SulawesiPos.com – Di era di mana Kecerdasan Buatan mampu menciptakan lagu hanya dalam hitungan menit, muncul satu pertanyaan besar: apakah mesin bisa merasakan emosi seperti manusia?
Pertanyaan ini menjadi sorotan utama dalam kuliah umum bertajuk Creative Generation: Turning Ideas, Culture, and Creativity into Global IP yang digelar di Universitas Hasanuddin (UNHAS), Kamis (23/4/2026).
Hadir sebagai pembicara utama, Yovie Widianto musisi legendaris sekaligus Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif mengajak mahasiswa merenungkan posisi manusia di tengah derasnya disrupsi teknologi.
AI Bisa Ciptakan Lagu, Tapi Tak Punya Rasa
Dalam pemaparannya, Yovie mengakui bahwa perkembangan AI telah memasuki ranah yang dulu dianggap eksklusif bagi manusia, seperti mencipta melodi, menulis lirik, hingga mengaransemen lagu secara utuh.
“Fenomena ini memicu refleksi mendalam. Banyak profesi kreatif mulai mempertanyakan makna perjalanan panjang yang selama ini mereka jalani,” ujarnya di hadapan ratusan mahasiswa di Arsjad Rasjid Lecture Theatre.
Namun, menurutnya, keunggulan manusia tidak terletak pada kecepatan, melainkan pada kemampuan memberi makna.
“Manusia adalah pemakna. AI boleh jadi mitra, tetapi tidak akan menggantikan kepekaan, pengalaman, dan keberanian manusia dalam berkarya,” tegasnya.
Kreativitas Bukan Soal Spektakuler, Tapi Adaptif
Yovie menekankan bahwa inovasi tidak selalu harus besar dan revolusioner.
Justru, kemampuan berpikir adaptif dan menghadirkan solusi menjadi kunci utama di era digital.
Ia mendorong generasi muda untuk tidak takut berkolaborasi dengan teknologi, termasuk AI, selama tetap menjaga nilai dan identitas dalam karya.
Budaya Harus Diolah, Bukan Dibekukan
Dalam sesi tersebut, Yovie juga menyoroti pentingnya menghidupkan budaya melalui pendekatan kreatif.
Menurutnya, tradisi tidak boleh hanya disimpan sebagai warisan statis.
“Kreativitas adalah cara paling relevan untuk merawat budaya. Seperti mengaransemen ulang karya lama menjadi bentuk baru yang lebih segar,” jelasnya.
Dengan dukungan strategi branding, storytelling, dan distribusi digital, budaya lokal Indonesia berpotensi menembus pasar global.
UNHAS Siap Cetak Generasi Kreatif Global
Rektor Universitas Hasanuddin, Jamaluddin Jompa, turut mengapresiasi antusiasme mahasiswa dalam kegiatan ini.
Menurutnya, mahasiswa UNHAS tidak hanya mampu menciptakan karya, tetapi juga menyampaikan makna di balik proses kreatif tersebut.
“Dari Unhas, kita menavigasi dunia,” ujarnya.
Kolaborasi Manusia dan AI Jadi Kunci Masa Depan
Menutup kuliah umum, Yovie menegaskan bahwa tantangan Indonesia bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi memastikan inovasi tetap berakar pada budaya.
Menurutnya, sinergi antara manusia dan AI akan menjadi kekuatan besar bagi Indonesia di masa depan.
“Jika kita bisa merawat budaya dan berkolaborasi dengan teknologi, Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi pusat ekonomi kreatif dunia,” pungkasnya.

