Jalan Sawerigading: Jejak Sosok “Odysseus-nya orang Bugis” dalam Epos I La Galigo

Keturunan Si Anak Rakus dari berbagai perkawinan kemudian dipandang sebagai bagian dari kelompok yang disebut sebagai “saudara tua”.

Karena itu, Sawerigading tidak hanya dipandang sebagai tokoh dalam sebuah cerita masa lalu.

Ia menjadi bagian dari cara masyarakat Laujé memahami hubungan kekerabatan, identitas, kekuasaan dan kedudukan kelompok pendatang.

Sawerigading sebagai Tokoh Sakti

Dalam kisah selanjutnya, Sawerigading digambarkan mewarisi benda-benda dan pengetahuan ritual dari ayahnya yang berasal dari Laujé.

Setelah melakukan perjalanan dan menikah dengan perempuan dari berbagai negeri, Sawerigading disebut kembali ke tanah Laujé sebagai seorang sando atau dukun ritual yang memiliki kesaktian luar biasa.

Namun, kepulangannya mempertemukannya dengan tokoh lain yang juga memiliki kesaktian, yakni Nabi Muhammad yang dalam cerita tersebut disebut sebagai “saudara muda dari Mekah”.

Keduanya kemudian beradu kesaktian dengan menyusun telur burung maleo sebanyak tujuh tingkat.

Sawerigading berhasil menyusun tujuh tingkat telur, tetapi Nabi Muhammad menyusunnya dengan memberikan ruang di antara setiap lapisan.

BACA JUGA:  Jalan Lanto Daeng Pasewang: Jejak Gubernur Sulawesi Asal Jeneponto di Makassar

Nabi Muhammad kemudian dinyatakan sebagai pemenang. Sawerigading dan kesaktiannya disebut lenyap ditelan laut, sementara Muhammad menjadi penguasa di muka bumi.

Cerita ini kemudian dapat dimaknai sebagai gambaran hubungan antara adat dan agama. Sawerigading merepresentasikan adat dan kekuatan ritual, sedangkan Nabi Muhammad merepresentasikan agama Islam yang kemudian hadir sebagai kekuatan baru.

Menariknya, penelitian mengenai Sawerigading menunjukkan bahwa satu tokoh dapat memiliki tafsir berbeda di tengah masyarakat.

Di Sulawesi Selatan ia kuat dikenal sebagai tokoh dalam tradisi Bugis, sementara masyarakat Laujé di Sulawesi Tengah memiliki versi yang menempatkannya sebagai keturunan asli Laujé.

Perbedaan tersebut justru memperlihatkan betapa luasnya pengaruh cerita Sawerigading dan I La Galigo dalam membentuk ingatan budaya masyarakat di Sulawesi.

Keturunan Si Anak Rakus dari berbagai perkawinan kemudian dipandang sebagai bagian dari kelompok yang disebut sebagai “saudara tua”.

Karena itu, Sawerigading tidak hanya dipandang sebagai tokoh dalam sebuah cerita masa lalu.

Ia menjadi bagian dari cara masyarakat Laujé memahami hubungan kekerabatan, identitas, kekuasaan dan kedudukan kelompok pendatang.

Sawerigading sebagai Tokoh Sakti

Dalam kisah selanjutnya, Sawerigading digambarkan mewarisi benda-benda dan pengetahuan ritual dari ayahnya yang berasal dari Laujé.

Setelah melakukan perjalanan dan menikah dengan perempuan dari berbagai negeri, Sawerigading disebut kembali ke tanah Laujé sebagai seorang sando atau dukun ritual yang memiliki kesaktian luar biasa.

Namun, kepulangannya mempertemukannya dengan tokoh lain yang juga memiliki kesaktian, yakni Nabi Muhammad yang dalam cerita tersebut disebut sebagai “saudara muda dari Mekah”.

Keduanya kemudian beradu kesaktian dengan menyusun telur burung maleo sebanyak tujuh tingkat.

Sawerigading berhasil menyusun tujuh tingkat telur, tetapi Nabi Muhammad menyusunnya dengan memberikan ruang di antara setiap lapisan.

BACA JUGA:  Jalan Amanagappa: Jejak Perantau Asal Wajo dan Nama Kolonial Justitia Laan di Makassar

Nabi Muhammad kemudian dinyatakan sebagai pemenang. Sawerigading dan kesaktiannya disebut lenyap ditelan laut, sementara Muhammad menjadi penguasa di muka bumi.

Cerita ini kemudian dapat dimaknai sebagai gambaran hubungan antara adat dan agama. Sawerigading merepresentasikan adat dan kekuatan ritual, sedangkan Nabi Muhammad merepresentasikan agama Islam yang kemudian hadir sebagai kekuatan baru.

Menariknya, penelitian mengenai Sawerigading menunjukkan bahwa satu tokoh dapat memiliki tafsir berbeda di tengah masyarakat.

Di Sulawesi Selatan ia kuat dikenal sebagai tokoh dalam tradisi Bugis, sementara masyarakat Laujé di Sulawesi Tengah memiliki versi yang menempatkannya sebagai keturunan asli Laujé.

Perbedaan tersebut justru memperlihatkan betapa luasnya pengaruh cerita Sawerigading dan I La Galigo dalam membentuk ingatan budaya masyarakat di Sulawesi.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru