai perbedaan kepentingan strategis.
Pengamat hubungan internasional menilai langkah tersebut mencerminkan pendekatan pragmatis kedua negara untuk menjaga stabilitas kawasan, terutama setelah normalisasi hubungan diplomatik yang dimediasi China pada 2023 berhasil membuka kembali hubungan resmi Riyadh dan Teheran.
Normalisasi tersebut menjadi salah satu tonggak penting politik Timur Tengah setelah lebih dari tujuh tahun hubungan diplomatik kedua negara terputus.
Puluhan Pemimpin Dunia Hadiri Prosesi Pemakaman
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan sedikitnya delapan kepala negara dan 12 ketua parlemen menghadiri rangkaian penghormatan kepada Ali Khamenei.
Selain Arab Saudi, sejumlah negara juga mengirimkan delegasi tingkat tinggi, di antaranya Pakistan, Tajikistan, Armenia, Irak, Turkmenistan, Belarus, Rusia, China, dan Turki.
Pakistan menjadi salah satu negara dengan delegasi paling lengkap yang dipimpin Perdana Menteri Shehbaz Sharif, didampingi Panglima Angkatan Darat Field Marshal Asim Munir, Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Mohammad Ishaq Dar, serta sejumlah pejabat senior lainnya.
Rusia mengirim Wakil Ketua Dewan Keamanan Dmitry Medvedev, sedangkan China diwakili Wakil Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional.
Turki turut mengirim Wakil Presiden sebagai representasi resmi pemerintah Ankara.
Media Iran juga menyoroti kehadiran bersamaan delegasi pemerintah Taliban Afghanistan dan sejumlah tokoh oposisi Afghanistan, termasuk Ahmad Massoud dan Mohammad Mohaqiq, sebagai momen yang jarang terjadi dalam satu forum internasional.
Makna Diplomatik bagi Stabilitas Kawasan
Keikutsertaan Arab Saudi dalam upacara penghormatan kepada Ali Khamenei dipandang sebagai sinyal bahwa diplomasi tetap menjadi instrumen utama penyelesaian perbedaan di Timur Tengah meskipun dinamika keamanan kawasan masih sangat kompleks.
Dalam praktik hubungan internasional, pengiriman delegasi resmi untuk menghadiri pemakaman kepala negara atau pemimpin nasional sering kali menjadi simbol penghormatan terhadap prinsip hubungan antarnegara sekaligus membuka ruang dialog baru di tengah situasi politik yang sensitif.
Bagi kawasan Timur Tengah yang selama beberapa dekade diwarnai rivalitas geopolitik, langkah diplomatik semacam ini menunjukkan bahwa komunikasi dan penghormatan terhadap norma diplomasi tetap memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas regional, mengurangi potensi eskalasi konflik, serta menciptakan peluang bagi kerja sama yang lebih konstruktif di masa mendatang. (Ali)


