SulawesiPos.com – Kementerian Pertanian mempercepat program bongkar ratoon sebagai salah satu jurus utama mengejar swasembada gula nasional. Program ini bukan sekadar penanaman ulang biasa, melainkan pembongkaran tanaman tebu lama yang produktivitasnya sudah menurun untuk kemudian diremajakan memakai benih unggul, dukungan budidaya, dan pendampingan teknis.tan
Secara sederhana, ratoon adalah tanaman tebu yang tumbuh kembali dari sisa tunggul setelah panen dan kepras.
Dalam pedoman Kementan, bongkar ratoon adalah pelaksanaan budidaya tebu dengan membongkar tanaman yang telah dikepras lebih dari tiga kali atau secara ekonomis sudah tidak lagi menguntungkan.
Karena itu, program ini menyasar kebun-kebun tebu yang sudah tua, hasilnya turun, dan rendemennya tidak lagi optimal.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan langkah ini menjadi bagian penting dari percepatan produksi gula.
“Perintah Bapak Presiden jelas, swasembada gula putih paling lambat dua tahun. Karena itu tanaman ratoon yang sudah berumur 7 tahun, 12 tahun bahkan 15 tahun akan kita bongkar dan diremajakan. Anggarannya sudah kami siapkan,” kata Amran dalam rapat percepatan swasembada gula di Surabaya, Selasa, 22 Juli 2026.
Kementan menilai program ini mendesak karena sebagian besar tanaman tebu nasional sudah tidak produktif.
Pemerintah mencatat sekitar 70 sampai 80 persen tanaman tebu nasional perlu segera diremajakan agar hasil panen dan rendemen gula bisa naik.
Program hulu ini juga dipasang untuk menjawab kesenjangan antara produksi dan kebutuhan. Berdasarkan proyeksi 2026, produksi Gula Kristal Putih diperkirakan sekitar 3 juta ton, sedangkan kebutuhan gula nasional mencapai 6,7 juta ton yang terdiri atas gula konsumsi dan gula industri.
Pelaksanaan bongkar ratoon dimulai dari identifikasi lahan dan tanaman yang sudah tidak layak dipertahankan.
Kementan menyebut sasaran utamanya adalah lahan tebu dengan tanaman tua, hasil rendah, atau sudah berkali-kali dikepras sehingga biaya pemeliharaannya tidak lagi sebanding dengan hasil yang diterima petani.
Setelah tanaman lama dibongkar, lahan disiapkan kembali untuk ditanami benih tebu unggul.
Pemerintah Beri Bibit Gratis
Pemerintah menyiapkan dukungan berupa bibit gratis, pengolahan lahan, pupuk, modernisasi alat dan mesin pertanian, pembangunan irigasi pompa, serta penataan varietas dan pola tanam agar produktivitas kebun meningkat sejak musim tanam berikutnya.
Di lapangan, pelaksanaan program ini melibatkan kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN gula seperti PT Sinergi Gula Nusantara, pabrik gula swasta, dan kelompok petani tebu.
Skema ini juga diikuti pendataan Calon Petani Calon Lahan atau CPCL, agar bantuan tepat sasaran dan kebun yang diremajakan benar-benar masuk ke jalur produksi.
Pada 2025, Ditjen Perkebunan mengalokasikan pengembangan kawasan tebu lebih dari 100 ribu hektare yang mencakup bongkar ratoon dan perluasan lahan baru.
Sementara dalam percepatan terbaru, Kementan menyiapkan pembongkaran ratoon secara bertahap hingga sekitar 298 ribu hektare, dengan anggaran program bongkar ratoon sekitar Rp1,7 triliun.
Selain fokus pada kebun, pelaksanaan bongkar ratoon juga dihubungkan dengan pembenahan hilir.
Pemerintah menyiapkan revitalisasi pabrik gula, penguatan kemitraan antara petani dan pabrik, serta penertiban tata niaga agar saat produksi naik, gula petani tetap terserap pasar dengan harga yang lebih terjaga.
Bagi pemerintah, bongkar ratoon bukan hanya soal mengganti tanaman tua.
Program ini diposisikan sebagai pintu masuk untuk memperbarui struktur budidaya tebu nasional, memperbaiki rendemen, mengurangi beban petani, dan mempercepat target swasembada gula.

