Selain Selat Hormuz, jalur pelayaran Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb juga menjadi perhatian setelah beberapa kapal tanker mengalami serangan yang meningkatkan biaya asuransi serta ongkos pengiriman energi dunia.
Laporan UK Maritime Trade Operations (UKMTO) mencatat sedikitnya tiga serangan baru terhadap kapal tanker sejak akhir pekan lalu meskipun dua kapal tanker Arab Saudi berhasil melintasi Bab el-Mandeb dengan aman.
Di sisi lain, kelompok OPEC+ menyetujui kenaikan kuota produksi sekitar 188 ribu barel per hari mulai September 2026 sebagai bagian dari normalisasi pemangkasan produksi sukarela.
Namun para analis menilai tambahan produksi tersebut belum akan memberikan dampak signifikan selama ketidakpastian geopolitik di kawasan Teluk masih berlangsung.
Harga Minyak Langsung Merosot Tajam
Pasar keuangan bereaksi cepat terhadap sinyal meredanya ketegangan geopolitik.
Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman September turun hingga kisaran US$83,4–83,9 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merosot ke kisaran US$79,7–80,8 per barel pada awal perdagangan Asia.
Penurunan tersebut mencapai sekitar 4,5 hingga hampir 6 persen dibandingkan penutupan sebelumnya, menghapus sebagian lonjakan harga yang terjadi sepanjang Juli ketika konflik Amerika Serikat dan Iran kembali memanas.
Sebelumnya kedua acuan minyak dunia sempat melonjak lebih dari 20 persen akibat kekhawatiran terganggunya pasokan energi dari Teluk Persia.
Para pelaku pasar menilai keberhasilan diplomasi akan membuka kembali jalur perdagangan melalui Selat Hormuz secara normal sehingga risiko kekurangan pasokan minyak dunia dapat berkurang secara signifikan.
Sebaliknya, kegagalan negosiasi diperkirakan akan kembali mendorong lonjakan harga energi apabila eskalasi militer kembali terjadi.
Diplomasi Masih Menjadi Jalan yang Paling Rasional
Sejumlah negara Arab, terutama Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, serta Oman, memainkan peran penting dalam mendorong deeskalasi konflik karena stabilitas kawasan Teluk sangat menentukan keamanan energi global.
Perundingan yang dimediasi Oman dipandang sebagai salah satu jalur diplomasi paling realistis mengingat negara tersebut selama bertahun-tahun dikenal sebagai mediator yang relatif diterima oleh Washington maupun Teheran.

