Presiden Perintahkan Swasembada Gula Dua Tahun, Mentan Amran Lakukan Langkah Ini

SulawesiPos.com – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memacu target swasembada gula putih nasional dalam dua tahun, seperti yang diperintahkan Presiden Prabowo Subianto, dengan menyiapkan serangkaian langkah dari hulu sampai hilir.

Langkah-langkah itu mulai dari percepatan bongkar ratoon, peremajaan kebun tebu rakyat, penyediaan benih unggul, mekanisasi, hingga revitalisasi pabrik gula dan penguatan tata niaga.Pemerintah menargetkanen

Langkah itu dikebut setelah target percepatan swasembada gula kembali ditegaskan pemerintah pada Juli 2026.

Mentan Amran menegaskan Kementerian Pertanian akan mengawal percepatan program peremajaan tebu nasional bersama pemerintah daerah, BUMN, dunia usaha, dan petani.

“Kami siap menjalankan arahan Bapak Presiden. Seluruh jajaran Kementerian Pertanian akan bekerja maksimal bersama pemerintah daerah, BUMN, dunia usaha, dan petani agar target swasembada gula dalam dua tahun dapat diwujudkan,” kata Mentan Amran.

Target itu dibangun di atas pembenahan besar pada komoditas gula nasional. Kementan mencatat produksi gula 2025 mencapai 2,67 juta ton, sementara pemerintah dalam peta jalan swasembada menargetkan produksi nasional 3 juta ton pada 2026 dan 3,27 juta ton pada 2027.

BACA JUGA:  Halalbihalal KKMB, Andi Amran Sulaiman Angkat Inspirasi Bangun Masjid-Kuatnya Didikan Sang Ibu

Program hulu dipercepat

Di sektor hulu, salah satu fokus utama ialah bongkar ratoon atau pembongkaran tanaman tebu tua yang dinilai sudah tidak produktif.

Kementan menyebut lebih dari 300 ribu hektare dari sekitar 500 ribu hektare lahan tebu nasional didominasi tanaman lama, sehingga menjadi penghambat kenaikan produksi dan rendemen.

Pemerintah karena itu menyiapkan program bongkar ratoon dengan target 100 ribu hektare per tahun selama tiga tahun, disertai dukungan anggaran pada 2025 dan berlanjut pada 2026.

Langkah ini dipadukan dengan peremajaan tebu rakyat, penataan varietas, pengaturan pola tanam, pendampingan teknis, penyediaan pupuk, serta penguatan sistem perbenihan nasional agar kebun petani memakai varietas unggul yang lebih produktif.

Kementan juga memasukkan pembangunan sistem irigasi pompa, bantuan alat dan mesin pertanian, serta penerapan teknologi peningkat rendemen ke dalam paket percepatan.

“Swasembada gula adalah keharusan. Pemerintah fokus meningkatkan produktivitas tebu, memperluas areal, menyediakan benih unggul, serta melakukan modernisasi industri gula,” ujar Mentan Amran dalam keterangan resmi sebelumnya.

BACA JUGA:  Pertemuan Mentan Amran dan Mentan Belarus, Terbuka Peluang Ekspor Sawit dan 120 Ribu Ton Kakao per Tahun

Perluasan areal tanam ikut menjadi bagian dari strategi. Selain mempertahankan sentra utama seperti Jawa Timur, Lampung, dan Jawa Tengah, pemerintah juga mendorong pengembangan kawasan tebu di provinsi lain seperti Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Hilir dan tata niaga ikut dibenahi

Pembenahan tidak berhenti di kebun. Pemerintah juga menyiapkan revitalisasi pabrik gula, termasuk peningkatan efisiensi melalui elektrifikasi, agar hasil tebu petani tidak berhenti pada kenaikan panen tetapi ikut mendorong kenaikan produksi gula nasional.

Di saat yang sama, Kementan menyoroti tata niaga gula yang dinilai masih bermasalah karena gula lokal kerap sulit terserap di tengah kebutuhan impor.

Karena itu, salah satu jurus yang disiapkan ialah pengendalian impor melalui kebijakan lartas, penguatan regulasi kemitraan antara petani dan pabrik gula, serta implementasi Cadangan Pangan Pemerintah atau CPP Gula.

Dukungan pembiayaan juga masuk dalam skema percepatan. Pemerintah sebelumnya menyiapkan KUR Khusus Tebu, menjaga harga gula petani, serta membuka akses pembiayaan agar petani bisa masuk ke fase peremajaan dan budidaya tanpa tekanan modal yang terlalu berat.

BACA JUGA:  Masyarakat Kampung Wanam Minta Cetak Sawah Ditambah, Mentan Amran: Ini Aspirasi Rakyat Papua

Dengan skema hulu-hilir itu, arah kebijakan Kementan bukan hanya mengejar kenaikan produksi, tetapi juga menekan ketergantungan pada impor gula konsumsi sembari menjaga posisi tawar petani tebu dalam rantai pasok nasional.**

SulawesiPos.com – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memacu target swasembada gula putih nasional dalam dua tahun, seperti yang diperintahkan Presiden Prabowo Subianto, dengan menyiapkan serangkaian langkah dari hulu sampai hilir.

Langkah-langkah itu mulai dari percepatan bongkar ratoon, peremajaan kebun tebu rakyat, penyediaan benih unggul, mekanisasi, hingga revitalisasi pabrik gula dan penguatan tata niaga.Pemerintah menargetkanen

Langkah itu dikebut setelah target percepatan swasembada gula kembali ditegaskan pemerintah pada Juli 2026.

Mentan Amran menegaskan Kementerian Pertanian akan mengawal percepatan program peremajaan tebu nasional bersama pemerintah daerah, BUMN, dunia usaha, dan petani.

“Kami siap menjalankan arahan Bapak Presiden. Seluruh jajaran Kementerian Pertanian akan bekerja maksimal bersama pemerintah daerah, BUMN, dunia usaha, dan petani agar target swasembada gula dalam dua tahun dapat diwujudkan,” kata Mentan Amran.

Target itu dibangun di atas pembenahan besar pada komoditas gula nasional. Kementan mencatat produksi gula 2025 mencapai 2,67 juta ton, sementara pemerintah dalam peta jalan swasembada menargetkan produksi nasional 3 juta ton pada 2026 dan 3,27 juta ton pada 2027.

BACA JUGA:  4.000 Petani Demo di Jakarta, Tuntut Feri Amsari Ditangkap dan Minta Maaf

Program hulu dipercepat

Di sektor hulu, salah satu fokus utama ialah bongkar ratoon atau pembongkaran tanaman tebu tua yang dinilai sudah tidak produktif.

Kementan menyebut lebih dari 300 ribu hektare dari sekitar 500 ribu hektare lahan tebu nasional didominasi tanaman lama, sehingga menjadi penghambat kenaikan produksi dan rendemen.

Pemerintah karena itu menyiapkan program bongkar ratoon dengan target 100 ribu hektare per tahun selama tiga tahun, disertai dukungan anggaran pada 2025 dan berlanjut pada 2026.

Langkah ini dipadukan dengan peremajaan tebu rakyat, penataan varietas, pengaturan pola tanam, pendampingan teknis, penyediaan pupuk, serta penguatan sistem perbenihan nasional agar kebun petani memakai varietas unggul yang lebih produktif.

Kementan juga memasukkan pembangunan sistem irigasi pompa, bantuan alat dan mesin pertanian, serta penerapan teknologi peningkat rendemen ke dalam paket percepatan.

“Swasembada gula adalah keharusan. Pemerintah fokus meningkatkan produktivitas tebu, memperluas areal, menyediakan benih unggul, serta melakukan modernisasi industri gula,” ujar Mentan Amran dalam keterangan resmi sebelumnya.

BACA JUGA:  Presiden Prabowo Targetkan Swasembada Gula Dua Tahun, Pesan ke Mentan Amran: Jangan Masuk Rumah Sakit

Perluasan areal tanam ikut menjadi bagian dari strategi. Selain mempertahankan sentra utama seperti Jawa Timur, Lampung, dan Jawa Tengah, pemerintah juga mendorong pengembangan kawasan tebu di provinsi lain seperti Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Hilir dan tata niaga ikut dibenahi

Pembenahan tidak berhenti di kebun. Pemerintah juga menyiapkan revitalisasi pabrik gula, termasuk peningkatan efisiensi melalui elektrifikasi, agar hasil tebu petani tidak berhenti pada kenaikan panen tetapi ikut mendorong kenaikan produksi gula nasional.

Di saat yang sama, Kementan menyoroti tata niaga gula yang dinilai masih bermasalah karena gula lokal kerap sulit terserap di tengah kebutuhan impor.

Karena itu, salah satu jurus yang disiapkan ialah pengendalian impor melalui kebijakan lartas, penguatan regulasi kemitraan antara petani dan pabrik gula, serta implementasi Cadangan Pangan Pemerintah atau CPP Gula.

Dukungan pembiayaan juga masuk dalam skema percepatan. Pemerintah sebelumnya menyiapkan KUR Khusus Tebu, menjaga harga gula petani, serta membuka akses pembiayaan agar petani bisa masuk ke fase peremajaan dan budidaya tanpa tekanan modal yang terlalu berat.

BACA JUGA:  Soroti Banjir Impor Gula Rafinasi, Wamentan Sudaryono Tegaskan Pengetatan Impor dan Penguatan Hilirisasi untuk Lindungi Petani Tebu

Dengan skema hulu-hilir itu, arah kebijakan Kementan bukan hanya mengejar kenaikan produksi, tetapi juga menekan ketergantungan pada impor gula konsumsi sembari menjaga posisi tawar petani tebu dalam rantai pasok nasional.**

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru