Karebosi Tempo Dulu: Dari Lapangan Bola, Tukang Obat, hingga Kenangan Masa Kecil

SulawesiPos.com – Bagi orang Makassar, Lapangan Karebosi bukan sekadar hamparan tanah seluas 11 hektare di tengah kota. Berada persis di titik nol kilometer dan dikepung Jalan Ahmad Yani, Kajaolalido, RA Kartini, serta Jenderal Sudirman, kawasan ini adalah detak jantung yang merekam denyut hidup Kota Daeng dari zaman ke zaman.

Namanya sendiri berasal dari kata Kanro dan Bosi, doa singkat penuh syukur yang berarti berkah hujan. Jauh pada abad ke-13, tanah ini adalah petak-petak sawah subur milik Kerajaan Gowa yang menghidupi warga sebelum Makassar menjelma jadi bandar dagang dunia.

Wajahnya lantas berganti saat Belanda datang dan menamainya Koningsplein alias Lapangan Raja, tempat serdadu kolonial berbaris, bermain bola, hingga menggelar pasar malam. Riwayat baris-berbaris militer itu sempat berlanjut di tangan tentara Jepang, sebelum akhirnya resmi menjadi alun-alun kebanggaan setelah Indonesia merdeka.

Bicara soal masa keemasan Karebosi, ingatan warga lokal langsung melayang ke era 1990-an hingga awal 2000-an. Suasananya begitu hidup dan merakyat. Dari pagi buta hingga malam hari, lapangan ini nyaris tidak pernah tidur. Pagi dibuka dengan derap langkah para pelari dan ibu-ibu senam, lalu sorenya giliran bola kulit yang bergulir.

BACA JUGA:  Jadwal SulawesiPos Pentas Padel Week 5: Round 13 di Beach Padel Club, YSL dan Boho Buru Poin

Di sinilah talenta hebat lahir lewat Makassar Football School (MFS) asuhan Diza Ali, wadah awal pemain legendaris seperti Syamsul Chaeruddin dan Rasyid Bakri mengasah kemampuan.

“Hampir tiap sore saya sama kawan-kawan kayuh sepeda dari rumah cuma buat main bola di Karebosi atau nonton PSM latihan,” kenang Hendra Gogo, warga Jalan Yos Sudarso, tersenyum getir mengenang cita-citanya menjadi pesepak bola profesional yang kandas di tengah jalan.

“Waktu itu suporter sudah kumpul tunggu bus pemain datang, baru pulang pas pemain selesai latihan.”

Karebosi tempo dulu juga menjadi panggung hiburan rakyat yang magis. Di bawah pohon trembesi tua yang rindang, bapak-bapak khusyuk beradu taktik di atas papan catur, sementara aroma coto, konro, dan sop saudara menguar dari deretan gerobak dekat patung Ramang. Belum lagi hiruk-pikuk penjual obat kaki lima yang selalu sukses menyedot kerumunan.

“Zaman SMP dulu, kadang kalau bolos saya melipir ke Karebosi cuma buat nonton tukang obat pamer atraksi kebal senjata, bawa buaya, sampai ular piton,” tutur Anwar Tilba, pria 60 tahun asal Jalan Kakaktua.

Baginya, Karebosi adalah nostalgia masa kecil yang lekat dengan tawa.

BACA JUGA:  Komplotan Pembobol Rumah di Makassar Ditangkap, Gasak Gitar Listrik hingga Sepeda

“Paling seru kalau sudah masuk Agustus, ada pasar malam sama sirkus keliling. Nontonnya bareng orang tua, ramainya minta ampun,” tambah Anwar.

Sayangnya, memasuki pertengahan 2000-an, ruang publik ini mulai kedodoran. Kontur tanahnya yang amblas hingga 80 sentimeter di bawah bibir jalan membuat Karebosi langganan tenggelam tiap puncak musim hujan. Limpasan air dan saluran drainase yang mampet mengubah lapangan hijau ini menjadi kubangan raksasa mirip danau.

Melihat kondisi tersebut, Wali Kota Ilham Arief Sirajuddin pada 2006 memutuskan membenahi Karebosi secara total. Karena anggaran kota terbatas, proyek revitalisasi digarap bersama pihak swasta lewat sayembara rancang bangun.

Tanahnya diuruk dan ditinggikan hingga satu meter dari jalanan, sementara bagian perut buminya disulap menjadi pusat perbelanjaan bawah tanah dan area parkir.

Perubahan besar itu sempat memicu gelombang protes panjang. Mahasiswa, aktivis, hingga tokoh adat turun ke jalan menentang komersialisasi ruang terbuka ini, yang sempat berujung pada robohnya pagar proyek dan sengketa di meja hijau. Namun, pengadilan akhirnya memutuskan proyek tetap berjalan demi kemaslahatan kota.

Rampung pada pertengahan 2009, wajah baru Karebosi resmi menyapa warga. Tiga lapangan bola di sisi selatan dikembalikan ke masyarakat lewat pengelolaan dinas terkait untuk olahraga dan acara keagamaan, berdampingan dengan area komersial di bawahnya.

BACA JUGA:  Jalan H.M. Dg Patompo: Jejak Wali Kota Makassar dan Lahirnya Nama Metro Tanjung Bunga

Namun, seiring bertumbuhnya bisnis jual beli online, sekitar tahun 2017-2019, dengan munculnya beberapa E-Commerce dan Marketplace seperti Tokopedia, Shopee, Lazada, dan Blibli, pusat pertokoan bawah tanah Karebosi Link mulai berangsur menurun jumlahnya.

Usai dihantam gelombang disrupsi online, mall Karebosi Link dan mall yang terkoneksi dari Karebosi, Makassar Trade Center (MTC), kembali dihajar gelombang pandemi Covid-19 dan Social Commerce (Live Streaming Shop), hingga akhirnya pusat pertokoan ini tutup pada tahun 2025 lalu.

Selain pusat pertokoannya tutup, tiga lapangan bola juga dalam kondisi terbengkalai usai proyek revitalisasi lapangan mangkrak sejak tahun 2024 lalu.

Yang berfungsi saat ini hanya lapangan dan tribun upacara yang sering digunakan sebagai pusat kegiatan pemerintahan dan kegiatan eksibisi komersil lainnya. Di sisi timurnya, masih eksis beberapa resto cepat saji, seperti Mi Gacoan dan Mc Donald.

Kini, di era Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, sedang menyusun rencana untuk mengembalikan fungsi Karebosi menjadi pusat aktivitas warganya, sekaligus mengembalikan fungsinya sebagai paru-paru Kota Makassar dengan kehadiran ruang terbuka hijau di Karebosi.

SulawesiPos.com – Bagi orang Makassar, Lapangan Karebosi bukan sekadar hamparan tanah seluas 11 hektare di tengah kota. Berada persis di titik nol kilometer dan dikepung Jalan Ahmad Yani, Kajaolalido, RA Kartini, serta Jenderal Sudirman, kawasan ini adalah detak jantung yang merekam denyut hidup Kota Daeng dari zaman ke zaman.

Namanya sendiri berasal dari kata Kanro dan Bosi, doa singkat penuh syukur yang berarti berkah hujan. Jauh pada abad ke-13, tanah ini adalah petak-petak sawah subur milik Kerajaan Gowa yang menghidupi warga sebelum Makassar menjelma jadi bandar dagang dunia.

Wajahnya lantas berganti saat Belanda datang dan menamainya Koningsplein alias Lapangan Raja, tempat serdadu kolonial berbaris, bermain bola, hingga menggelar pasar malam. Riwayat baris-berbaris militer itu sempat berlanjut di tangan tentara Jepang, sebelum akhirnya resmi menjadi alun-alun kebanggaan setelah Indonesia merdeka.

Bicara soal masa keemasan Karebosi, ingatan warga lokal langsung melayang ke era 1990-an hingga awal 2000-an. Suasananya begitu hidup dan merakyat. Dari pagi buta hingga malam hari, lapangan ini nyaris tidak pernah tidur. Pagi dibuka dengan derap langkah para pelari dan ibu-ibu senam, lalu sorenya giliran bola kulit yang bergulir.

BACA JUGA:  Jalan H.M. Dg Patompo: Jejak Wali Kota Makassar dan Lahirnya Nama Metro Tanjung Bunga

Di sinilah talenta hebat lahir lewat Makassar Football School (MFS) asuhan Diza Ali, wadah awal pemain legendaris seperti Syamsul Chaeruddin dan Rasyid Bakri mengasah kemampuan.

“Hampir tiap sore saya sama kawan-kawan kayuh sepeda dari rumah cuma buat main bola di Karebosi atau nonton PSM latihan,” kenang Hendra Gogo, warga Jalan Yos Sudarso, tersenyum getir mengenang cita-citanya menjadi pesepak bola profesional yang kandas di tengah jalan.

“Waktu itu suporter sudah kumpul tunggu bus pemain datang, baru pulang pas pemain selesai latihan.”

Karebosi tempo dulu juga menjadi panggung hiburan rakyat yang magis. Di bawah pohon trembesi tua yang rindang, bapak-bapak khusyuk beradu taktik di atas papan catur, sementara aroma coto, konro, dan sop saudara menguar dari deretan gerobak dekat patung Ramang. Belum lagi hiruk-pikuk penjual obat kaki lima yang selalu sukses menyedot kerumunan.

“Zaman SMP dulu, kadang kalau bolos saya melipir ke Karebosi cuma buat nonton tukang obat pamer atraksi kebal senjata, bawa buaya, sampai ular piton,” tutur Anwar Tilba, pria 60 tahun asal Jalan Kakaktua.

Baginya, Karebosi adalah nostalgia masa kecil yang lekat dengan tawa.

BACA JUGA:  Antrean Solar di SPBU Makassar Diserobot, Sopir Truk Tikam Pengemudi Mobil Boks

“Paling seru kalau sudah masuk Agustus, ada pasar malam sama sirkus keliling. Nontonnya bareng orang tua, ramainya minta ampun,” tambah Anwar.

Sayangnya, memasuki pertengahan 2000-an, ruang publik ini mulai kedodoran. Kontur tanahnya yang amblas hingga 80 sentimeter di bawah bibir jalan membuat Karebosi langganan tenggelam tiap puncak musim hujan. Limpasan air dan saluran drainase yang mampet mengubah lapangan hijau ini menjadi kubangan raksasa mirip danau.

Melihat kondisi tersebut, Wali Kota Ilham Arief Sirajuddin pada 2006 memutuskan membenahi Karebosi secara total. Karena anggaran kota terbatas, proyek revitalisasi digarap bersama pihak swasta lewat sayembara rancang bangun.

Tanahnya diuruk dan ditinggikan hingga satu meter dari jalanan, sementara bagian perut buminya disulap menjadi pusat perbelanjaan bawah tanah dan area parkir.

Perubahan besar itu sempat memicu gelombang protes panjang. Mahasiswa, aktivis, hingga tokoh adat turun ke jalan menentang komersialisasi ruang terbuka ini, yang sempat berujung pada robohnya pagar proyek dan sengketa di meja hijau. Namun, pengadilan akhirnya memutuskan proyek tetap berjalan demi kemaslahatan kota.

Rampung pada pertengahan 2009, wajah baru Karebosi resmi menyapa warga. Tiga lapangan bola di sisi selatan dikembalikan ke masyarakat lewat pengelolaan dinas terkait untuk olahraga dan acara keagamaan, berdampingan dengan area komersial di bawahnya.

BACA JUGA:  PSM Makassar Kirim Semangat untuk Rizky Eka di Timnas Indonesia

Namun, seiring bertumbuhnya bisnis jual beli online, sekitar tahun 2017-2019, dengan munculnya beberapa E-Commerce dan Marketplace seperti Tokopedia, Shopee, Lazada, dan Blibli, pusat pertokoan bawah tanah Karebosi Link mulai berangsur menurun jumlahnya.

Usai dihantam gelombang disrupsi online, mall Karebosi Link dan mall yang terkoneksi dari Karebosi, Makassar Trade Center (MTC), kembali dihajar gelombang pandemi Covid-19 dan Social Commerce (Live Streaming Shop), hingga akhirnya pusat pertokoan ini tutup pada tahun 2025 lalu.

Selain pusat pertokoannya tutup, tiga lapangan bola juga dalam kondisi terbengkalai usai proyek revitalisasi lapangan mangkrak sejak tahun 2024 lalu.

Yang berfungsi saat ini hanya lapangan dan tribun upacara yang sering digunakan sebagai pusat kegiatan pemerintahan dan kegiatan eksibisi komersil lainnya. Di sisi timurnya, masih eksis beberapa resto cepat saji, seperti Mi Gacoan dan Mc Donald.

Kini, di era Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, sedang menyusun rencana untuk mengembalikan fungsi Karebosi menjadi pusat aktivitas warganya, sekaligus mengembalikan fungsinya sebagai paru-paru Kota Makassar dengan kehadiran ruang terbuka hijau di Karebosi.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru