Jalan Karunrung Makassar: Jejak Tokoh Gowa-Tallo yang Dikagumi Syekh Yusuf

SulawesiPos.com – Nama Jalan Karunrung di Makassar tidak lepas dari sosok Karaeng Karunrung, salah satu tokoh penting dalam sejarah politik Kerajaan Gowa-Tallo pada abad ke-17.

Nama Karunrung sendiri diyakini memiliki kaitan dengan kondisi suatu wilayah. Mengutip laman Kementerian Keuangan RI, kata Karunrung berasal dari karu-karu dalam bahasa Makassar yang berarti “serpihan” atau “kerikil kecil”, serta “rung” yang berarti “tersebar”.

Nama tersebut mengacu pada daerah yang kemungkinan memiliki banyak batu kerikil atau serpihan kecil yang tersebar, atau menggambarkan kondisi tanah yang berbatu pada masa lalu.

Selain itu, nama jalan ini juga mengacu pada sosok Karaeng Karunrung, yakni tokoh penting Gowa-Tallo yang dikagumi Syekh Yusuf.

Penasaran dengan kisahnya? Simak sejarah Kareang Karunrung yang menjadi sosok di balik nama Jalan Karunrung di bawah ini!

Karaeng Karunrung, Bangsawan Gowa yang Penuh Gejolak

Dalam The Makassar Annals, Karaeng Karunrung tercatat dengan nama Abdul Hamid. Ia lahir pada 4 September 1631 dengan nama Tumamenang ri Ujung Tana Abdul Hamid.

Ia merupakan putra Karaeng Pattingalloang. Setelah dewasa, Karaeng Karunrung menjadi tumabicarabutta, yakni penasihat utama Sultan Hasanuddin.

Posisi tersebut membuatnya menjadi salah satu tokoh penting dalam pemerintahan dan politik Kerajaan Gowa.

Setelah Karaeng Pattingalloang meninggal pada 1654, Karaeng Karunrung disebut menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Raja Tallo atau Mangkubumi Gowa.

Namun, Karaeng Karunrung dikenal memiliki karakter yang berbeda dari ayahnya.

Dalam buku Arung Palakka: Biografi dan Perjuangannya dari Tanah Bugis karya Johan Setiawan, ia digambarkan sebagai sosok yang keras terhadap bawahannya.

BACA JUGA:  Jalan Petta Punggawa: Jejak Panglima Tertinggi Bone yang Gugur dalam Perang 1905

Sikap tersebut juga terlihat dalam hubungannya dengan Arung Palakka dan orang-orang Bone.

Karaeng Karunrung menganggap Arung Palakka sebagai orang asing dan hamba sahaya.

Pada masa itu, Kerajaan Bone berada di bawah kekuasaan Gowa dan kedudukan raja Bone telah dihapus.

Sebagai gantinya, ditempatkan seorang jennang, yakni To Bala.

Dari sinilah muncul salah satu kisah paling keras dalam perjalanan Karaeng Karunrung.

Kerasnya Kepemimpinan Karaeng Karunrung

Ia memerintahkan To Bala untuk mengirim 10.000 orang Bone ke Makassar.

Mereka dibawa dengan berjalan kaki untuk menggali parit yang memisahkan Benteng Panakukkang dengan Benteng Somba Opu yang dikuasai VOC, sekaligus membuat parit dan benteng pertahanan.

Orang-orang Bone tersebut kemudian menjalani kerja paksa dengan perlakuan yang disebut keras dan tidak berperikemanusiaan.

To Bala bahkan menyesal telah membawa rakyatnya menjadi pekerja paksa.

Arung Palakka juga ikut dalam pekerjaan menggali parit tersebut, meskipun pada akhirnya kabur dan bersekongkol dengan VOC.

Kisah ini menunjukkan sisi lain Karaeng Karunrung sebagai seorang penguasa.

Di satu sisi ia memiliki kedudukan tinggi dan pengaruh besar di lingkungan Kerajaan Gowa, tetapi di sisi lain kebijakannya terhadap orang Bone meninggalkan kisah yang keras.

Meski begitu, Karaeng Karunrung juga mendapat penghormatan tinggi dari tokoh lain pada zamannya, salah satunya Syekh Yusuf Al-Makassari.

Surat Kekaguman Syekh Yusuf

Dalam surat yang ditulis Syekh Yusuf kepada Karaeng Karunrung, ulama sufi asal Gowa itu menyebutnya sebagai seorang wazir atau patih yang disegani.

BACA JUGA:  Jalan Pongtiku: Mengenal Sosok Pahlawan Nasional Asal Toraja

Dalam sumber MUI, Karaeng Karunrung disebut bernama Abdulhamid Karaeng Koronrong, putra Karaeng Pattingalloang dan bergelar Sultan Mahmud dari Kesultanan Tallo.

Syekh Yusuf memberikan pujian yang sangat tinggi kepada Karaeng Karunrung.

Ia menyebutnya sebagai “tuan kami yang alim, arif, sempurna, wali akhlak, dan teladan yang diridhai”.

Syekh Yusuf juga menggambarkan Karaeng Karunrung sebagai sosok yang memadukan syariat dan hakikat.

Ia bahkan menyebutnya sebagai pemimpin yang sempurna.

Surat tersebut bukan hanya berisi pujian. Syekh Yusuf juga menyampaikan titipan dari Sultan Banten, Abul Fath atau Sultan Ageng Tirtayasa.

Sultan Banten meminta bantuan Karaeng Karunrung untuk mengembalikan sejumlah benda pusaka, yaitu Keris Anak Kiai Tamba’, Pujangga, dan bokor suwasi.

Menurut surat tersebut, benda-benda itu berada pada Karaeng Karunrung sebagai bentuk penghormatan sesuai adat.

Sultan Banten mengaku tidak pernah memberikan benda-benda tersebut.

Syekh Yusuf juga menyampaikan cerita tentang sebuah pedang yang diwasiatkan Pangeran Arya Sangtikar ketika menunaikan ibadah haji.

Dalam surat yang sama, Syekh Yusuf bahkan meminta sepotong emas, cincin, atau zamrud biru atau yakut merah dari Karaeng Karunrung.

Sebagai balasan, ia mengirimkan dua keranjang gula putih dan sekantong merica.

Dengan nada jenaka, Syekh Yusuf menulis, “Terimalah dengan hormat, janganlah mengharap yang lebih baik. Sesungguhnya hadiah itu sesuai dengan yang memberi, bukan menurut ukuran yang diberi.”

Kisah surat tersebut memperlihatkan bahwa Karaeng Karunrung bukan hanya memiliki posisi politik yang kuat, tetapi juga mendapat penghormatan dari tokoh agama dan tokoh politik di luar Gowa.

BACA JUGA:  Jalan Andi Pangerang Pettarani, Mengenang 51 Tahun Wafatnya Gubernur Sulawesi Terakhir

Akhir Perjalanan Karaeng Karunrung

Kehidupan Karaeng Karunrung tidak lepas dari pergolakan politik Kerajaan Gowa-Tallo.

Kedudukannya sebagai bangsawan, Mangkubumi Gowa, sekaligus penasihat Sultan Hasanuddin membuatnya berada di tengah berbagai kepentingan politik pada masanya.

The Makassar Annals mencatat perjalanan politik Karaeng Karunrung berlangsung hingga akhir hayatnya. Ia meninggal dunia pada 27 Januari 1685.

Sumber tersebut tidak menjelaskan tempat maupun penyebab kematiannya.

Namun, tanggal tersebut menjadi penanda berakhirnya perjalanan Karaeng Karunrung sebagai salah satu tokoh penting dalam politik Makassar pada abad ke-17.

Jejak Karaeng Karunrung pada Nama Jalan

Nama Karaeng Karunrung kemudian tetap dikenal dalam sejarah Makassar.

Sosoknya memiliki banyak sisi: seorang bangsawan Gowa, Mangkubumi, penasihat Sultan Hasanuddin, penguasa yang dikenal keras terhadap orang Bone, sekaligus tokoh yang mendapat penghormatan tinggi dari Syekh Yusuf Al-Makassari.

Karena itu, nama Jalan Karunrung di Makassar tidak sekadar menjadi nama sebuah ruas jalan.

Nama tersebut mengingatkan pada seorang tokoh yang pernah berada di tengah pergolakan politik Gowa-Tallo pada abad ke-17 dan memiliki pengaruh besar pada zamannya.

Sumber:

  1. Laman resmi Kementerian Keuangan RI, “Makna di Balik Nama-nama Daerah di Kota Makassar, Warisan Budaya yang Kaya.
  2. Buku berjudul The Makassar Annals oleh William Cummings.
  3. Buku berjudul Arung Palakka: Biografi dan Perjuangannya dari Tanah Bugis karya Johan Setiawan.
  4. Laman resmui MUI, “Surat Cinta Spiritual dari Syekh Yusuf Al-Makassari untuk Karaeng Karunrung”.

SulawesiPos.com – Nama Jalan Karunrung di Makassar tidak lepas dari sosok Karaeng Karunrung, salah satu tokoh penting dalam sejarah politik Kerajaan Gowa-Tallo pada abad ke-17.

Nama Karunrung sendiri diyakini memiliki kaitan dengan kondisi suatu wilayah. Mengutip laman Kementerian Keuangan RI, kata Karunrung berasal dari karu-karu dalam bahasa Makassar yang berarti “serpihan” atau “kerikil kecil”, serta “rung” yang berarti “tersebar”.

Nama tersebut mengacu pada daerah yang kemungkinan memiliki banyak batu kerikil atau serpihan kecil yang tersebar, atau menggambarkan kondisi tanah yang berbatu pada masa lalu.

Selain itu, nama jalan ini juga mengacu pada sosok Karaeng Karunrung, yakni tokoh penting Gowa-Tallo yang dikagumi Syekh Yusuf.

Penasaran dengan kisahnya? Simak sejarah Kareang Karunrung yang menjadi sosok di balik nama Jalan Karunrung di bawah ini!

Karaeng Karunrung, Bangsawan Gowa yang Penuh Gejolak

Dalam The Makassar Annals, Karaeng Karunrung tercatat dengan nama Abdul Hamid. Ia lahir pada 4 September 1631 dengan nama Tumamenang ri Ujung Tana Abdul Hamid.

Ia merupakan putra Karaeng Pattingalloang. Setelah dewasa, Karaeng Karunrung menjadi tumabicarabutta, yakni penasihat utama Sultan Hasanuddin.

Posisi tersebut membuatnya menjadi salah satu tokoh penting dalam pemerintahan dan politik Kerajaan Gowa.

Setelah Karaeng Pattingalloang meninggal pada 1654, Karaeng Karunrung disebut menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Raja Tallo atau Mangkubumi Gowa.

Namun, Karaeng Karunrung dikenal memiliki karakter yang berbeda dari ayahnya.

Dalam buku Arung Palakka: Biografi dan Perjuangannya dari Tanah Bugis karya Johan Setiawan, ia digambarkan sebagai sosok yang keras terhadap bawahannya.

BACA JUGA:  Jalan Andi Djemma Makassar: Sejarah Perjuangan Datu Luwu yang Mengabdi untuk Rakyat

Sikap tersebut juga terlihat dalam hubungannya dengan Arung Palakka dan orang-orang Bone.

Karaeng Karunrung menganggap Arung Palakka sebagai orang asing dan hamba sahaya.

Pada masa itu, Kerajaan Bone berada di bawah kekuasaan Gowa dan kedudukan raja Bone telah dihapus.

Sebagai gantinya, ditempatkan seorang jennang, yakni To Bala.

Dari sinilah muncul salah satu kisah paling keras dalam perjalanan Karaeng Karunrung.

Kerasnya Kepemimpinan Karaeng Karunrung

Ia memerintahkan To Bala untuk mengirim 10.000 orang Bone ke Makassar.

Mereka dibawa dengan berjalan kaki untuk menggali parit yang memisahkan Benteng Panakukkang dengan Benteng Somba Opu yang dikuasai VOC, sekaligus membuat parit dan benteng pertahanan.

Orang-orang Bone tersebut kemudian menjalani kerja paksa dengan perlakuan yang disebut keras dan tidak berperikemanusiaan.

To Bala bahkan menyesal telah membawa rakyatnya menjadi pekerja paksa.

Arung Palakka juga ikut dalam pekerjaan menggali parit tersebut, meskipun pada akhirnya kabur dan bersekongkol dengan VOC.

Kisah ini menunjukkan sisi lain Karaeng Karunrung sebagai seorang penguasa.

Di satu sisi ia memiliki kedudukan tinggi dan pengaruh besar di lingkungan Kerajaan Gowa, tetapi di sisi lain kebijakannya terhadap orang Bone meninggalkan kisah yang keras.

Meski begitu, Karaeng Karunrung juga mendapat penghormatan tinggi dari tokoh lain pada zamannya, salah satunya Syekh Yusuf Al-Makassari.

Surat Kekaguman Syekh Yusuf

Dalam surat yang ditulis Syekh Yusuf kepada Karaeng Karunrung, ulama sufi asal Gowa itu menyebutnya sebagai seorang wazir atau patih yang disegani.

BACA JUGA:  Jalan Andi Pangerang Pettarani, Mengenang 51 Tahun Wafatnya Gubernur Sulawesi Terakhir

Dalam sumber MUI, Karaeng Karunrung disebut bernama Abdulhamid Karaeng Koronrong, putra Karaeng Pattingalloang dan bergelar Sultan Mahmud dari Kesultanan Tallo.

Syekh Yusuf memberikan pujian yang sangat tinggi kepada Karaeng Karunrung.

Ia menyebutnya sebagai “tuan kami yang alim, arif, sempurna, wali akhlak, dan teladan yang diridhai”.

Syekh Yusuf juga menggambarkan Karaeng Karunrung sebagai sosok yang memadukan syariat dan hakikat.

Ia bahkan menyebutnya sebagai pemimpin yang sempurna.

Surat tersebut bukan hanya berisi pujian. Syekh Yusuf juga menyampaikan titipan dari Sultan Banten, Abul Fath atau Sultan Ageng Tirtayasa.

Sultan Banten meminta bantuan Karaeng Karunrung untuk mengembalikan sejumlah benda pusaka, yaitu Keris Anak Kiai Tamba’, Pujangga, dan bokor suwasi.

Menurut surat tersebut, benda-benda itu berada pada Karaeng Karunrung sebagai bentuk penghormatan sesuai adat.

Sultan Banten mengaku tidak pernah memberikan benda-benda tersebut.

Syekh Yusuf juga menyampaikan cerita tentang sebuah pedang yang diwasiatkan Pangeran Arya Sangtikar ketika menunaikan ibadah haji.

Dalam surat yang sama, Syekh Yusuf bahkan meminta sepotong emas, cincin, atau zamrud biru atau yakut merah dari Karaeng Karunrung.

Sebagai balasan, ia mengirimkan dua keranjang gula putih dan sekantong merica.

Dengan nada jenaka, Syekh Yusuf menulis, “Terimalah dengan hormat, janganlah mengharap yang lebih baik. Sesungguhnya hadiah itu sesuai dengan yang memberi, bukan menurut ukuran yang diberi.”

Kisah surat tersebut memperlihatkan bahwa Karaeng Karunrung bukan hanya memiliki posisi politik yang kuat, tetapi juga mendapat penghormatan dari tokoh agama dan tokoh politik di luar Gowa.

BACA JUGA:  Jalan Abu Bakar Lambogo: Sosok Pejuang Asal Enrekang yang Namanya Diabadikan di Makassar

Akhir Perjalanan Karaeng Karunrung

Kehidupan Karaeng Karunrung tidak lepas dari pergolakan politik Kerajaan Gowa-Tallo.

Kedudukannya sebagai bangsawan, Mangkubumi Gowa, sekaligus penasihat Sultan Hasanuddin membuatnya berada di tengah berbagai kepentingan politik pada masanya.

The Makassar Annals mencatat perjalanan politik Karaeng Karunrung berlangsung hingga akhir hayatnya. Ia meninggal dunia pada 27 Januari 1685.

Sumber tersebut tidak menjelaskan tempat maupun penyebab kematiannya.

Namun, tanggal tersebut menjadi penanda berakhirnya perjalanan Karaeng Karunrung sebagai salah satu tokoh penting dalam politik Makassar pada abad ke-17.

Jejak Karaeng Karunrung pada Nama Jalan

Nama Karaeng Karunrung kemudian tetap dikenal dalam sejarah Makassar.

Sosoknya memiliki banyak sisi: seorang bangsawan Gowa, Mangkubumi, penasihat Sultan Hasanuddin, penguasa yang dikenal keras terhadap orang Bone, sekaligus tokoh yang mendapat penghormatan tinggi dari Syekh Yusuf Al-Makassari.

Karena itu, nama Jalan Karunrung di Makassar tidak sekadar menjadi nama sebuah ruas jalan.

Nama tersebut mengingatkan pada seorang tokoh yang pernah berada di tengah pergolakan politik Gowa-Tallo pada abad ke-17 dan memiliki pengaruh besar pada zamannya.

Sumber:

  1. Laman resmi Kementerian Keuangan RI, “Makna di Balik Nama-nama Daerah di Kota Makassar, Warisan Budaya yang Kaya.
  2. Buku berjudul The Makassar Annals oleh William Cummings.
  3. Buku berjudul Arung Palakka: Biografi dan Perjuangannya dari Tanah Bugis karya Johan Setiawan.
  4. Laman resmui MUI, “Surat Cinta Spiritual dari Syekh Yusuf Al-Makassari untuk Karaeng Karunrung”.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru