Lebih dari 80 persen kontak tersebut dipantau setiap hari, tetapi konflik bersenjata, perpindahan penduduk, mobilitas perdagangan, permukiman terpencil, dan lemahnya fasilitas kesehatan menyulitkan petugas menjangkau seluruh rantai penularan.
Tedros menegaskan masyarakat harus ditempatkan di pusat penanggulangan karena pelacakan kontak, isolasi pasien, pemeriksaan dini, dan pemakaman aman tidak mungkin berhasil tanpa kepercayaan serta kepemimpinan komunitas setempat.
Ia juga meminta tenaga kesehatan memperoleh alat pelindung, pelatihan, dukungan psikologis, dan jaminan keselamatan karena infeksi terhadap petugas dapat melumpuhkan pelayanan sekaligus memperbesar ketakutan masyarakat untuk mendatangi fasilitas kesehatan.
Pemakaman yang aman dan bermartabat menjadi bagian penting respons karena tubuh orang yang meninggal akibat Ebola masih mengandung virus dalam konsentrasi tinggi dan dapat menularkannya kepada keluarga maupun petugas pemakaman.
Laboratorium Perbatasan dan Perlombaan Menemukan Vaksin
Republik Demokratik Kongo dan Uganda menempatkan laboratorium bergerak di Kasenyi, pesisir barat Danau Albert di Provinsi Ituri, untuk mempercepat diagnosis dan memperkuat pengawasan lintas batas di wilayah yang dihuni lebih dari 94.000 orang. WHO Afrika
Sebelum laboratorium itu beroperasi pada 23 Juli 2026, sampel harus dibawa sejauh 55 kilometer menuju Bunia melalui jalan buruk sehingga konfirmasi kasus dapat membutuhkan waktu sekitar lima jam, sedangkan pemeriksaan di Kasenyi kini mampu memberikan hasil dalam sekitar satu jam.
Unit tersebut dioperasikan sembilan tenaga laboratorium Kongo bersama mitra dari Uganda dan telah memeriksa lebih dari 20 sampel pada hari-hari awal pengoperasiannya.
Kapasitas diagnosis nasional juga meningkat dari hanya dua laboratorium pada awal wabah menjadi 18 laboratorium, sehingga kasus terduga dapat dikonfirmasi lebih cepat sebelum virus menjalar kepada keluarga dan masyarakat.
WHO menegaskan hingga kini belum tersedia vaksin ataupun obat berlisensi yang secara khusus terbukti aman dan efektif terhadap penyakit Ebola Bundibugyo, berbeda dengan vaksin Ervebo yang dikembangkan untuk Ebola virus atau varian Zaire. WHO—Vaksin Ebola
Karena belum ada terapi khusus, pemberian cairan, penggantian elektrolit, pengendalian gejala, penanganan infeksi penyerta, dan perawatan intensif sedini mungkin tetap menjadi cara utama meningkatkan peluang hidup pasien.
Penelitian terus dipercepat melalui uji klinis pengobatan eksperimental di Kongo, sementara vaksin kandidat berbasis teknologi mRNA mulai memasuki uji klinis tahap pertama untuk menilai keamanan, tolerabilitas, dan kemampuan memicu respons imun terhadap virus Bundibugyo. WHO

