SulawesiPos.com – Debu gurun sewarna tembaga melayang di udara, menempel pada tumit yang menebal. Seorang pria, satu di antara jutaan lainnya yang membelah rute sepi dari Najaf menuju Karbala, berjalan tanpa alas kaki.
Napasnya teratur, ditarik dan diembuskan dalam ritme yang menyatu dengan detak langkahnya di tanah kering. Sepanjang jalan, matanya hanya menatap deretan tenda kain dan kepak bendera.
Tidak ada raut keluh di wajahnya, meski suhu udara dan kerikil terus menguji telapak kakinya yang menebal.
Setiap langkah di rute 80 km ini bukanlah sekadar perpindahan fisik. Bagi jutaan peziarah, ini adalah reka ulang dari sebuah luka lama, empati sunyi atas penderitaan lebih seribu tahun silam.
Pria itu menepi di Mawkib, posko pelayanan cuma-cuma, menerima segelas teh hitam pekat yang mengepul dari relawan muda.
Di sini, makanan, tempat istirahat, dan perawatan diberikan cuma-cuma, meluruhkan kasta sosial dalam teater kemurahan hati yang lahir dari tragedi masa lalu.
20 Safar dalam kalender lunar menunjuk pada Arbain, hari yang menandai berakhirnya empat puluh hari masa berkabung. Mereka berjalan memanggul satu sumpah kuno.
Tahun 680 Masehi, Imam Husein, cucu Nabi Muhammad (SAW), gugur sebagai syahid di Karbala karena menolak menundukkan kepala dan bersumpah setia pada tirani, darahnya menjadi monumen keberanian dan pengorbanan tertinggi.
Kini, gelombang peziarah Muslim Syiah dari Irak, Iran, dan penjuru dunia merawat ingatan tersebut. Banyak yang rela berjalan kaki ratusan kilometer.
Namun, rombongan yang menembus debu tidak diisi oleh satu identitas; orang-orang dari berbagai keyakinan berjalan bersisian, meruntuhkan batas kultural, berbagi roti dan bahu, mempraktikkan dialog persatuan riil.

