Jalan Karunrung Makassar: Jejak Tokoh Gowa-Tallo yang Dikagumi Syekh Yusuf

Mereka dibawa dengan berjalan kaki untuk menggali parit yang memisahkan Benteng Panakukkang dengan Benteng Somba Opu yang dikuasai VOC, sekaligus membuat parit dan benteng pertahanan.

Orang-orang Bone tersebut kemudian menjalani kerja paksa dengan perlakuan yang disebut keras dan tidak berperikemanusiaan.

To Bala bahkan menyesal telah membawa rakyatnya menjadi pekerja paksa.

Arung Palakka juga ikut dalam pekerjaan menggali parit tersebut, meskipun pada akhirnya kabur dan bersekongkol dengan VOC.

Kisah ini menunjukkan sisi lain Karaeng Karunrung sebagai seorang penguasa.

Di satu sisi ia memiliki kedudukan tinggi dan pengaruh besar di lingkungan Kerajaan Gowa, tetapi di sisi lain kebijakannya terhadap orang Bone meninggalkan kisah yang keras.

Meski begitu, Karaeng Karunrung juga mendapat penghormatan tinggi dari tokoh lain pada zamannya, salah satunya Syekh Yusuf Al-Makassari.

Surat Kekaguman Syekh Yusuf

Dalam surat yang ditulis Syekh Yusuf kepada Karaeng Karunrung, ulama sufi asal Gowa itu menyebutnya sebagai seorang wazir atau patih yang disegani.

BACA JUGA:  Jalan Datu Museng, Kisah Pejuang dan Cinta Tragis “Romeo-Juliet” Makassar

Dalam sumber MUI, Karaeng Karunrung disebut bernama Abdulhamid Karaeng Koronrong, putra Karaeng Pattingalloang dan bergelar Sultan Mahmud dari Kesultanan Tallo.

Syekh Yusuf memberikan pujian yang sangat tinggi kepada Karaeng Karunrung.

Ia menyebutnya sebagai “tuan kami yang alim, arif, sempurna, wali akhlak, dan teladan yang diridhai”.

Syekh Yusuf juga menggambarkan Karaeng Karunrung sebagai sosok yang memadukan syariat dan hakikat.

Ia bahkan menyebutnya sebagai pemimpin yang sempurna.

Surat tersebut bukan hanya berisi pujian. Syekh Yusuf juga menyampaikan titipan dari Sultan Banten, Abul Fath atau Sultan Ageng Tirtayasa.

Sultan Banten meminta bantuan Karaeng Karunrung untuk mengembalikan sejumlah benda pusaka, yaitu Keris Anak Kiai Tamba’, Pujangga, dan bokor suwasi.

Menurut surat tersebut, benda-benda itu berada pada Karaeng Karunrung sebagai bentuk penghormatan sesuai adat.

Mereka dibawa dengan berjalan kaki untuk menggali parit yang memisahkan Benteng Panakukkang dengan Benteng Somba Opu yang dikuasai VOC, sekaligus membuat parit dan benteng pertahanan.

Orang-orang Bone tersebut kemudian menjalani kerja paksa dengan perlakuan yang disebut keras dan tidak berperikemanusiaan.

To Bala bahkan menyesal telah membawa rakyatnya menjadi pekerja paksa.

Arung Palakka juga ikut dalam pekerjaan menggali parit tersebut, meskipun pada akhirnya kabur dan bersekongkol dengan VOC.

Kisah ini menunjukkan sisi lain Karaeng Karunrung sebagai seorang penguasa.

Di satu sisi ia memiliki kedudukan tinggi dan pengaruh besar di lingkungan Kerajaan Gowa, tetapi di sisi lain kebijakannya terhadap orang Bone meninggalkan kisah yang keras.

Meski begitu, Karaeng Karunrung juga mendapat penghormatan tinggi dari tokoh lain pada zamannya, salah satunya Syekh Yusuf Al-Makassari.

Surat Kekaguman Syekh Yusuf

Dalam surat yang ditulis Syekh Yusuf kepada Karaeng Karunrung, ulama sufi asal Gowa itu menyebutnya sebagai seorang wazir atau patih yang disegani.

BACA JUGA:  Jalan Pongtiku: Mengenal Sosok Pahlawan Nasional Asal Toraja

Dalam sumber MUI, Karaeng Karunrung disebut bernama Abdulhamid Karaeng Koronrong, putra Karaeng Pattingalloang dan bergelar Sultan Mahmud dari Kesultanan Tallo.

Syekh Yusuf memberikan pujian yang sangat tinggi kepada Karaeng Karunrung.

Ia menyebutnya sebagai “tuan kami yang alim, arif, sempurna, wali akhlak, dan teladan yang diridhai”.

Syekh Yusuf juga menggambarkan Karaeng Karunrung sebagai sosok yang memadukan syariat dan hakikat.

Ia bahkan menyebutnya sebagai pemimpin yang sempurna.

Surat tersebut bukan hanya berisi pujian. Syekh Yusuf juga menyampaikan titipan dari Sultan Banten, Abul Fath atau Sultan Ageng Tirtayasa.

Sultan Banten meminta bantuan Karaeng Karunrung untuk mengembalikan sejumlah benda pusaka, yaitu Keris Anak Kiai Tamba’, Pujangga, dan bokor suwasi.

Menurut surat tersebut, benda-benda itu berada pada Karaeng Karunrung sebagai bentuk penghormatan sesuai adat.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru