Trump Restui Pakta Makkah, Tiga Kekuatan Muslim Bangun Poros Pertahanan Baru Asia Barat

Arab Saudi tetap menjadi mitra pertahanan utama Washington dan menampung personel militer Amerika Serikat.

Turki merupakan anggota NATO sejak 1952, sedangkan Pakistan selama beberapa dekade menjalin kerja sama keamanan dengan Washington meskipun hubungan keduanya mengalami pasang surut.

Pembentukan poros pertahanan trilateral karena itu tidak serta-merta memutus hubungan ketiga negara dengan Amerika Serikat.

Pakta tersebut lebih tepat dibaca sebagai strategi diversifikasi untuk mengurangi ketergantungan kepada satu kekuatan eksternal.

Ujian Sesungguhnya Ada pada Pelaksanaan

Nilai strategis Perjanjian Makkah belum hanya ditentukan oleh besarnya deklarasi politik para pemimpin.

Keberhasilannya akan diukur melalui latihan gabungan, pertukaran intelijen, kesiapan pertahanan udara, koordinasi keamanan maritim, dan kemampuan merespons krisis tanpa memperbesar konflik.

Pakta tersebut juga perlu menjaga keseimbangan agar tidak dipersepsikan sebagai blok sektarian yang dapat mempertajam ketegangan Sunni–Syiah.

Komunikasi terbuka dengan Iran dan negara-negara tetangga tetap diperlukan untuk mencegah salah perhitungan militer.

Diplomasi, sistem peringatan dini, jalur komunikasi darurat, dan pengendalian persenjataan harus berjalan bersama penguatan kekuatan militer.

BACA JUGA:  Politikus Finlandia Serukan Keluar dari NATO demi Berdamai dengan Rusia

Perjanjian Makkah dapat menjadi fondasi baru arsitektur keamanan Asia Barat apabila benar-benar diarahkan untuk membangun daya tangkal, mencegah agresi, dan membuka jalan bagi penyelesaian konflik secara damai.

Pada akhirnya, pakta pertahanan yang kuat bukanlah pakta yang paling cepat membawa anggotanya ke medan perang, melainkan pakta yang paling efektif mencegah perang terjadi. (Ali)

Arab Saudi tetap menjadi mitra pertahanan utama Washington dan menampung personel militer Amerika Serikat.

Turki merupakan anggota NATO sejak 1952, sedangkan Pakistan selama beberapa dekade menjalin kerja sama keamanan dengan Washington meskipun hubungan keduanya mengalami pasang surut.

Pembentukan poros pertahanan trilateral karena itu tidak serta-merta memutus hubungan ketiga negara dengan Amerika Serikat.

Pakta tersebut lebih tepat dibaca sebagai strategi diversifikasi untuk mengurangi ketergantungan kepada satu kekuatan eksternal.

Ujian Sesungguhnya Ada pada Pelaksanaan

Nilai strategis Perjanjian Makkah belum hanya ditentukan oleh besarnya deklarasi politik para pemimpin.

Keberhasilannya akan diukur melalui latihan gabungan, pertukaran intelijen, kesiapan pertahanan udara, koordinasi keamanan maritim, dan kemampuan merespons krisis tanpa memperbesar konflik.

Pakta tersebut juga perlu menjaga keseimbangan agar tidak dipersepsikan sebagai blok sektarian yang dapat mempertajam ketegangan Sunni–Syiah.

Komunikasi terbuka dengan Iran dan negara-negara tetangga tetap diperlukan untuk mencegah salah perhitungan militer.

Diplomasi, sistem peringatan dini, jalur komunikasi darurat, dan pengendalian persenjataan harus berjalan bersama penguatan kekuatan militer.

BACA JUGA:  Airlangga Terkejut Tarif Global 10 Persen dari Trump, RI Tunggu Pengumuman Lanjutan dari Gedung Putih

Perjanjian Makkah dapat menjadi fondasi baru arsitektur keamanan Asia Barat apabila benar-benar diarahkan untuk membangun daya tangkal, mencegah agresi, dan membuka jalan bagi penyelesaian konflik secara damai.

Pada akhirnya, pakta pertahanan yang kuat bukanlah pakta yang paling cepat membawa anggotanya ke medan perang, melainkan pakta yang paling efektif mencegah perang terjadi. (Ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru