SulawesiPos.com – Kualitas udara Makassar pada Minggu (4/09/2026) dan sejumlah wilayah Sulawesi Selatan memburuk dalam beberapa hari terakhir hingga terpantau berada pada kategori tidak sehat.
BMKG Wilayah IV Makassar mengaitkan kondisi tersebut dengan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masuk terbawa perubahan arah angin dari Kalimantan, Papua, dan Maluku.
Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar Asriani Idrus mengatakan pemantauan di Stasiun Klimatologi BMKG Maros menunjukkan kualitas udara berada pada rentang sedang hingga tidak sehat.
“Untuk masalah kualitas udara, kita amati dari beberapa hari terakhir di Staklim (Stasiun Klimatologi BMKG) di Maros terpantau dari batas sedang, hingga tidak sehat,” ujar Asriani di Makassar, Sabtu (3/10/2026).
Data yang dirujuk dari platform pemantau kualitas udara menunjukkan AQI Makassar sempat berada pada rentang 102 hingga 158, dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 55,7 mikrogram per meter kubik.
Angka tersebut merupakan pembacaan aplikasi yang dapat berubah mengikuti waktu dan lokasi pemantauan.
Dalam snapshot berbeda yang dikutip ANTARA sekitar pukul 10.25 Wita, konsentrasi PM2.5 Makassar tercatat 71 mikrogram per meter kubik dan masuk kategori tidak sehat.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan kualitas udara perlu dibaca berdasarkan waktu pembaruan serta sumber pemantau yang digunakan.
Asap Karhutla Terbawa Perubahan Angin
Asriani menjelaskan arah angin menjadi faktor penting yang menentukan masuk atau tidaknya asap karhutla ke Sulawesi Selatan.
Ketika angin bertiup dari timur, kondisi udara dapat lebih bersih, sedangkan perubahan arah angin dari barat berpotensi membawa asap dari Kalimantan.
“Kadang dia timuran, kalau timuran mungkin kembali bersih lagi. Tapi, ini agak turun indikatornya PM 2.5 (partikel udara 2,5 mikrometer). Kalau misalnya anginnya berubah haluannya dari barat, kemungkinan partikel asapnya ini akan masuk ke wilayah Sulsel,” tuturnya.
Menurut Asriani, asap dari Papua dan Maluku berpotensi terbawa ketika angin bergerak dari timur.
Sementara itu, asap dari Kalimantan dapat masuk ketika arah angin berubah dari barat.
“Jadi ada dua faktor. Kalau misalnya angin timuran bisa saja asap karhutla dari Papua, Maluku. Sedangkan, kalau tiba-tiba anginnya berubah haluan menjadi dari barat, kemungkinan yang dari (asap karhutla) Kalimantan masuk, karena lebih dekat,” paparnya.
Kondisi udara juga berlangsung bersamaan dengan suhu panas.
BMKG mencatat suhu di wilayah Sulawesi Selatan berada pada kisaran 30-35 derajat Celsius.
Warga Diminta Waspada
BMKG memperkirakan kualitas udara masih dapat berfluktuasi dalam beberapa hari ke depan.
Asriani mengatakan pemantauan menunjukkan kondisi asap masih cukup kuat di sejumlah wilayah.
“Kami masih dipantau terus dan memang mungkin beberapa hari ke depan masih sama (kualitas udara tidak sehat), karena kalau dilihat ini masih merah-merah sekali, masih kuat sekali,” tuturnya sembari menunjukkan peta pemantauan asap karhutla.
Pola pemantauan yang disampaikan dalam bahan laporan menunjukkan konsentrasi polusi cenderung meningkat sejak tengah malam hingga pagi menjelang siang, sekitar pukul 00.00-11.00 Wita.
Kondisi biasanya berangsur membaik pada siang hingga sore ketika arah angin dan sirkulasi udara berubah.
BMKG mengimbau masyarakat menggunakan masker dan pakaian yang tidak menyerap panas ketika beraktivitas di luar rumah.
Anak-anak, lansia, serta warga dengan gangguan pernapasan disarankan membatasi aktivitas luar ruangan ketika indeks kualitas udara kembali masuk kategori tidak sehat.


