IRGC Ancam Serang Basis AS jika Kapal Iran Diserang di Selat Hormuz

SulawesiPos.com – Islamic Revolutionary Guard Corps atau IRGC memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap tanker minyak maupun kapal komersial Iran akan dibalas dengan serangan besar-besaran terhadap kepentingan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Ancaman tersebut disampaikan Komando Angkatan Laut IRGC dalam pernyataan yang dikutip Kantor Berita Fars pada Sabtu (9/5/2026).

“Peringatan! Setiap agresi terhadap tanker minyak dan kapal komersial Iran akan dibalas dengan serangan besar-besaran terhadap salah satu pusat Amerika di wilayah tersebut dan kapal-kapal musuh,” demikian pernyataan IRGC.

Komandan Angkatan Udara IRGC, Majid Mousavi, juga menyatakan rudal dan drone Iran telah disiapkan dan tinggal menunggu perintah peluncuran.

“Rudal dan drone telah dikunci pada musuh,” ujarnya.

Inggris Kerahkan Kapal Perang ke Timur Tengah

Di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, Kementerian Pertahanan Inggris mengumumkan pengerahan kapal perang Angkatan Laut Kerajaan ke Timur Tengah.

HMS Dragon yang sebelumnya berada di Mediterania timur dekat Siprus disebut akan bersiaga untuk kemungkinan misi multinasional pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

BACA JUGA: 
Harga Minyak Global Turun 5–6% Usai Trump Umumkan Negosiasi dengan Iran

Menurut sejumlah media Inggris, kapal perang tersebut dipersiapkan untuk mendukung inisiatif maritim yang dipimpin Inggris dan Prancis.

Ketegangan regional meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Serangan itu memicu aksi balasan dari Teheran terhadap Israel dan sekutu AS di kawasan Teluk yang kemudian berdampak pada penutupan Selat Hormuz.

Gencatan senjata sempat diberlakukan pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Namun, pembicaraan lanjutan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan permanen.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu sambil membuka jalur diplomasi untuk penyelesaian konflik.

AS Tetap Lanjutkan Blokade Maritim Iran

Sejak 13 April, militer AS diketahui menjalankan blokade angkatan laut dengan menargetkan lalu lintas maritim Iran di Selat Hormuz.

Trump sebelumnya juga mengumumkan penghentian sementara operasi militer bertajuk Project Freedom yang ditujukan untuk memulihkan kebebasan navigasi pelayaran komersial di kawasan tersebut.

Meski demikian, pemerintah AS menegaskan blokade maritim terhadap Iran tetap diberlakukan penuh.

BACA JUGA: 
Konflik Iran vs AS Kian Memanas, Syahrul Aidi Minta Indonesia Tidak Memihak dan Mengutuk Penjajahan

SulawesiPos.com – Islamic Revolutionary Guard Corps atau IRGC memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap tanker minyak maupun kapal komersial Iran akan dibalas dengan serangan besar-besaran terhadap kepentingan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Ancaman tersebut disampaikan Komando Angkatan Laut IRGC dalam pernyataan yang dikutip Kantor Berita Fars pada Sabtu (9/5/2026).

“Peringatan! Setiap agresi terhadap tanker minyak dan kapal komersial Iran akan dibalas dengan serangan besar-besaran terhadap salah satu pusat Amerika di wilayah tersebut dan kapal-kapal musuh,” demikian pernyataan IRGC.

Komandan Angkatan Udara IRGC, Majid Mousavi, juga menyatakan rudal dan drone Iran telah disiapkan dan tinggal menunggu perintah peluncuran.

“Rudal dan drone telah dikunci pada musuh,” ujarnya.

Inggris Kerahkan Kapal Perang ke Timur Tengah

Di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, Kementerian Pertahanan Inggris mengumumkan pengerahan kapal perang Angkatan Laut Kerajaan ke Timur Tengah.

HMS Dragon yang sebelumnya berada di Mediterania timur dekat Siprus disebut akan bersiaga untuk kemungkinan misi multinasional pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

BACA JUGA: 
Trump Ancam Perluas Operasi Militer AS di Selat Hormuz jika Negosiasi Iran Gagal

Menurut sejumlah media Inggris, kapal perang tersebut dipersiapkan untuk mendukung inisiatif maritim yang dipimpin Inggris dan Prancis.

Ketegangan regional meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Serangan itu memicu aksi balasan dari Teheran terhadap Israel dan sekutu AS di kawasan Teluk yang kemudian berdampak pada penutupan Selat Hormuz.

Gencatan senjata sempat diberlakukan pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Namun, pembicaraan lanjutan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan permanen.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu sambil membuka jalur diplomasi untuk penyelesaian konflik.

AS Tetap Lanjutkan Blokade Maritim Iran

Sejak 13 April, militer AS diketahui menjalankan blokade angkatan laut dengan menargetkan lalu lintas maritim Iran di Selat Hormuz.

Trump sebelumnya juga mengumumkan penghentian sementara operasi militer bertajuk Project Freedom yang ditujukan untuk memulihkan kebebasan navigasi pelayaran komersial di kawasan tersebut.

Meski demikian, pemerintah AS menegaskan blokade maritim terhadap Iran tetap diberlakukan penuh.

BACA JUGA: 
Besar Potensi Amerika Serang Iran, Negara Teluk Cemas

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru