Gelar Indonesia Actuaries Summit di Makassar, PAI Ajak Aktuaris Lampaui Batas Konvensional dan Manfaatkan AI

SulawesiPos.com – Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI) resmi membuka gelaran tahunan ke-9 Indonesian Actuaries Summit 2026 (IAS’26) di Hotel Gammara, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (18/06/2026). Profesi aktuaris adalah ahli keuangan yang menggunakan matematika, statistika, dan teori risiko untuk menghitung, mengelola, dan memitigasi risiko keuangan di masa depan

Dengan mengusung tema besar “Breaking Boundaries, Building Futures”, perhelatan ini menjadi seruan bagi para aktuaris untuk melampaui batas konvensional profesi, memperluas peran lintas sektor di pemerintahan maupun bisnis, serta membangun ekosistem keuangan nasional yang tangguh dan visioner.

Ketua PAI, Paul Setio Kartono, menegaskan bahwa penunjukan Makassar sebagai tuan rumah merupakan simbol penting dari pertumbuhan ekonomi dan konektivitas di kawasan Indonesia Timur.

Di tengah disrupsi teknologi, PAI mendorong para aktuaris untuk tidak mengkhawatirkan kehadiran Kecerdasan Buatan (AI), melainkan mengadopsinya sebagai alat bantu yang efektif seperti halnya kalkulator dan aplikasi spreadsheet pada dekade sebelumnya guna merajai manajemen kontrol risiko masa depan.

“Melalui IAS’26, PAI ingin mengajak para aktuaris untuk melampaui batas konvensional profesi, perluasan aktuaris lintas sektor dan berkontribusi dalam membangun ekosistem keuangan yang tangguh, kompetitif dan visioner untuk masa depan industri keuangan di Indonesia,” ujar Paul dalam keterangannya.

BACA JUGA:  Hetifah: AI Harus Jadi Alat Bantu Jurnalis, Bukan Pengganti Manusia

Rekor Peserta dan Ekspansi Edukasi Tripartit
Gelaran IAS’26 kali ini menorehkan rekor baru dengan melibatkan lebih dari 1.000 peserta di seluruh rangkaian kegiatan. Acara puncak berupa seminar profesi diikuti oleh 400 aktuaris secara luring di Makassar dan 130 peserta secara daring, sementara sehari sebelumnya, Rabu (17/06/2026), kolaborasi tripartit antara PAI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Universitas Hasanuddin (Unhas) sukses menggelar seminar edukasi keuangan yang dihadiri oleh 500 mahasiswa serta pengurus lembaga keuangan daerah di Auditorium FK Unhas.

Sebagai bentuk komitmen perluasan dan pemasyarakatan ilmu aktuaria di luar Pulau Jawa, PAI juga menandatangani nota kesepahaman (MoU) terkait pertukaran informasi dan kerja sama pengajaran dengan Universitas Hasanuddin di Makassar serta Institut Teknologi BJ Habibie di Parepare. Sinergi ini memperkuat fakta bahwa saat ini sudah ada lebih dari 40 program studi aktuaria di seluruh Indonesia untuk merespons kebutuhan sdm lokal serta mengoptimalkan potensi bonus demografi.

BACA JUGA:  Pemerintah Siapkan Perpres Penggunaan AI dalam Proses BAP

Tantangan Baru Pasca-PSAK 117 dan Peluang Ekspor SDM
Di balik kelancaran pelaporan keuangan perusahaan asuransi dan reasuransi berbasis PSAK 117 yang telah diselesaikan, para aktuaris kini dihadapkan pada rentetan tantangan baru. Beberapa fokus utama yang harus dikuasai dalam tahun-tahun mendatang meliputi implementasi kecerdasan buatan, penerapan PSAK 408, penerapan Insurance Capital Standard (ICS) atau Risk-Based Capital 2 (RBC 2), hingga pelaporan terkait dampak perubahan iklim (climate change).

Wakil Ketua PAI, Teguh Permana, menambahkan bahwa keahlian aktuaris saat ini sangat relevan untuk mengukur risiko riil di berbagai industri, termasuk menghitung potensi kerugian bencana seperti banjir. Kebutuhan yang tinggi ini membuat profesi aktuaris tidak lagi hanya berpusat di industri asuransi konvensional, melainkan sudah merambah ke institusi seperti BPJS Kesehatan hingga Departemen Aktuaria yang dibentuk oleh Kementerian Keuangan, bahkan Indonesia kini mulai mengekspor tenaga aktuaris ke negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, Srilanka, hingga Timur Tengah.

BACA JUGA:  DPR Desak OJK Perketat Pengawasan Kepada Influencer Kripto

Institusi PAI dan Pengakuan Gelar Profesi
Berdiri sejak 19 Oktober 1964, PAI merupakan organisasi profesi nasional yang mengontrol kepatuhan para anggotanya melalui Standar Praktek Aktuaria dan Kode Etik Aktuaris. Kiprah PAI di level global ditandai dengan keanggotaannya di International Actuarial Association (IAA) sejak 2007 serta keanggotaan di Chartered Enterprise Risk Actuary (CERA) Global Association yang baru saja diraih sejak tahun 2025 lalu.

Hingga data per 31 Maret 2026, PAI mencatat jumlah penyandang gelar profesi aktuaris di Indonesia terdiri dari 543 orang bergelar aktuaris penuh atau FSAI (Fellow of Society of Actuaries of Indonesia) dan 326 orang menyandang gelar ajun aktuaris atau ASAI (Associate of Society of Actuaries of Indonesia), sebuah kekuatan profesi yang terus dipacu pertumbuhannya demi menjaga stabilitas sistem ekonomi nasional.

 

 

SulawesiPos.com – Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI) resmi membuka gelaran tahunan ke-9 Indonesian Actuaries Summit 2026 (IAS’26) di Hotel Gammara, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (18/06/2026). Profesi aktuaris adalah ahli keuangan yang menggunakan matematika, statistika, dan teori risiko untuk menghitung, mengelola, dan memitigasi risiko keuangan di masa depan

Dengan mengusung tema besar “Breaking Boundaries, Building Futures”, perhelatan ini menjadi seruan bagi para aktuaris untuk melampaui batas konvensional profesi, memperluas peran lintas sektor di pemerintahan maupun bisnis, serta membangun ekosistem keuangan nasional yang tangguh dan visioner.

Ketua PAI, Paul Setio Kartono, menegaskan bahwa penunjukan Makassar sebagai tuan rumah merupakan simbol penting dari pertumbuhan ekonomi dan konektivitas di kawasan Indonesia Timur.

Di tengah disrupsi teknologi, PAI mendorong para aktuaris untuk tidak mengkhawatirkan kehadiran Kecerdasan Buatan (AI), melainkan mengadopsinya sebagai alat bantu yang efektif seperti halnya kalkulator dan aplikasi spreadsheet pada dekade sebelumnya guna merajai manajemen kontrol risiko masa depan.

“Melalui IAS’26, PAI ingin mengajak para aktuaris untuk melampaui batas konvensional profesi, perluasan aktuaris lintas sektor dan berkontribusi dalam membangun ekosistem keuangan yang tangguh, kompetitif dan visioner untuk masa depan industri keuangan di Indonesia,” ujar Paul dalam keterangannya.

BACA JUGA:  Diduga Sengaja Disebar Pelaku, Polisi Pastikan Foto Terduga Pelaku Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Andrie Yunus Buatan AI

Rekor Peserta dan Ekspansi Edukasi Tripartit
Gelaran IAS’26 kali ini menorehkan rekor baru dengan melibatkan lebih dari 1.000 peserta di seluruh rangkaian kegiatan. Acara puncak berupa seminar profesi diikuti oleh 400 aktuaris secara luring di Makassar dan 130 peserta secara daring, sementara sehari sebelumnya, Rabu (17/06/2026), kolaborasi tripartit antara PAI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Universitas Hasanuddin (Unhas) sukses menggelar seminar edukasi keuangan yang dihadiri oleh 500 mahasiswa serta pengurus lembaga keuangan daerah di Auditorium FK Unhas.

Sebagai bentuk komitmen perluasan dan pemasyarakatan ilmu aktuaria di luar Pulau Jawa, PAI juga menandatangani nota kesepahaman (MoU) terkait pertukaran informasi dan kerja sama pengajaran dengan Universitas Hasanuddin di Makassar serta Institut Teknologi BJ Habibie di Parepare. Sinergi ini memperkuat fakta bahwa saat ini sudah ada lebih dari 40 program studi aktuaria di seluruh Indonesia untuk merespons kebutuhan sdm lokal serta mengoptimalkan potensi bonus demografi.

BACA JUGA:  2026 dan Jam Berdetak Dunia: Ketika AI Perlahan Menggeser Manusia dari Meja Kerja

Tantangan Baru Pasca-PSAK 117 dan Peluang Ekspor SDM
Di balik kelancaran pelaporan keuangan perusahaan asuransi dan reasuransi berbasis PSAK 117 yang telah diselesaikan, para aktuaris kini dihadapkan pada rentetan tantangan baru. Beberapa fokus utama yang harus dikuasai dalam tahun-tahun mendatang meliputi implementasi kecerdasan buatan, penerapan PSAK 408, penerapan Insurance Capital Standard (ICS) atau Risk-Based Capital 2 (RBC 2), hingga pelaporan terkait dampak perubahan iklim (climate change).

Wakil Ketua PAI, Teguh Permana, menambahkan bahwa keahlian aktuaris saat ini sangat relevan untuk mengukur risiko riil di berbagai industri, termasuk menghitung potensi kerugian bencana seperti banjir. Kebutuhan yang tinggi ini membuat profesi aktuaris tidak lagi hanya berpusat di industri asuransi konvensional, melainkan sudah merambah ke institusi seperti BPJS Kesehatan hingga Departemen Aktuaria yang dibentuk oleh Kementerian Keuangan, bahkan Indonesia kini mulai mengekspor tenaga aktuaris ke negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, Srilanka, hingga Timur Tengah.

BACA JUGA:  Penipuan Catut Nama Kajati Sulsel Gunakan AI, Kejati Keluarkan Peringatan Resmi

Institusi PAI dan Pengakuan Gelar Profesi
Berdiri sejak 19 Oktober 1964, PAI merupakan organisasi profesi nasional yang mengontrol kepatuhan para anggotanya melalui Standar Praktek Aktuaria dan Kode Etik Aktuaris. Kiprah PAI di level global ditandai dengan keanggotaannya di International Actuarial Association (IAA) sejak 2007 serta keanggotaan di Chartered Enterprise Risk Actuary (CERA) Global Association yang baru saja diraih sejak tahun 2025 lalu.

Hingga data per 31 Maret 2026, PAI mencatat jumlah penyandang gelar profesi aktuaris di Indonesia terdiri dari 543 orang bergelar aktuaris penuh atau FSAI (Fellow of Society of Actuaries of Indonesia) dan 326 orang menyandang gelar ajun aktuaris atau ASAI (Associate of Society of Actuaries of Indonesia), sebuah kekuatan profesi yang terus dipacu pertumbuhannya demi menjaga stabilitas sistem ekonomi nasional.

 

 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru