Keseriusan itu memperoleh konteks tambahan dari rangkaian serangan terhadap sistem air Amerika Serikat yang dilaporkan sepanjang pertengahan 2026, meskipun atribusi negara atas seluruh insiden tersebut masih harus diperlakukan secara hati-hati.
CSIS pada 14 Agustus 2026 melaporkan bahwa serangkaian serangan terhadap sektor air telah berdampak pada sedikitnya 100 pemerintah kota di 12 negara bagian, sementara pemerintah AS pada saat itu belum secara resmi mengatribusikan keseluruhan kampanye tersebut kepada Iran.
Analisis lanjutan CSIS pada 18 Agustus menyebut lebih dari 30 sistem air di Minnesota termasuk di antara fasilitas yang menjadi sasaran, sementara CyberAv3ngers mengklaim bertanggung jawab atas beberapa serangan dan secara terbuka menyampaikan pesan agar Amerika Serikat “mundur”.
Meski demikian, para peneliti keamanan menekankan bahwa klaim kelompok peretas tidak otomatis menjadi bukti keterlibatan langsung suatu pemerintah karena atribusi serangan siber membutuhkan pemeriksaan terhadap malware, infrastruktur komando, pola operasi, data forensik, serta sumber intelijen lain.
Cyber War dan Pergeseran Isu Keamanan Internasional
Menurut Adi, perkembangan hubungan AS–Iran memperlihatkan pergeseran keamanan global dari ancaman tradisional menuju ancaman nontradisional yang batasnya semakin sulit dipisahkan.
“Konstelasi hubungan internasional telah bergeser dari perang fisik menuju perang digital atau cyber war, sehingga pencurian data, peretasan sistem intelijen, pembobolan komunikasi negara ataupun gangguan terhadap infrastruktur strategis dapat menjadi instrumen untuk mencapai kepentingan nasional,” katanya.
Dalam perspektif hubungan internasional, perang siber mempunyai karakter yang berbeda dari peperangan konvensional karena penyerang dapat beroperasi lintas wilayah tanpa harus mengirim pasukan melewati batas negara.
Seorang aktor siber bahkan dapat menggunakan komputer, server, infrastruktur digital, ataupun kelompok perantara yang berada di negara ketiga sehingga persoalan menentukan siapa pelaku sesungguhnya menjadi salah satu tantangan terbesar dalam diplomasi dan hukum internasional.
Karakter itu menjadikan dunia maya sebagai wilayah strategis baru yang berdampingan dengan darat, laut, udara, dan ruang angkasa dalam kompetisi kekuatan antarnegara.
Security Dilemma: Serangan dan Pertahanan Bisa Saling Memicu
Adi juga membaca ketegangan tersebut melalui konsep security dilemma, yakni keadaan ketika upaya sebuah negara meningkatkan keamanannya justru dipandang negara lain sebagai ancaman sehingga menghasilkan respons balasan dan perlombaan kemampuan pertahanan.
“Dalam logika security dilemma, ketika satu negara meningkatkan kemampuan ofensif ataupun defensifnya, pihak lain akan terdorong melakukan perimbangan karena tidak mempunyai kepastian mengenai maksud strategis lawannya,” katanya.
Dalam kerangka tersebut, kemampuan siber dapat menciptakan dilema yang bahkan lebih rumit dibanding senjata konvensional karena sebuah perangkat yang dibuat untuk pertahanan, pengawasan, penetrasi intelijen, atau pengujian keamanan dapat pula dimanfaatkan sebagai alat ofensif.
Adi menilai setiap negara pada prinsipnya memiliki hak mempertahankan keamanan nasionalnya, tetapi hak tersebut tetap harus dibatasi oleh hukum internasional, perlindungan terhadap warga sipil dan prinsip proporsionalitas agar kompetisi teknologi tidak berubah menjadi ancaman terhadap kemanusiaan.
“Masalahnya bukan semata siapa yang memiliki kemampuan siber lebih besar, tetapi bagaimana kemampuan itu digunakan, karena ketika infrastruktur sipil seperti air, rumah sakit, listrik, atau transportasi menjadi sasaran, persoalannya sudah menyentuh keselamatan manusia,” ujarnya.
Pembedaan antara sasaran militer dan sipil menjadi semakin penting sebab serangan terhadap sistem digital sebuah fasilitas publik dapat berakibat pada penghentian layanan penting tanpa satu pun tembakan dilepaskan.
CyberAv3ngers dan Pelajaran dari Infrastruktur Air
Ancaman tersebut telah terlihat sebelumnya ketika otoritas keamanan AS mengaitkan CyberAv3ngers dengan serangan terhadap perangkat programmable logic controller atau PLC yang digunakan dalam fasilitas air dan sektor infrastruktur lainnya.
CISA, FBI, NSA, EPA, dan sejumlah lembaga mitra pada pembaruan advisori mereka menjelaskan bahwa pelaku yang dikaitkan dengan IRGC pernah mengeksploitasi perangkat Unitronics yang terhubung ke internet dan menggunakan kata sandi bawaan atau bahkan tidak memiliki perlindungan kata sandi.
Dalam gelombang serangan antara November 2023 dan Januari 2024, setidaknya 75 perangkat di Amerika Serikat disebut berhasil dikompromikan, termasuk setidaknya 34 perangkat pada sektor air dan air limbah.

