DPR Tegaskan Ketahanan Pangan Tak Bisa Setengah-setengah, Harus Terpadu!

SulawesiPos.com – Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto atau biasa dipanggil Titiek Soeharto menegaskan bahwa upaya menjaga ketahanan pangan nasional harus dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan.

Hal ini dinilai penting untuk menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari krisis pangan hingga dampak perubahan iklim.

Dalam agenda rapat kerja di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Selasa (7/4/2026), ia menekankan bahwa penguatan sistem pangan tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melibatkan berbagai sektor secara sinergis.

Sinergi Lintas Sektor Jadi Kunci

Menurut Titiek Soeharto, penguatan ketahanan pangan membutuhkan kerja sama erat antara berbagai lembaga strategis, seperti Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Badan Pangan Nasional.

Selain itu, peran BUMN pangan juga menjadi faktor krusial. Institusi seperti Perum Bulog dan ID Food dinilai memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di dalam negeri.

Ia menegaskan bahwa koordinasi lintas sektor ini harus diperkuat agar kebijakan pangan dapat berjalan efektif dan tepat sasaran.

BACA JUGA: 
Bulog: Realisasi Penyaluran Bantuan Pangan Capai 20 Persen

Penguatan Cadangan Pangan Jadi Prioritas

Salah satu fokus utama yang disoroti adalah pentingnya pengelolaan cadangan pangan pemerintah.

Menurutnya, cadangan pangan yang kuat menjadi benteng utama dalam menghadapi potensi gangguan pasokan akibat dinamika global maupun faktor domestik.

Cadangan pangan yang memadai akan membantu pemerintah menjaga stabilitas harga serta menjamin ketersediaan bahan pangan bagi masyarakat, terutama dalam situasi darurat atau krisis.

Ia juga menilai bahwa optimalisasi peran Bulog dan ID Food sebagai pengelola stok pangan nasional harus terus ditingkatkan guna memastikan distribusi berjalan lancar.

Antisipasi Krisis dan Gangguan Distribusi

Dalam pernyataannya, legislator dari Partai Gerindra tersebut menyoroti berbagai potensi risiko yang dapat mengganggu ketahanan pangan, seperti:

  • Krisis global
  • Perubahan iklim ekstrem
  • Gangguan distribusi dalam negeri

Oleh karena itu, strategi antisipatif harus disiapkan secara matang, termasuk melalui penguatan sistem logistik dan distribusi pangan.

Langkah ini dinilai penting agar pemerintah dapat merespons cepat setiap potensi gangguan yang muncul di lapangan.

BACA JUGA: 
Mentan Amran Lantik 55 Pejabat Baru, Tekankan Integritas dalam Mengemban Amanah

Dorongan Peningkatan Produksi Dalam Negeri

Selain memperkuat cadangan pangan, Komisi IV DPR RI juga mendorong peningkatan produksi pangan dalam negeri sebagai fondasi utama ketahanan pangan nasional.

Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai langkah strategis, antara lain:

  1. Penyediaan benih unggul
  2. Ketersediaan pupuk
  3. Penguatan jaringan irigasi
  4. Dukungan alat dan mesin pertanian (alsintan)

Pendekatan ini mencakup seluruh rantai produksi, mulai dari tahap prapanen hingga pascapanen, sehingga diharapkan mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan.

Apresiasi untuk Bulog dan BUMN Pangan

Titiek Soeharto juga memberikan apresiasi terhadap kinerja Perum Bulog dan BUMN Holding Pangan yang dinilai berhasil menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan nasional.

Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa peran BUMN pangan sangat vital dalam menjaga keseimbangan pasar dan melindungi daya beli masyarakat.

Strategi Terpadu Jadi Kunci Masa Depan Pangan RI

Ia menegaskan bahwa keberhasilan menjaga ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada satu aspek saja, melainkan harus dilakukan secara menyeluruh.

BACA JUGA: 
Presiden Prabowo Sebut Indonesia Kini Jadi Tumpuan Dunia, Surplus Pupuk dan Swasembada Pangan Perkuat Posisi Bangsa

“Upaya menjaga ketahanan pangan harus dilakukan secara terpadu, mulai dari peningkatan produksi, penguatan cadangan pangan, hingga stabilisasi distribusi dan harga pangan,” tegasnya.

Dengan strategi yang terintegrasi dan sinergi yang kuat antar lembaga, Indonesia diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan global serta memperkuat kemandirian pangan di masa depan.

SulawesiPos.com – Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto atau biasa dipanggil Titiek Soeharto menegaskan bahwa upaya menjaga ketahanan pangan nasional harus dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan.

Hal ini dinilai penting untuk menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari krisis pangan hingga dampak perubahan iklim.

Dalam agenda rapat kerja di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Selasa (7/4/2026), ia menekankan bahwa penguatan sistem pangan tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melibatkan berbagai sektor secara sinergis.

Sinergi Lintas Sektor Jadi Kunci

Menurut Titiek Soeharto, penguatan ketahanan pangan membutuhkan kerja sama erat antara berbagai lembaga strategis, seperti Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Badan Pangan Nasional.

Selain itu, peran BUMN pangan juga menjadi faktor krusial. Institusi seperti Perum Bulog dan ID Food dinilai memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di dalam negeri.

Ia menegaskan bahwa koordinasi lintas sektor ini harus diperkuat agar kebijakan pangan dapat berjalan efektif dan tepat sasaran.

BACA JUGA: 
Indonesia Siap Hadapi El Nino dengan Stok Pangan Tertinggi Sepanjang Sejarah

Penguatan Cadangan Pangan Jadi Prioritas

Salah satu fokus utama yang disoroti adalah pentingnya pengelolaan cadangan pangan pemerintah.

Menurutnya, cadangan pangan yang kuat menjadi benteng utama dalam menghadapi potensi gangguan pasokan akibat dinamika global maupun faktor domestik.

Cadangan pangan yang memadai akan membantu pemerintah menjaga stabilitas harga serta menjamin ketersediaan bahan pangan bagi masyarakat, terutama dalam situasi darurat atau krisis.

Ia juga menilai bahwa optimalisasi peran Bulog dan ID Food sebagai pengelola stok pangan nasional harus terus ditingkatkan guna memastikan distribusi berjalan lancar.

Antisipasi Krisis dan Gangguan Distribusi

Dalam pernyataannya, legislator dari Partai Gerindra tersebut menyoroti berbagai potensi risiko yang dapat mengganggu ketahanan pangan, seperti:

  • Krisis global
  • Perubahan iklim ekstrem
  • Gangguan distribusi dalam negeri

Oleh karena itu, strategi antisipatif harus disiapkan secara matang, termasuk melalui penguatan sistem logistik dan distribusi pangan.

Langkah ini dinilai penting agar pemerintah dapat merespons cepat setiap potensi gangguan yang muncul di lapangan.

BACA JUGA: 
Panen Lebih Awal di Kuningan Jadi Penyangga Pasokan Beras di Tengah Antisipasi El Nino

Dorongan Peningkatan Produksi Dalam Negeri

Selain memperkuat cadangan pangan, Komisi IV DPR RI juga mendorong peningkatan produksi pangan dalam negeri sebagai fondasi utama ketahanan pangan nasional.

Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai langkah strategis, antara lain:

  1. Penyediaan benih unggul
  2. Ketersediaan pupuk
  3. Penguatan jaringan irigasi
  4. Dukungan alat dan mesin pertanian (alsintan)

Pendekatan ini mencakup seluruh rantai produksi, mulai dari tahap prapanen hingga pascapanen, sehingga diharapkan mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan.

Apresiasi untuk Bulog dan BUMN Pangan

Titiek Soeharto juga memberikan apresiasi terhadap kinerja Perum Bulog dan BUMN Holding Pangan yang dinilai berhasil menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan nasional.

Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa peran BUMN pangan sangat vital dalam menjaga keseimbangan pasar dan melindungi daya beli masyarakat.

Strategi Terpadu Jadi Kunci Masa Depan Pangan RI

Ia menegaskan bahwa keberhasilan menjaga ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada satu aspek saja, melainkan harus dilakukan secara menyeluruh.

BACA JUGA: 
Dirut Bulog Bicara Kondisi Stok Beras Nasional di Tengah Ancaman Nyata El Nino

“Upaya menjaga ketahanan pangan harus dilakukan secara terpadu, mulai dari peningkatan produksi, penguatan cadangan pangan, hingga stabilisasi distribusi dan harga pangan,” tegasnya.

Dengan strategi yang terintegrasi dan sinergi yang kuat antar lembaga, Indonesia diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan global serta memperkuat kemandirian pangan di masa depan.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru