Khamenei Tantang AS: Iran Tegas Pertahankan Nuklir dan Kontrol Selat Hormuz

SulawesiPos.com — Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, melontarkan kritik tajam terhadap Amerika Serikat dalam pesan resmi yang disiarkan televisi pemerintah.

Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa Iran tidak akan mengorbankan kemampuan nuklir dan rudalnya meski mendapat tekanan dari Washington.

“Orang asing yang datang dari ribuan kilometer dengan keserakahan dan niat jahat tidak punya tempat di sana, kecuali di dasar perairannya (Teluk Persia),” ujarnya, dikutip dari JawaPos, Jumat (1/5/2026).

Khamenei juga menyinggung pentingnya Teluk Persia dan Selat Hormuz sebagai jalur vital energi global.

Ia menyebut Iran akan mempertahankan kontrol atas kawasan tersebut, yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

“Babak baru sedang terbuka untuk Teluk Persia dan Selat Hormuz,” katanya.

Namun, langkah Iran dinilai sejumlah negara sebagai pembatasan sepihak terhadap jalur internasional.

Dampak Langsung ke Harga Minyak

Ketegangan geopolitik ini langsung berdampak pada pasar energi global.

Harga minyak mentah Brent dilaporkan melonjak hingga USD 126 per barel, dipicu kekhawatiran terganggunya pasokan dari kawasan Timur Tengah.

BACA JUGA: 
Trump Unggah Foto Memegang Senjata di Truth Social Sambil Beri Ancaman ke Iran

Di sisi lain, kebijakan Presiden Donald Trump turut memperkeruh situasi.

Pemerintah AS mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk mempertahankan blokade pelabuhan Iran serta menggandeng sekutu untuk menekan Teheran membuka kembali jalur pelayaran.

Langkah ini juga ditujukan untuk melemahkan ekonomi Iran dan mendorong negosiasi ulang terkait program nuklir.

Nuklir Disebut Aset Nasional

Khamenei menegaskan bahwa program nuklir dan rudal balistik merupakan bagian dari aset strategis negara yang tidak akan dinegosiasikan.

“Sembilan puluh juta rakyat Iran menganggap seluruh kapasitas, dari nanoteknologi hingga nuklir dan rudal, sebagai aset nasional yang akan dilindungi,” tegasnya.

Iran sendiri selama ini menyatakan program nuklirnya bertujuan damai, meski pengayaan uranium telah mendekati tingkat senjata.

Di tengah ketegangan, Pakistan disebut masih memfasilitasi komunikasi tidak langsung antara Iran dan AS.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, menyatakan bahwa komunikasi langsung dapat membantu meredakan kebuntuan diplomatik.

SulawesiPos.com — Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, melontarkan kritik tajam terhadap Amerika Serikat dalam pesan resmi yang disiarkan televisi pemerintah.

Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa Iran tidak akan mengorbankan kemampuan nuklir dan rudalnya meski mendapat tekanan dari Washington.

“Orang asing yang datang dari ribuan kilometer dengan keserakahan dan niat jahat tidak punya tempat di sana, kecuali di dasar perairannya (Teluk Persia),” ujarnya, dikutip dari JawaPos, Jumat (1/5/2026).

Khamenei juga menyinggung pentingnya Teluk Persia dan Selat Hormuz sebagai jalur vital energi global.

Ia menyebut Iran akan mempertahankan kontrol atas kawasan tersebut, yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

“Babak baru sedang terbuka untuk Teluk Persia dan Selat Hormuz,” katanya.

Namun, langkah Iran dinilai sejumlah negara sebagai pembatasan sepihak terhadap jalur internasional.

Dampak Langsung ke Harga Minyak

Ketegangan geopolitik ini langsung berdampak pada pasar energi global.

Harga minyak mentah Brent dilaporkan melonjak hingga USD 126 per barel, dipicu kekhawatiran terganggunya pasokan dari kawasan Timur Tengah.

BACA JUGA: 
Sayed Ali Khamenei: Trump Juga Akan Tumbang seperti Firaun dan Namrud

Di sisi lain, kebijakan Presiden Donald Trump turut memperkeruh situasi.

Pemerintah AS mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk mempertahankan blokade pelabuhan Iran serta menggandeng sekutu untuk menekan Teheran membuka kembali jalur pelayaran.

Langkah ini juga ditujukan untuk melemahkan ekonomi Iran dan mendorong negosiasi ulang terkait program nuklir.

Nuklir Disebut Aset Nasional

Khamenei menegaskan bahwa program nuklir dan rudal balistik merupakan bagian dari aset strategis negara yang tidak akan dinegosiasikan.

“Sembilan puluh juta rakyat Iran menganggap seluruh kapasitas, dari nanoteknologi hingga nuklir dan rudal, sebagai aset nasional yang akan dilindungi,” tegasnya.

Iran sendiri selama ini menyatakan program nuklirnya bertujuan damai, meski pengayaan uranium telah mendekati tingkat senjata.

Di tengah ketegangan, Pakistan disebut masih memfasilitasi komunikasi tidak langsung antara Iran dan AS.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, menyatakan bahwa komunikasi langsung dapat membantu meredakan kebuntuan diplomatik.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru