Jalan Karunrung Makassar: Jejak Tokoh Gowa-Tallo yang Dikagumi Syekh Yusuf

Sultan Banten mengaku tidak pernah memberikan benda-benda tersebut.

Syekh Yusuf juga menyampaikan cerita tentang sebuah pedang yang diwasiatkan Pangeran Arya Sangtikar ketika menunaikan ibadah haji.

Dalam surat yang sama, Syekh Yusuf bahkan meminta sepotong emas, cincin, atau zamrud biru atau yakut merah dari Karaeng Karunrung.

Sebagai balasan, ia mengirimkan dua keranjang gula putih dan sekantong merica.

Dengan nada jenaka, Syekh Yusuf menulis, “Terimalah dengan hormat, janganlah mengharap yang lebih baik. Sesungguhnya hadiah itu sesuai dengan yang memberi, bukan menurut ukuran yang diberi.”

Kisah surat tersebut memperlihatkan bahwa Karaeng Karunrung bukan hanya memiliki posisi politik yang kuat, tetapi juga mendapat penghormatan dari tokoh agama dan tokoh politik di luar Gowa.

Akhir Perjalanan Karaeng Karunrung

Kehidupan Karaeng Karunrung tidak lepas dari pergolakan politik Kerajaan Gowa-Tallo.

Kedudukannya sebagai bangsawan, Mangkubumi Gowa, sekaligus penasihat Sultan Hasanuddin membuatnya berada di tengah berbagai kepentingan politik pada masanya.

BACA JUGA:  Jalan Pongtiku: Mengenal Sosok Pahlawan Nasional Asal Toraja

The Makassar Annals mencatat perjalanan politik Karaeng Karunrung berlangsung hingga akhir hayatnya. Ia meninggal dunia pada 27 Januari 1685.

Sumber tersebut tidak menjelaskan tempat maupun penyebab kematiannya.

Namun, tanggal tersebut menjadi penanda berakhirnya perjalanan Karaeng Karunrung sebagai salah satu tokoh penting dalam politik Makassar pada abad ke-17.

Jejak Karaeng Karunrung pada Nama Jalan

Nama Karaeng Karunrung kemudian tetap dikenal dalam sejarah Makassar.

Sosoknya memiliki banyak sisi: seorang bangsawan Gowa, Mangkubumi, penasihat Sultan Hasanuddin, penguasa yang dikenal keras terhadap orang Bone, sekaligus tokoh yang mendapat penghormatan tinggi dari Syekh Yusuf Al-Makassari.

Karena itu, nama Jalan Karunrung di Makassar tidak sekadar menjadi nama sebuah ruas jalan.

Nama tersebut mengingatkan pada seorang tokoh yang pernah berada di tengah pergolakan politik Gowa-Tallo pada abad ke-17 dan memiliki pengaruh besar pada zamannya.

Sumber:

  1. Laman resmi Kementerian Keuangan RI, “Makna di Balik Nama-nama Daerah di Kota Makassar, Warisan Budaya yang Kaya.
  2. Buku berjudul The Makassar Annals oleh William Cummings.
  3. Buku berjudul Arung Palakka: Biografi dan Perjuangannya dari Tanah Bugis karya Johan Setiawan.
  4. Laman resmui MUI, “Surat Cinta Spiritual dari Syekh Yusuf Al-Makassari untuk Karaeng Karunrung”.
BACA JUGA:  Jalan Ali Malaka, Pejuang Makassar yang Pernah Diburu Westerling

Sultan Banten mengaku tidak pernah memberikan benda-benda tersebut.

Syekh Yusuf juga menyampaikan cerita tentang sebuah pedang yang diwasiatkan Pangeran Arya Sangtikar ketika menunaikan ibadah haji.

Dalam surat yang sama, Syekh Yusuf bahkan meminta sepotong emas, cincin, atau zamrud biru atau yakut merah dari Karaeng Karunrung.

Sebagai balasan, ia mengirimkan dua keranjang gula putih dan sekantong merica.

Dengan nada jenaka, Syekh Yusuf menulis, “Terimalah dengan hormat, janganlah mengharap yang lebih baik. Sesungguhnya hadiah itu sesuai dengan yang memberi, bukan menurut ukuran yang diberi.”

Kisah surat tersebut memperlihatkan bahwa Karaeng Karunrung bukan hanya memiliki posisi politik yang kuat, tetapi juga mendapat penghormatan dari tokoh agama dan tokoh politik di luar Gowa.

Akhir Perjalanan Karaeng Karunrung

Kehidupan Karaeng Karunrung tidak lepas dari pergolakan politik Kerajaan Gowa-Tallo.

Kedudukannya sebagai bangsawan, Mangkubumi Gowa, sekaligus penasihat Sultan Hasanuddin membuatnya berada di tengah berbagai kepentingan politik pada masanya.

BACA JUGA:  Jalan Andi Mappanyukki: Raja Bone yang Warisannya Diabadikan di Makassar

The Makassar Annals mencatat perjalanan politik Karaeng Karunrung berlangsung hingga akhir hayatnya. Ia meninggal dunia pada 27 Januari 1685.

Sumber tersebut tidak menjelaskan tempat maupun penyebab kematiannya.

Namun, tanggal tersebut menjadi penanda berakhirnya perjalanan Karaeng Karunrung sebagai salah satu tokoh penting dalam politik Makassar pada abad ke-17.

Jejak Karaeng Karunrung pada Nama Jalan

Nama Karaeng Karunrung kemudian tetap dikenal dalam sejarah Makassar.

Sosoknya memiliki banyak sisi: seorang bangsawan Gowa, Mangkubumi, penasihat Sultan Hasanuddin, penguasa yang dikenal keras terhadap orang Bone, sekaligus tokoh yang mendapat penghormatan tinggi dari Syekh Yusuf Al-Makassari.

Karena itu, nama Jalan Karunrung di Makassar tidak sekadar menjadi nama sebuah ruas jalan.

Nama tersebut mengingatkan pada seorang tokoh yang pernah berada di tengah pergolakan politik Gowa-Tallo pada abad ke-17 dan memiliki pengaruh besar pada zamannya.

Sumber:

  1. Laman resmi Kementerian Keuangan RI, “Makna di Balik Nama-nama Daerah di Kota Makassar, Warisan Budaya yang Kaya.
  2. Buku berjudul The Makassar Annals oleh William Cummings.
  3. Buku berjudul Arung Palakka: Biografi dan Perjuangannya dari Tanah Bugis karya Johan Setiawan.
  4. Laman resmui MUI, “Surat Cinta Spiritual dari Syekh Yusuf Al-Makassari untuk Karaeng Karunrung”.
BACA JUGA:  Jalan Petta Punggawa: Jejak Panglima Tertinggi Bone yang Gugur dalam Perang 1905

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru