SulawesiPos.com – Haji Badris Salam menjadi satu-satunya bakal calon Ketua DPD Realestat Indonesia (REI) Sulawesi Selatan yang mengembalikan berkas pencalonan hingga batas waktu Selasa (29/9/2026) pukul 24.00 Wita. Panitia Musyawarah Daerah (Musda) XV REI Sulsel selanjutnya memproses penetapan dan pengesahan Badris sebagai calon tunggal, sementara Musda tetap dijadwalkan pada 7 Oktober 2026 di Hotel Claro Makassar.
Status calon tunggal tersebut belum berarti Badris telah resmi terpilih sebagai ketua karena penetapan dan pengesahan masih menjadi bagian dari proses Musda. Panitia juga tetap menjalankan verifikasi pemilih, rangkaian pra-Musda, serta agenda organisasi sesuai jadwal dan ketentuan AD/ART REI.
Ketua Steering Committee (SC) Musda XV REI Sulsel Aldin Bulen mengatakan panitia akan memproses penetapan Badris sebagai calon tunggal.
“Kami akan memprosesnya untuk menetapkan dan mengesahkan Haji Badris Salam (HBS) sebagai calon tunggal,” ujar Aldin yang dihubungi SPos, Rabu (30/9/2026).
Pengembalian berkas dilakukan setelah Badris menyerahkan berkas pencalonan beserta kontribusi atau kandidat fee pada Senin (28/9/2026).
Hingga batas akhir yang ditetapkan panitia, hanya Badris yang mengembalikan berkas sebagai bakal calon Ketua DPD REI Sulsel periode mendatang.
Kondisi itu membuat tahapan Musda memasuki fase penetapan calon dan persiapan forum, bukan penghentian seluruh rangkaian kegiatan organisasi.
Musda Tetap Berjalan pada 7 Oktober
Ketua Panitia Musda XV REI Sulsel Asrul mengatakan agenda pra-Musda tetap dimatangkan meski hanya ada satu bakal calon ketua.
Rangkaian kegiatan tersebut mencakup pertandingan padel pada 4 Oktober 2026 dan turnamen golf bersama para pengembang.
“Insyaallah dari awal jadwal Musda REI tidak ada yang berubah, meski hanya satu calon yang akan maju menjadi ketua. Acara tetap terjadwal 7 Oktober 2026 di Hotel Claro Makassar. Segala persiapan telah berjalan maksimal. Bahkan informasinya dari DPP akan ikut hadir dalam menyemarakkan Musda ini,” kata Asrul.
Panitia juga menjadwalkan aksi penanaman pohon pada 6 Oktober 2026 dengan melibatkan pengurus REI Sulsel.
Penanaman pohon tersebut menjadi bagian dari agenda sosial yang disiapkan menjelang pelaksanaan Musda XV REI Sulsel.
Asrul memastikan jadwal Musda tidak berubah meski proses pencalonan hanya menyisakan satu nama yang mengembalikan berkas.
Dengan demikian, forum pada 7 Oktober tetap menjadi tahapan penting untuk menetapkan dan mengesahkan calon tunggal sesuai mekanisme organisasi.
Pemilih Wajib Daftar Ulang
Selain menyiapkan agenda kegiatan, panitia memproses pendaftaran ulang anggota REI Sulsel yang memiliki hak suara atau voter.
Pendaftaran ulang diwajibkan sebelum anggota mengikuti Musda sebagai bagian dari persiapan pemungutan suara sesuai AD/ART REI.
Anggota SC Musda REI Sulsel XV Simon Rahman mengatakan anggota yang tidak melakukan pendaftaran ulang sampai batas waktu yang ditentukan tidak dapat menggunakan hak suaranya.
Panitia juga melakukan verifikasi terhadap anggota yang telah menyelesaikan pendaftaran ulang.
Simon menyebut jumlah anggota yang tercatat dalam daftar pemilih mencapai sekitar 380 orang.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 258 anggota telah mendaftar ulang dan menjalani verifikasi oleh SC sesuai ketentuan AD/ART REI.
Proses verifikasi pemilih menjadi bagian dari persiapan forum agar anggota yang menggunakan hak suara tercatat sesuai ketentuan organisasi.
Musda XV DPD REI Sulsel dijadwalkan berlangsung pada 7 Oktober 2026 di Hotel Claro Makassar.
Panitia menyatakan forum tersebut tetap berjalan meski Badris Salam menjadi satu-satunya bakal calon yang mengembalikan berkas pencalonan.
Siapa Badris Salam?
Badris Salam lahir di Sinjai pada 28 Agustus 1975 dan menghabiskan masa kecil di Dusun Bulu-bulu, Desa Bulu Tellue, Kecamatan Bulupoddo.
Riwayat pendidikan formal Badris tidak dirinci dalam sumber terbuka yang digunakan untuk menyusun profil ini. Perjalanan yang paling banyak tercatat justru pengalaman praktisnya di bidang konstruksi dan pengembangan perumahan.
Badris masuk ke dunia konstruksi setelah mengikuti pamannya yang bekerja sebagai kontraktor di Makassar.
“Awalnya itu kami ikut sama paman. Paman di Makassar ini memang dulu kontraktor. Sehingga kami ikut juga sama beliau,” kata Badris.
Dari pekerjaan tersebut, ia belajar secara bertahap sebagai buruh bangunan, tukang, mandor, hingga subkontraktor.
Pengalaman di lapangan membuat Badris memahami pekerjaan konstruksi dari sisi teknis, pengelolaan tenaga kerja, kebutuhan material, hingga pengawasan proyek.
Sekitar 2004, ia pernah menjadi mandor dalam pekerjaan di Masjid Raya Makassar.
Pengalaman itu menjadi bekal ketika Badris mulai beralih dari pekerja konstruksi menjadi pelaku usaha properti.
Ia mulai masuk ke bisnis developer pada 2007, lalu mendirikan PT Bumi Pundi Karsa pada 2013.
Pada fase awal, Badris mengembangkan usaha dengan modal terbatas dan memilih bekerja sama dengan pemilik lahan.
Salah satu kerja sama dilakukan dengan pengusaha bernama Jefry yang memiliki lahan di kawasan Sudiang, Jalan Goa Ria, Makassar.
Dalam pola tersebut, pemilik lahan menyediakan tanah, sedangkan Badris menyiapkan kemampuan dan biaya pembangunan.
“Kami hanya kerja sama. Mereka punya lahan, kami punya bangunan. Setelah kita bangun, kami jual. Diberikan haknya untuk lahan, saya ambil untuk bangunannya, profit dibagi sekian persen,” ujarnya.
Modal dari proyek itu kemudian diputar untuk mengembangkan lahan sekitar dua hektare di Barombong.
Proyek tersebut berjalan hingga proses Kredit Pemilikan Rumah mulai dilakukan dan menjadi salah satu pijakan bagi Badris untuk memperluas bisnis.
Dua Tahun Tanpa Pemasukan di Sinjai
Perjalanan usaha Badris tidak selalu berjalan mulus.
Sekitar 2012, ia membeli lahan seluas 12 hektare di Sinjai dan membangun rumah komersial dengan perkiraan pasar akan bergerak seperti Makassar.
Perkiraan tersebut tidak berjalan sesuai harapan karena rumah yang telah dibangun tidak terjual dengan cepat.
Modal tertahan, sementara arus pendapatan dari proyek itu terhenti.
“Kami sudah bangun tapi tidak bisa terjual dengan lancar seperti di Makassar. Di situlah kami kekurangan biaya,” ungkapnya.
Badris mengaku selama sekitar dua tahun tidak memperoleh pemasukan dari proyek tersebut, meski biaya pembebasan lahan telah dikeluarkan.
“Saat itu kami dua tahun tidak pernah ada pemasukan. Padahal kita sudah keluarkan biaya untuk pembebasan lahan. Jadi kita kembali nol lagi,” katanya.
Titik balik datang melalui tawaran Bank BTN Syariah agar kawasan tersebut dialihkan dari rumah komersial menjadi perumahan subsidi.
“Alhamdulillah dengan ada penyampaian dari Bank BTN Syariah di waktu itu, bagaimana kalau Bapak mengalihkan lokasinya menjadi rumah subsidi. Nah, di situlah kami mulai awalnya untuk menjalankan rumah subsidi,” kata Badris.
Badris kemudian menyiapkan sekitar 100 unit rumah.
Sebanyak 20 unit pertama yang telah selesai diproses melalui skema KPR subsidi setelah kerja sama dengan perbankan berjalan.
Masuknya pembiayaan KPR membuat arus dana kembali bergerak dan bisnis Badris perlahan bangkit.
Bisnis Rumah Subsidi dan Organisasi
Keberhasilan proyek Sinjai menjadi pijakan untuk memperluas pengembangan perumahan ke Bone, Bulukumba, Bantaeng, Maros, Gowa, hingga Palopo.
Badris kemudian mengembangkan rumah subsidi sekaligus rumah komersial, antara lain di kawasan belakang Kantor Gubernur Sulsel, BTP Makassar, dan Gowa.
“Jadi bukan kita ini hanya rumah subsidi. Tentunya rumah komersil juga ada. Kalau dirata-ratakan, subsidi mungkin 70 persen, 30 persen yang komersil,” ucapnya.
Selain mengelola bisnis, Badris aktif dalam organisasi pengembang dan komunitas.
Ia tercatat sebagai anggota Badan Pertimbangan Organisasi Daerah REI Sulsel sejak 2023 dan pernah menjadi bendahara JK Owners Celebes pada periode 2022–2024.
Pada Desember 2024, Badris terpilih sebagai Ketua Umum JK Owners Celebes periode 2024–2027.
Pengalaman tersebut memperluas perannya dari pengelolaan perusahaan ke kepemimpinan organisasi dan jejaring komunitas.
Badris merangkum pegangan dalam membangun usaha melalui kerja keras, jaringan, dan keikhlasan.
“Keberhasilan yang kami capai karena pertama kerja keras. Kedua, kita perbanyak jaringan. Ketiga, kita ikhlas,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya bekerja secara cerdas dalam menghadapi proses panjang bisnis.
“Karena dengan adanya keikhlasan, tentu itu semua yang mendapatkan kita bisa bagaimana kesuksesan kita. Dan selalu kita kerja dengan cerdas,” jelasnya.
Daftar Ketua REI Sulsel
Berikut daftar periode Ketua DPD REI Sulsel yang tercantum dalam arsip publik:
• Ir H AM Yusran Paris — periode 1999–2002.
• H Andi Idris Manggabarani — periode 2002–2005 dan 2005–2008.
• H Andi Jamaluddin Jafar — periode 2008–2011.
• Ir H M Arief Mone — periode 2014–2017.
• M Sadiq — periode 2017–2020 dan 2020–2023.
• Mahmud Lambang — periode 2023–2026.


