Lonjakan 66 Persen Ekspor Iran ke Afrika: Manuver Ekonomi Kontra-Hegemoni Menuju Blok Perdagangan Baru Global South

Pembangunan infrastruktur besar-besaran seperti pelabuhan laut dalam, jalan raya transnasional, rel kereta, pembangkit listrik, dan kawasan industri terpadu turut menciptakan peluang kontrak bernilai tinggi bagi perusahaan rekayasa teknik Iran yang terbiasa bekerja dalam kondisi pembiayaan terbatas.

Dominasi generasi muda Afrika yang diperkirakan lebih dari 60 persen penduduknya berusia di bawah 25 tahun memperluas permintaan terhadap obat-obatan generik, alat kesehatan, produk konsumsi murah, dan teknologi digital, sektor yang selama ini menjadi keunggulan kompetitif industri ringan Iran.

Negara-negara seperti Mesir, Aljazair, dan Tunisia tetap mempertahankan hubungan historis perdagangan, sementara pasar Sub-Sahara seperti Nigeria, Kenya, Tanzania, dan Afrika Selatan tumbuh cepat seiring urbanisasi dan integrasi ekonomi regional.

Direktur Jenderal Kantor Afrika pada Organisasi Pengembangan Perdagangan Iran, Mohammadreza Safari, menyebut nilai perdagangan dengan 39 negara Afrika dalam periode tersebut sebagai pertumbuhan tahunan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, didorong forum bisnis, pameran dagang, dan diplomasi ekonomi intensif.

BACA JUGA: 
Kapal Perang Iran IRIS Dena Tenggelam di Samudera Hindia, Puluhan Awak Dinyatakan Tewas

Teheran juga meniru strategi investasi infrastruktur ala Tiongkok dan jejaring kewirausahaan Turki untuk memperkuat penetrasi pasar, sembari memperluas penggunaan mata uang lokal dan mekanisme barter guna menghindari sistem pembayaran berbasis dolar.

Secara global, pola ini sejalan dengan tren “South–South Cooperation” di mana negara berkembang membangun jejaring dagang mandiri tanpa ketergantungan berlebihan pada pusat ekonomi Barat.

Bagi masyarakat internasional, konektivitas Iran–Afrika berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi, pupuk, bahan pangan, dan farmasi murah, sekaligus membuka koridor teknologi kesehatan yang lebih inklusif bagi negara berpendapatan rendah.

Dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, Agussalim Burhanuddin, S.IP., MIRAP., menilai lonjakan ini mencerminkan ketahanan ekonomi sekaligus keteguhan politik Iran dalam menghadapi tekanan sanksi Amerika Serikat dan sekutunya.

Agus salim
Agussalim Burhanuddin, S.IP., MIRAP., Dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Hasanuddin, menyoroti ketahanan ekonomi Iran dan munculnya kerja sama Selatan–Selatan sebagai strategi kontra-hegemoni dalam peta perdagangan global baru.

Menurutnya dalam wawancara bersama SulawesiPos.com, Senin (2/2/2026), ekspansi agresif ke Afrika dapat dibaca sebagai strategi kontra-hegemoni yang bertujuan mematahkan dominasi arsitektur ekonomi global yang selama ini dikendalikan negara-negara Barat.

BACA JUGA: 
"Locked and Loaded”: Ketika Bahasa Militer Trump Membuka Ancaman Intervensi atas Iran

Ia menjelaskan bahwa langkah tersebut bukan sekadar upaya bertahan hidup, melainkan proyek pembentukan blok ekonomi alternatif di luar orbit kekuatan hegemon dengan menjadikan Afrika sebagai mitra strategis berbasis populasi besar dan sumber daya melimpah.

Pembangunan infrastruktur besar-besaran seperti pelabuhan laut dalam, jalan raya transnasional, rel kereta, pembangkit listrik, dan kawasan industri terpadu turut menciptakan peluang kontrak bernilai tinggi bagi perusahaan rekayasa teknik Iran yang terbiasa bekerja dalam kondisi pembiayaan terbatas.

Dominasi generasi muda Afrika yang diperkirakan lebih dari 60 persen penduduknya berusia di bawah 25 tahun memperluas permintaan terhadap obat-obatan generik, alat kesehatan, produk konsumsi murah, dan teknologi digital, sektor yang selama ini menjadi keunggulan kompetitif industri ringan Iran.

Negara-negara seperti Mesir, Aljazair, dan Tunisia tetap mempertahankan hubungan historis perdagangan, sementara pasar Sub-Sahara seperti Nigeria, Kenya, Tanzania, dan Afrika Selatan tumbuh cepat seiring urbanisasi dan integrasi ekonomi regional.

Direktur Jenderal Kantor Afrika pada Organisasi Pengembangan Perdagangan Iran, Mohammadreza Safari, menyebut nilai perdagangan dengan 39 negara Afrika dalam periode tersebut sebagai pertumbuhan tahunan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, didorong forum bisnis, pameran dagang, dan diplomasi ekonomi intensif.

BACA JUGA: 
Pemerintah Akan Evakuasi Bertahap WNI dari Iran, 32 Orang Dipindahkan via Azerbaijan

Teheran juga meniru strategi investasi infrastruktur ala Tiongkok dan jejaring kewirausahaan Turki untuk memperkuat penetrasi pasar, sembari memperluas penggunaan mata uang lokal dan mekanisme barter guna menghindari sistem pembayaran berbasis dolar.

Secara global, pola ini sejalan dengan tren “South–South Cooperation” di mana negara berkembang membangun jejaring dagang mandiri tanpa ketergantungan berlebihan pada pusat ekonomi Barat.

Bagi masyarakat internasional, konektivitas Iran–Afrika berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi, pupuk, bahan pangan, dan farmasi murah, sekaligus membuka koridor teknologi kesehatan yang lebih inklusif bagi negara berpendapatan rendah.

Dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, Agussalim Burhanuddin, S.IP., MIRAP., menilai lonjakan ini mencerminkan ketahanan ekonomi sekaligus keteguhan politik Iran dalam menghadapi tekanan sanksi Amerika Serikat dan sekutunya.

Agus salim
Agussalim Burhanuddin, S.IP., MIRAP., Dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Hasanuddin, menyoroti ketahanan ekonomi Iran dan munculnya kerja sama Selatan–Selatan sebagai strategi kontra-hegemoni dalam peta perdagangan global baru.

Menurutnya dalam wawancara bersama SulawesiPos.com, Senin (2/2/2026), ekspansi agresif ke Afrika dapat dibaca sebagai strategi kontra-hegemoni yang bertujuan mematahkan dominasi arsitektur ekonomi global yang selama ini dikendalikan negara-negara Barat.

BACA JUGA: 
Khamenei Tantang AS: Iran Tegas Pertahankan Nuklir dan Kontrol Selat Hormuz

Ia menjelaskan bahwa langkah tersebut bukan sekadar upaya bertahan hidup, melainkan proyek pembentukan blok ekonomi alternatif di luar orbit kekuatan hegemon dengan menjadikan Afrika sebagai mitra strategis berbasis populasi besar dan sumber daya melimpah.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru