SulawesiPos.com – Mantan PM Israel, Naftali Bennett, membuat pengakuan mengejutkan dalam JNS International Policy Summit di Yerusalem. Melansir laporan Euronews (23/6/2026), Bennett mengaku pernah memprakarsai operasi rahasia ke Iran.
Operasi tersebut berupa penyelundupan puluhan ribu perangkat internet satelit Starlink. Tujuannya adalah membantu kelompok oposisi Iran mengorganisasi protes guna menjatuhkan pemerintah setempat. Padahal, jaringan internet milik Elon Musk (SpaceX) ini tidak mengantongi izin resmi untuk beroperasi di Iran.
Namun, program rahasia tersebut tidak pernah selesai. Proyek ini resmi dihentikan oleh pemerintahan Perdana Menteri Israel saat ini, Benjamin Netanyahu.
Alasan pemberhentian itu karena; Pertama, risiko geopolitik yang tinggi. Mengirimkan teknologi ilegal secara massal ke negara musuh seperti Iran membawa risiko infiltrasi atau pembalasan militer yang besar jika ketahuan.
Kedua, keterlibatan Pihak Ketiga (SpaceX). Starlink adalah milik perusahaan swasta AS.
Menggunakannya untuk operasi intelijen tanpa izin berpotensi merusak hubungan diplomatik dengan Elon Musk atau pemerintah AS.
Pengakuan Langsung yang Mengguncang Kawasan
Bennett mengatakan dirinya telah memulai proses pembelian dan penyelundupan puluhan ribu penerima Starlink ke Iran agar akses internet dan media sosial tetap berjalan ketika terjadi gelombang demonstrasi.
Menurut Bennett, perangkat tersebut dirancang untuk memungkinkan para demonstran berkoordinasi secara lebih efektif dan memperkuat tekanan politik terhadap pemerintah Iran.
“Sayangnya pemerintah Israel saat ini yang tidak kompeten menghentikan program itu, dan ketika protes terjadi, infrastruktur tersebut belum tersedia,” kata Bennett dalam pernyataan yang dikutip berbagai media internasional.
Kantor Netanyahu tidak segera memberikan tanggapan atas pengakuan tersebut.
Dalam wawancara terpisah dengan The Times of Israel bulan ini, Bennett kembali menegaskan bahwa penyelundupan besar-besaran Starlink ke Iran merupakan salah satu agenda strategis yang ia dorong selama masa transisi pemerintahan.
Perang Siber dan Satelit dalam Bayang-Bayang Konflik Iran-Israel
Pengakuan Bennett memperkuat tuduhan lama Iran bahwa Israel tidak hanya melakukan operasi militer konvensional terhadap Iran, tetapi juga menjalankan perang teknologi, intelijen, siber, dan satelit untuk memengaruhi stabilitas internal negara tersebut.
Selama beberapa tahun terakhir, Iran berulang kali menuduh Israel melakukan operasi infiltrasi teknologi, serangan siber terhadap infrastruktur strategis, sabotase fasilitas nuklir, pembunuhan ilmuwan, hingga pemanfaatan teknologi satelit dan komunikasi canggih untuk mendukung operasi intelijen di dalam wilayah Iran.
Otoritas Iran sebelumnya juga menuduh Israel dan Amerika Serikat menyelundupkan perangkat Starlink guna melemahkan sistem keamanan nasional dan menghindari kontrol komunikasi yang diterapkan pemerintah.
Laporan The New York Times pada Januari 2026 menyebutkan bahwa ribuan terminal Starlink yang masuk secara ilegal telah digunakan oleh aktivis untuk mengirimkan foto dan video demonstrasi ke luar negeri ketika akses internet domestik dibatasi.
Sebagai respons, Iran dilaporkan menggunakan perangkat peperangan elektronik tingkat militer untuk mengganggu sinyal GPS yang menjadi salah satu fondasi operasional terminal Starlink.
Iran Perketat Hukum, Ancam Hukuman Mati
Setelah konflik bersenjata selama 12 hari antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, parlemen Iran mulai membahas rancangan undang-undang anti-spionase yang memperberat hukuman bagi pengguna perangkat internet satelit tanpa izin.
Rancangan aturan tersebut menetapkan hukuman penjara enam bulan hingga dua tahun bagi pengguna pribadi Starlink atau layanan internet satelit ilegal lainnya.
Hukuman mati juga diusulkan bagi individu yang terbukti menggunakan jaringan tersebut untuk kegiatan spionase atau tindakan yang dinilai mengancam keamanan negara.
Selama perang terakhir, aparat Iran meningkatkan operasi penindakan dengan menyita terminal Starlink, memblokir rekening bank, dan menahan sejumlah orang yang dituduh menggunakan atau memperjualbelikan akses layanan tersebut.
Pemerintah Iran menuduh sebagian pengguna memiliki hubungan dengan media asing serta terlibat dalam aktivitas yang dianggap mengancam keamanan nasional.
Starlink Menjadi Medan Perebutan Geopolitik Baru
Lembaga pemantau internet NetBlocks melaporkan bahwa selama salah satu periode pembatasan internet, konektivitas Iran sempat turun hingga sekitar satu persen dari tingkat normal sehingga jaringan satelit menjadi salah satu jalur utama untuk terhubung dengan internet global.
Pada Mei 2026, sumber yang mengetahui kasus tersebut mengatakan kepada Iran International bahwa seorang warga Teheran bernama Hesam Alaeddin meninggal dunia setelah ditahan terkait dugaan penggunaan perangkat Starlink.
Sementara itu, media Fars yang berafiliasi dengan Islamic Revolutionary Guard Corps melaporkan pada Juni 2026 bahwa Iran sedang mengkaji kemungkinan memasukkan infrastruktur terkait Starlink di Israel, Qatar, Yordania, Uni Emirat Arab, dan Oman ke dalam daftar target strategis baru.
Menurut laporan tersebut, kajian dilakukan setelah muncul dugaan bahwa militer Amerika Serikat dan Israel memanfaatkan infrastruktur yang dikelola perusahaan-perusahaan milik Elon Musk, termasuk Starlink, dalam operasi-operasi yang berkaitan dengan konflik regional.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa persaingan Iran-Israel kini tidak lagi terbatas pada rudal, drone, dan operasi militer langsung, melainkan telah meluas ke ranah penguasaan data, komunikasi satelit, internet global, dan teknologi ruang angkasa yang semakin menentukan arah konflik geopolitik abad ke-21. (Ali)


