Jalan Sawerigading: Jejak Sosok “Odysseus-nya orang Bugis” dalam Epos I La Galigo

Berbagai cara dilakukan, termasuk menyuruhnya mengambil batu besar di jurang dan mencari kayu bakar di tempat tertentu.

Namun, setiap kali sang ayah berusaha mencelakainya, Si Anak Rakus justru berhasil kembali dengan selamat.

Akhirnya, ia menyadari bahwa kedua orang tuanya tidak lagi menginginkannya dan memilih meninggalkan rumah.

Sebelum pergi, ibunya menyiapkan bekal perjalanan, sementara sang ayah memberikan sebilah pedang ajaib yang terbuat dari Batu Bertulis.

Benda tersebut dipercaya menandai pusat bumi dan tempat segala sesuatu, termasuk manusia dan hewan, bersumber.

Setelah berjalan selama tujuh hari, Si Anak Rakus tiba di sebuah kampung tak berpenghuni di Tanah Cina.

Di sana ia menemukan seorang gadis yang bersembunyi di dalam tong.

Gadis tersebut kemudian meminta perlindungan karena kampung itu diteror burung raksasa yang telah membunuh seluruh penduduk.

Si Anak Rakus berhasil membunuh burung tersebut menggunakan pedang ajaibnya dan menghidupkan kembali penduduk kampung.

Ia kemudian menikahi gadis tersebut. Dari perkawinan itu lahirlah putera pertama mereka yang bernama Sawerigading.

BACA JUGA:  Jalan Petta Punggawa: Jejak Panglima Tertinggi Bone yang Gugur dalam Perang 1905

Dari Tokoh Bugis Menjadi Tokoh Laujé

Kisah tersebut menarik karena menempatkan Sawerigading sebagai keturunan seorang laki-laki Laujé dan perempuan dari Tanah Cina.

Nourse kemudian mencatat bahwa “Cina” yang dimaksud dalam cerita tersebut ternyata merupakan nama kuno Pammana di Wajo, Sulawesi Selatan.

Dengan demikian, cerita tersebut dapat dipahami sebagai kisah pertemuan antara seorang laki-laki asli Laujé dengan perempuan dari wilayah Bugis.

Dalam versi tersebut, garis asal-usul Sawerigading sebagai tokoh Bugis menjadi berbeda.

Ia justru ditempatkan sebagai keturunan dari seorang pria Laujé yang menikahi perempuan dari luar komunitasnya.

Bagi masyarakat Laujé, kisah itu juga memiliki makna mengenai hubungan antara penduduk asli dan kelompok pendatang.

Berbagai cara dilakukan, termasuk menyuruhnya mengambil batu besar di jurang dan mencari kayu bakar di tempat tertentu.

Namun, setiap kali sang ayah berusaha mencelakainya, Si Anak Rakus justru berhasil kembali dengan selamat.

Akhirnya, ia menyadari bahwa kedua orang tuanya tidak lagi menginginkannya dan memilih meninggalkan rumah.

Sebelum pergi, ibunya menyiapkan bekal perjalanan, sementara sang ayah memberikan sebilah pedang ajaib yang terbuat dari Batu Bertulis.

Benda tersebut dipercaya menandai pusat bumi dan tempat segala sesuatu, termasuk manusia dan hewan, bersumber.

Setelah berjalan selama tujuh hari, Si Anak Rakus tiba di sebuah kampung tak berpenghuni di Tanah Cina.

Di sana ia menemukan seorang gadis yang bersembunyi di dalam tong.

Gadis tersebut kemudian meminta perlindungan karena kampung itu diteror burung raksasa yang telah membunuh seluruh penduduk.

Si Anak Rakus berhasil membunuh burung tersebut menggunakan pedang ajaibnya dan menghidupkan kembali penduduk kampung.

Ia kemudian menikahi gadis tersebut. Dari perkawinan itu lahirlah putera pertama mereka yang bernama Sawerigading.

BACA JUGA:  Jalan Petta Punggawa: Jejak Panglima Tertinggi Bone yang Gugur dalam Perang 1905

Dari Tokoh Bugis Menjadi Tokoh Laujé

Kisah tersebut menarik karena menempatkan Sawerigading sebagai keturunan seorang laki-laki Laujé dan perempuan dari Tanah Cina.

Nourse kemudian mencatat bahwa “Cina” yang dimaksud dalam cerita tersebut ternyata merupakan nama kuno Pammana di Wajo, Sulawesi Selatan.

Dengan demikian, cerita tersebut dapat dipahami sebagai kisah pertemuan antara seorang laki-laki asli Laujé dengan perempuan dari wilayah Bugis.

Dalam versi tersebut, garis asal-usul Sawerigading sebagai tokoh Bugis menjadi berbeda.

Ia justru ditempatkan sebagai keturunan dari seorang pria Laujé yang menikahi perempuan dari luar komunitasnya.

Bagi masyarakat Laujé, kisah itu juga memiliki makna mengenai hubungan antara penduduk asli dan kelompok pendatang.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru