BGN Luncurkan Aplikasi Pengawas MBG, 99 Persen Laporan Sebut Makanan Layak Konsumsi

SulawesiPos.com – Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah baru dalam memperkuat pengawasan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui pengembangan aplikasi Review Menu MBG atau Organoleptik.

Sistem ini dirancang untuk meningkatkan perhatian dan kewaspadaan para Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta mitra pelaksana agar kualitas makanan yang diterima masyarakat tetap terjaga.

Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya menjelaskan, sistem tersebut memungkinkan pengawasan dilakukan langsung oleh pihak penerima manfaat di lapangan.

“Saat paket MBG diterima, mereka dapat langsung memberikan penilaian terhadap kualitas makanan melalui sejumlah parameter yang telah disiapkan dalam sistem,” ujar Sony dikutip dari JawaPos, Senin (25/5/2026).

Pengguna aplikasi berasal dari Penanggung Jawab Kelompok Penerima Manfaat MBG, yakni guru yang ditunjuk pihak sekolah serta kepala posyandu (Kaposyandu).

Mereka diberikan akses untuk menilai berbagai aspek makanan yang diterima, mulai dari ketepatan waktu distribusi hingga kualitas makanan yang disajikan.

Parameter yang dinilai meliputi aroma makanan, rasa, variasi menu, serta kondisi makanan saat diterima.

BACA JUGA: 
Tak Hanya Anaknya, Ibu Ketua BEM UGM Juga Diteror Usai Tiyo Kritik MBG

Melalui sistem tersebut, evaluasi dapat dilakukan secara lebih cepat dan terukur.

Mayoritas Laporan Nilai Makanan Layak Dikonsumsi

Berdasarkan Dashboard Review Menu MBG hingga Sabtu, 23 Mei 2026 pukul 21.31 WIB, tercatat sebanyak 1.707 laporan telah masuk dari berbagai daerah.

Dari total laporan tersebut, sebanyak 1.705 laporan atau sekitar 99,88 persen menyebut makanan dalam kondisi layak konsumsi.

Sementara dua laporan lainnya menyatakan makanan tidak layak dikonsumsi.

Data juga menunjukkan ketepatan distribusi makanan mencapai 97,95 persen atau sebanyak 1.672 laporan menyatakan makanan diterima sesuai jadwal atau bahkan lebih cepat.

Adapun 35 laporan mencatat adanya keterlambatan distribusi.

Pada aspek kualitas sensorik, sebanyak 1.702 laporan atau sekitar 99,71 persen menilai aroma makanan layak.

Sedangkan dari tampilan makanan, sebanyak 1.697 laporan atau 99,41 persen menyatakan makanan berada dalam kondisi baik dan memenuhi standar.

Sementara pada aspek rasa, sebanyak 1.688 laporan atau sekitar 98,89 persen menyebut makanan memiliki rasa normal dan dapat diterima dengan baik.

BACA JUGA: 
Tindak Lanjuti Arahan Presiden, Bupati Bone Perintahkan MBG Serap Tenaga Kerja Warga Kurang Mampu

BGN Sebut Aplikasi Jadi Sistem Deteksi Dini

Sony mengatakan pengembangan aplikasi tersebut menjadi bagian dari sistem pengawasan yang dibangun untuk meminimalkan potensi masalah dalam pelaksanaan program MBG.

Menurutnya, pengawasan bukan hanya dilakukan secara internal, tetapi juga diperkuat melalui partisipasi penerima manfaat.

“Aplikasi ini dikembangkan agar penerima manfaat ikut terlibat dalam pengawasan kualitas MBG. Dengan demikian Ka SPPG dan seluruh mitra semakin serius menjaga kualitas makanan yang didistribusikan,” ujar Sony Sonjaya.

Ia menambahkan, pelibatan guru dan Kaposyandu diharapkan mampu meningkatkan akurasi pengawasan sekaligus menjadi sistem deteksi dini apabila ditemukan potensi persoalan pada distribusi maupun kualitas makanan.

SulawesiPos.com – Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah baru dalam memperkuat pengawasan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui pengembangan aplikasi Review Menu MBG atau Organoleptik.

Sistem ini dirancang untuk meningkatkan perhatian dan kewaspadaan para Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta mitra pelaksana agar kualitas makanan yang diterima masyarakat tetap terjaga.

Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya menjelaskan, sistem tersebut memungkinkan pengawasan dilakukan langsung oleh pihak penerima manfaat di lapangan.

“Saat paket MBG diterima, mereka dapat langsung memberikan penilaian terhadap kualitas makanan melalui sejumlah parameter yang telah disiapkan dalam sistem,” ujar Sony dikutip dari JawaPos, Senin (25/5/2026).

Pengguna aplikasi berasal dari Penanggung Jawab Kelompok Penerima Manfaat MBG, yakni guru yang ditunjuk pihak sekolah serta kepala posyandu (Kaposyandu).

Mereka diberikan akses untuk menilai berbagai aspek makanan yang diterima, mulai dari ketepatan waktu distribusi hingga kualitas makanan yang disajikan.

Parameter yang dinilai meliputi aroma makanan, rasa, variasi menu, serta kondisi makanan saat diterima.

BACA JUGA: 
Tak Hanya Anaknya, Ibu Ketua BEM UGM Juga Diteror Usai Tiyo Kritik MBG

Melalui sistem tersebut, evaluasi dapat dilakukan secara lebih cepat dan terukur.

Mayoritas Laporan Nilai Makanan Layak Dikonsumsi

Berdasarkan Dashboard Review Menu MBG hingga Sabtu, 23 Mei 2026 pukul 21.31 WIB, tercatat sebanyak 1.707 laporan telah masuk dari berbagai daerah.

Dari total laporan tersebut, sebanyak 1.705 laporan atau sekitar 99,88 persen menyebut makanan dalam kondisi layak konsumsi.

Sementara dua laporan lainnya menyatakan makanan tidak layak dikonsumsi.

Data juga menunjukkan ketepatan distribusi makanan mencapai 97,95 persen atau sebanyak 1.672 laporan menyatakan makanan diterima sesuai jadwal atau bahkan lebih cepat.

Adapun 35 laporan mencatat adanya keterlambatan distribusi.

Pada aspek kualitas sensorik, sebanyak 1.702 laporan atau sekitar 99,71 persen menilai aroma makanan layak.

Sedangkan dari tampilan makanan, sebanyak 1.697 laporan atau 99,41 persen menyatakan makanan berada dalam kondisi baik dan memenuhi standar.

Sementara pada aspek rasa, sebanyak 1.688 laporan atau sekitar 98,89 persen menyebut makanan memiliki rasa normal dan dapat diterima dengan baik.

BACA JUGA: 
Ekonom UI: MBG Picu Pertumbuhan Pertanian 5,33% dan Serap 1,4 Juta Tenaga Kerja

BGN Sebut Aplikasi Jadi Sistem Deteksi Dini

Sony mengatakan pengembangan aplikasi tersebut menjadi bagian dari sistem pengawasan yang dibangun untuk meminimalkan potensi masalah dalam pelaksanaan program MBG.

Menurutnya, pengawasan bukan hanya dilakukan secara internal, tetapi juga diperkuat melalui partisipasi penerima manfaat.

“Aplikasi ini dikembangkan agar penerima manfaat ikut terlibat dalam pengawasan kualitas MBG. Dengan demikian Ka SPPG dan seluruh mitra semakin serius menjaga kualitas makanan yang didistribusikan,” ujar Sony Sonjaya.

Ia menambahkan, pelibatan guru dan Kaposyandu diharapkan mampu meningkatkan akurasi pengawasan sekaligus menjadi sistem deteksi dini apabila ditemukan potensi persoalan pada distribusi maupun kualitas makanan.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru