SulawesiPos.com – Nama Datuk ri Tiro (Datuk Ditiro) diabadikan sebagai nama jalan di Kota Makassar, tetapi di balik nama tersebut terdapat sosok ulama yang disebut dalam sejarah sebagai salah satu pembawa Islam ke Kerajaan Gowa dan Tallo.
Jalan yang secara administratif tercatat sebagai Jalan Datuk Ditiro itu menjadi pengingat atas seorang tokoh yang kiprahnya tidak hanya berkaitan dengan Sulawesi Selatan, tetapi juga dengan perkembangan awal Islam di Bima.
Jalan Datuk Ditiro berada di wilayah Kota Makassar dan membentang di sekitar Kelurahan La’latang, Kecamatan Tallo, serta Timungan Lompoa, Kecamatan Bontoala.
Dokumen resmi JDIH Pemerintah Kota Makassar mencantumkan Jalan Datuk Ditiro sebagai salah satu nama jalan di Kota Makassar, sementara kawasan tersebut juga terbagi dalam beberapa ruas seperti Jalan Datuk Ditiro 1, Jalan Datuk Ditiro 2, dan Jalan Datuk Ditiro 3.
Di kawasan ini terdapat sejumlah fasilitas dan aktivitas masyarakat, termasuk SMA Ki Hajar Dewantara Makassar yang beralamat di Jalan Datuk Di Tiro Nomor 9 serta kuliner lokal yang menggunakan nama tersebut, yakni Coto Datuk Ditiro.
Namun, jauh sebelum namanya menjadi penanda sebuah ruas jalan di Makassar, Datuk Ditiro dikenal dalam sumber sejarah sebagai salah seorang tokoh penyebar agama Islam.
Datuk ri Tiro: Ulama Penyebar Agama Islam di Gowa-Tallo
Buku Sejarah Kampung Melayu di Bima Nusa Tenggara Barat terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2017 menyebut Datuk Ditiro dengan sejumlah bentuk nama, antara lain Datuk Ditiro, Datuk Di Tiro, Datuk Ri Tiro, dan Datuk Ditiro (Datuk ri Tiro).
Datuk Ditiro berasal dari Aceh, sementara Datuk Dibandang datang ke Sulawesi Selatan sekitar 1600 dan kemudian mengislamkan Gowa dan Tallo pada 1606.
Dalam kronik Gowa dan Tallo, Datuk Ditiro disebut bersama Datuk Dibandang atau Datuk ri Bandang sebagai dua mubalig yang membawa dan menyebarkan Islam di Kerajaan Gowa dan Tallo.
Peran keduanya menjadi penting karena Islamisasi Gowa dan Tallo kemudian menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan Islam di Sulawesi Selatan.
Setelah berkiprah dalam penyebaran Islam di Sulawesi Selatan, Datuk Ditiro bersama Datuk Dibandang kemudian menjalankan misi dakwah di Bima sebagai utusan Sultan Gowa.
Keduanya tiba di Bima melalui Sape atau yang sekarang dikenal sebagai Labuan Sape di pantai timur Bima, sebelum melanjutkan perjalanan ke Sila untuk menyebarkan agama Islam.
Di Bima, Datuk Ditiro dan Datuk Dibandang menjadi guru agama bagi Sultan Abdul Kahir, Sultan Bima pertama yang memeluk Islam.
Kedua ulama tersebut kemudian berperan dalam proses awal berkembangnya Islam di lingkungan kerajaan Bima, sekaligus memperluas jaringan penyebaran Islam yang sebelumnya telah mereka rintis di Sulawesi Selatan.
Buku tersebut mencatat adanya perbedaan mengenai waktu kedatangan kedua mubalig itu di Bima, dengan kronik Bima menyebut 1013 Hijriah atau 1609 Masehi dan 1050 Hijriah atau 1640 Masehi, sementara Bo Sangaji Kai juga memuat angka 1018 Hijriah atau 1609 Masehi.
Setelah menjalankan misi dakwahnya di Bima, Datuk Ditiro dan Datuk Dibandang kemudian dipanggil kembali ke Makassar oleh Sultan Gowa pada 1055 Hijriah atau 1645 Masehi.

