Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan Tehran dan Muskat telah menyepakati koordinat geografis koridor pelayaran serta memasuki tahap akhir penyusunan pernyataan bersama, sebagaimana dikonfirmasi Reuters pada 5 Agustus 2026.
Namun, Reuters melaporkan bahwa kesepakatan koordinat belum menjamin pembukaan Selat Hormuz karena sejumlah persoalan, termasuk pemeriksaan kapal, keamanan jalur, pungutan jangka panjang, dan blokade Amerika terhadap pelabuhan Iran, masih diperdebatkan.
Diplomasi Senyap Lima Negara
Selain Oman sebagai perantara utama, pejabat Qatar, Pakistan, dan Arab Saudi turut menjalankan diplomasi intensif untuk mencegah pecahnya perang besar yang dapat mengguncang seluruh kawasan.
Gedung Putih juga terlibat aktif melalui sejumlah pembicaraan telepon antara utusan khusus Trump, Steve Witkoff, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, dan Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi.
Menurut dua sumber regional Axios, Araghchi menerima rancangan tersebut secara prinsip pada akhir pekan, tetapi pelaksanaannya masih memerlukan persetujuan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Seorang pejabat Amerika dan sumber regional kemudian menyatakan kepemimpinan Iran telah menyelesaikan proses persetujuannya pada Selasa, meskipun Tehran belum mengumumkan keputusan itu secara terbuka.
Kehati-hatian tetap diperlukan karena Gedung Putih, Oman, dan negara-negara mediator pernah mengira kesepakatan serupa telah tercapai tiga pekan sebelumnya, tetapi serangan terhadap kapal kembali terjadi dan memicu pertempuran selama dua minggu.
Hormuz Menentukan Denyut Ekonomi Dunia
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab serta dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia pada kondisi normal.
Penutupan atau gangguan pelayaran di kawasan tersebut dapat menaikkan harga minyak, gas, angkutan laut, premi asuransi, listrik, pangan, dan berbagai barang kebutuhan karena biaya energi memengaruhi hampir seluruh mata rantai produksi global.
Kesepakatan sementara selama 60 hari karena itu bukan sekadar pengaturan lalu lintas kapal, melainkan kesempatan untuk menghentikan spiral serangan, memulihkan gencatan senjata, dan membangun kepercayaan sebelum pembahasan perdamaian permanen.
Keberhasilannya juga dapat membuka kembali negosiasi nuklir dengan sasaran mencegah proliferasi senjata atom sekaligus menjamin pemanfaatan teknologi nuklir untuk tujuan damai sesuai pengawasan internasional.
Meski pengumuman ditargetkan pada Rabu, hari ini, kesepakatan baru dapat disebut sebagai terobosan bersejarah apabila ranjau benar-benar dibersihkan, blokade dilonggarkan, kapal kembali berlayar dengan aman, dan semua pihak konsisten menahan kekuatan militernya. (Ali)

