SulawesiPos.com – Angkatan Laut Amerika Serikat dilaporkan sedang mempertimbangkan perubahan nama kapal induk bertenaga nuklir kelas Gerald R.
Ford bernomor lambung CVN-81 dari USS Doris Miller menjadi nama yang mungkin menghormati Presiden Donald Trump, melalui pembahasan internal Pentagon menjelang peletakan lunas kapal pada akhir 2026, meskipun pemerintah hingga 21 Agustus 2026 belum mengumumkan keputusan resmi.
CNN melaporkan rencana peninjauan nama tersebut berdasarkan keterangan tiga orang yang mengetahui pembahasan internal, sedangkan dua di antaranya menyebut kemungkinan penggunaan nama Trump telah dibicarakan di lingkungan Pentagon.

Karena belum ada pengumuman resmi, pemberian nama Trump masih merupakan kemungkinan yang sedang dipertimbangkan dan tidak boleh ditulis sebagai keputusan final Angkatan Laut Amerika Serikat.
Pentagon menyatakan belum mempunyai sesuatu untuk diumumkan, sementara pertanyaan mengenai persoalan itu diarahkan Angkatan Laut kepada Kantor Menteri Pertahanan.
Jika diwujudkan, keputusan tersebut akan menciptakan preseden karena belum pernah ada kapal induk Amerika Serikat yang dinamai untuk menghormati seorang presiden ketika tokoh bersangkutan masih aktif menjabat.
Kapal induk CVN-81 sebelumnya telah ditetapkan sebagai USS Doris Miller oleh Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut Thomas B. Modly dalam upacara peringatan Martin Luther King Jr. di Pearl Harbor pada 20 Januari 2020.
Penetapan tersebut juga berlangsung pada masa jabatan pertama Trump, sehingga kemungkinan pembatalannya pada masa jabatan kedua menimbulkan pertanyaan mengenai perubahan politik, simbolisme militer, dan cara pemerintah Amerika menafsirkan kembali sejarah nasionalnya.
Dalam komunikasi internal terbaru, Angkatan Laut dilaporkan mulai mengurangi penggunaan nama USS Doris Miller dan lebih sering menyebut kapal itu hanya dengan nomor lambungnya, CVN-81.
Doris Miller, Pelaut yang Melawan Musuh dan Diskriminasi
Doris “Dorie” Miller merupakan pelaut kulit hitam asal Waco, Texas, yang bergabung dengan Angkatan Laut Amerika Serikat pada 1939 ketika diskriminasi rasial membatasi sebagian besar personel kulit hitam pada pekerjaan pelayanan.
Saat Jepang menyerang Pearl Harbor pada 7 Desember 1941, Miller bertugas sebagai pelayan ruang makan di kapal tempur USS West Virginia, salah satu dari sedikit bidang pekerjaan yang ketika itu terbuka bagi pelaut kulit hitam.
Ketika bom dan torpedo menghantam armada Amerika, Miller membantu memindahkan komandan serta para pelaut yang terluka sebelum mengoperasikan senapan antipesawat meskipun tidak pernah memperoleh pelatihan formal untuk menggunakan senjata tersebut.
Ia terus menembaki pesawat Jepang hingga amunisinya habis, kemudian kembali menolong rekan-rekannya meninggalkan kapal yang sedang tenggelam.
Keberanian itu membuat Miller menjadi orang Afrika-Amerika pertama yang menerima Navy Cross, tanda jasa tertinggi kedua Angkatan Laut Amerika Serikat untuk keberanian dalam pertempuran.
Laksamana Chester W. Nimitz menyerahkan Navy Cross kepada Miller pada 1942, lalu Angkatan Laut mengikutsertakannya dalam kampanye obligasi perang sebagai salah satu pelaut kulit hitam pertama yang memperoleh pengakuan luas di hadapan publik Amerika.
Miller gugur pada 24 November 1943 ketika kapal induk pengawal USS Liscome Bay ditenggelamkan torpedo kapal selam Jepang dalam Pertempuran Makin di Pasifik.
Pemberian nama CVN-81 untuk menghormatinya dipandang bersejarah karena kapal tersebut akan menjadi kapal induk Amerika pertama yang memakai nama seorang Afrika-Amerika sekaligus anggota berpangkat tamtama, bukan presiden, laksamana, atau tokoh elite politik.
Thomas Modly ketika mengumumkan nama itu mengatakan bahwa Miller adalah putra seorang petani penggarap dan keturunan budak yang tidak memperoleh kesempatan setara, tetapi menolak didefinisikan oleh prasangka rasial yang mengelilinginya.
Nama Doris Miller juga dimaksudkan sebagai penghormatan kepada keberanian seluruh personel tamtama dari berbagai ras, agama, dan latar belakang yang kontribusinya sering tenggelam di balik ketenaran para komandan.
Keluarga Tidak Diberi Tahu
Thomas Bledsoe, cicit saudara Miller, mengatakan keluarganya belum diberi tahu mengenai kemungkinan perubahan nama kapal induk maupun pembahasan untuk memindahkan nama Miller kepada kapal Angkatan Laut lainnya.
Angkatan Laut dilaporkan berencana tetap mengabadikan Miller pada kapal berbeda sekaligus merekomendasikan pemberian Medal of Honor secara anumerta, yaitu penghargaan militer tertinggi Amerika Serikat.
Karena batas waktu pengajuan penghargaan telah lama berlalu, Kongres perlu memberikan kewenangan khusus sebelum Medal of Honor dapat diberikan, sedangkan persetujuan akhirnya juga akan melibatkan presiden.
Keluarga Miller telah bertahun-tahun memperjuangkan penghargaan tersebut dan menyambut positif rekomendasi baru itu, tetapi penggantian nama CVN-81 tetap berpotensi dipandang sebagai penurunan tingkat penghormatan terhadap warisan sang pahlawan.
Memindahkan nama Miller dari kapal induk strategis bernilai miliaran dolar ke kapal yang lebih kecil juga tidak serta-merta menghasilkan kehormatan simbolis yang setara.
Trump Mengubah Nama sekaligus Teknologi Kapal
Kontroversi penamaan berlangsung ketika Trump turut campur secara langsung dalam desain CVN-81 melalui memorandum keamanan nasional mengenai pembangunan kembali kekuatan maritim dan industri galangan kapal Amerika.
Memorandum Gedung Putih tertanggal 13 Agustus 2026 memerintahkan Pentagon menyusun rencana dalam waktu 60 hari untuk mengganti sistem peluncur pesawat elektromagnetik dan lift persenjataan canggih CVN-81 dengan teknologi berbasis uap dan hidraulis.
Dokumen tersebut menyebut kapal hanya sebagai CVN-81, bukan USS Doris Miller, sehingga semakin memperkuat spekulasi bahwa nama yang diumumkan secara resmi pada 2020 sedang ditinjau kembali.
Pendukung sistem uap menilai teknologi tersebut lebih teruji dan mudah dipahami, sedangkan para pengkritik memperingatkan bahwa perubahan terhadap kapal yang sudah memasuki proses pembangunan dapat meningkatkan biaya, menambah kebutuhan personel, mengacaukan desain, serta memperpanjang keterlambatan.
CVN-81 merupakan kapal keempat kelas Gerald R. Ford dan dijadwalkan baru diserahkan kepada Angkatan Laut pada Februari 2034, mundur dua tahun dari rencana sebelumnya akibat keterbatasan kapasitas pembangunan modul di galangan.
Pertarungan Identitas di Atas Geladak
Tradisi Angkatan Laut Amerika memang kerap menggunakan nama presiden untuk kapal induk, sebagaimana terlihat pada USS Abraham Lincoln, USS George Washington, USS Ronald Reagan, dan USS George H.W. Bush, tetapi seluruh tokoh tersebut tidak sedang menjabat ketika kapal bernama mereka mulai beroperasi.
Kapal induk Amerika juga tidak selalu memakai nama presiden karena USS Nimitz menghormati Laksamana Chester Nimitz, sedangkan USS Carl Vinson memakai nama anggota Kongres yang berperan besar dalam pembangunan kekuatan laut Amerika.
Karena itu, persoalan CVN-81 bukan sekadar pemilihan nama, melainkan pertarungan antara penghormatan terhadap keberanian seorang pelaut biasa dan keinginan mengabadikan kekuasaan seorang presiden yang masih menjabat.
Apabila nama Doris Miller benar-benar diganti dengan nama Trump, keputusan itu akan mengubah kapal induk dari monumen keberanian lintas ras menjadi simbol personalisasi kekuasaan politik dalam institusi militer.
Namun, sampai keputusan resmi diumumkan, CVN-81 secara historis dan administratif tetap dikenal sebagai kapal induk masa depan USS Doris Miller, sedangkan kabar penggunaan nama Trump harus tetap ditempatkan sebagai pembahasan internal yang belum final. (Ali)

