Polisi Selidiki Siswi SMA Tewas Tertemper KRL di Jurangmangu

SulawesiPos.com – Polisi masih menyelidiki insiden seorang siswi SMA berinisial AP yang meninggal dunia setelah tertemper kereta rel listrik di Stasiun Jurangmangu, Ciputat, Tangerang Selatan, pada Senin, 10 Agustus 2026 sore.

Keterangan awal saksi menyebut korban berada di area peron ketika KRL dari arah Tanah Abang memasuki stasiun, lalu terjatuh ke jalur sebelum akhirnya ditemukan mengalami luka di bagian kepala.

Kapolsek Ciputat Timur Kompol Bambang Askar Sodiq mengatakan penyidik masih mendalami penyebab pasti korban bisa jatuh ke rel.

Polsek Ciputat Timur sejauh ini sudah memeriksa tempat kejadian perkara, meminta keterangan sejumlah saksi, memeriksa kondisi korban, dan mengamankan barang-barang milik korban untuk kepentingan penyelidikan.

Menurut Bambang, petugas keamanan yang berada di sekitar lokasi menjadi saksi awal saat peristiwa itu terjadi.

“Petugas keamanan yang berada di sekitar lokasi kemudian melihat korban terjatuh ke jalur kereta,” kata Bambang dalam keterangannya, Selasa, 11 Agustus 2026.

BACA JUGA:  Tiket Tanpa Nomor Kursi, Penumpang KA Mandai-Garongkong Harus Berebut Tempat Duduk

Polisi juga meminta keterangan teman sekolah korban yang diketahui pulang bersama AP sebelum keduanya berpisah di area stasiun untuk menunggu kereta di titik berbeda.

“Saksi bersama korban diketahui pulang sekolah dan menuju Stasiun Jurangmangu. Saat berada di stasiun, keduanya kemudian berpisah untuk menunggu kereta di lokasi yang berbeda,” ucap Bambang.

Dari pemeriksaan awal di lokasi, korban ditemukan mengalami luka pada bagian kepala.

Namun, aparat belum menyimpulkan penyebab kematian dan masih menelusuri seluruh rangkaian kejadian sebelum korban tertemper KRL.

Sekolah Pastikan Tidak Ada Catatan Bullying

Di lingkungan sekolah, AP disebut dikenal hangat, mudah beradaptasi, dan tidak pernah tercatat memiliki persoalan akademik maupun sosial.

Pihak sekolah juga menegaskan belum menemukan indikasi perundungan yang berkaitan dengan korban.

“Insyaallah saya pastikan tidak pernah ada (masalah), mau itu bullying, mau itu tugas-tugas dan lainnya. Karena baru kelas X juga, anak-anak masih diberikan kenyamanan untuk beradaptasi di lingkungan sekolah,” ujar seorang perwakilan tenaga pendidik berinisial I saat ditemui di lokasi, Selasa, 11 Agustus 2026.

BACA JUGA:  AKP Pardiman Tak Jadi Tersangka Kasus Etomidate, tetapi Tetap Hadapi Sidang Etik

Salah satu kenangan yang membekas di mata sekolah terjadi setelah kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah.

Saat itu, korban sempat memberikan surat ucapan terima kasih dan doa yang ditulis tangan kepada gurunya.

Kerabat korban juga menggambarkan AP sebagai anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga penuh perhatian sejak kecil.

SulawesiPos.com – Polisi masih menyelidiki insiden seorang siswi SMA berinisial AP yang meninggal dunia setelah tertemper kereta rel listrik di Stasiun Jurangmangu, Ciputat, Tangerang Selatan, pada Senin, 10 Agustus 2026 sore.

Keterangan awal saksi menyebut korban berada di area peron ketika KRL dari arah Tanah Abang memasuki stasiun, lalu terjatuh ke jalur sebelum akhirnya ditemukan mengalami luka di bagian kepala.

Kapolsek Ciputat Timur Kompol Bambang Askar Sodiq mengatakan penyidik masih mendalami penyebab pasti korban bisa jatuh ke rel.

Polsek Ciputat Timur sejauh ini sudah memeriksa tempat kejadian perkara, meminta keterangan sejumlah saksi, memeriksa kondisi korban, dan mengamankan barang-barang milik korban untuk kepentingan penyelidikan.

Menurut Bambang, petugas keamanan yang berada di sekitar lokasi menjadi saksi awal saat peristiwa itu terjadi.

“Petugas keamanan yang berada di sekitar lokasi kemudian melihat korban terjatuh ke jalur kereta,” kata Bambang dalam keterangannya, Selasa, 11 Agustus 2026.

BACA JUGA:  AKP Pardiman Tak Jadi Tersangka Kasus Etomidate, tetapi Tetap Hadapi Sidang Etik

Polisi juga meminta keterangan teman sekolah korban yang diketahui pulang bersama AP sebelum keduanya berpisah di area stasiun untuk menunggu kereta di titik berbeda.

“Saksi bersama korban diketahui pulang sekolah dan menuju Stasiun Jurangmangu. Saat berada di stasiun, keduanya kemudian berpisah untuk menunggu kereta di lokasi yang berbeda,” ucap Bambang.

Dari pemeriksaan awal di lokasi, korban ditemukan mengalami luka pada bagian kepala.

Namun, aparat belum menyimpulkan penyebab kematian dan masih menelusuri seluruh rangkaian kejadian sebelum korban tertemper KRL.

Sekolah Pastikan Tidak Ada Catatan Bullying

Di lingkungan sekolah, AP disebut dikenal hangat, mudah beradaptasi, dan tidak pernah tercatat memiliki persoalan akademik maupun sosial.

Pihak sekolah juga menegaskan belum menemukan indikasi perundungan yang berkaitan dengan korban.

“Insyaallah saya pastikan tidak pernah ada (masalah), mau itu bullying, mau itu tugas-tugas dan lainnya. Karena baru kelas X juga, anak-anak masih diberikan kenyamanan untuk beradaptasi di lingkungan sekolah,” ujar seorang perwakilan tenaga pendidik berinisial I saat ditemui di lokasi, Selasa, 11 Agustus 2026.

BACA JUGA:  Tiket Tanpa Nomor Kursi, Penumpang KA Mandai-Garongkong Harus Berebut Tempat Duduk

Salah satu kenangan yang membekas di mata sekolah terjadi setelah kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah.

Saat itu, korban sempat memberikan surat ucapan terima kasih dan doa yang ditulis tangan kepada gurunya.

Kerabat korban juga menggambarkan AP sebagai anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga penuh perhatian sejak kecil.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru