Trump Pecat Menteri Angkatan Laut AS di Tengah Ketegangan Iran

SulawesiPos.com – Ketegangan internal di militer Amerika Serikat kembali mencuat setelah Menteri Angkatan Laut John Phelan dilaporkan dipecat secara mendadak.

Keputusan tersebut diambil oleh Presiden Donald Trump pada Rabu (22/4/2026) waktu setempat, di tengah situasi geopolitik yang memanas.

Pemecatan ini disebut sebagai bagian dari langkah perombakan internal yang dilakukan selama masa konflik.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Pete Hegseth juga memberhentikan sejumlah pejabat tinggi militer, termasuk jenderal senior Angkatan Darat.

Namun, pihak Pentagon tidak memberikan penjelasan rinci terkait alasan pencopotan Phelan.

Dalam pernyataan resminya, Pentagon hanya menyebut bahwa Phelan “meninggalkan pemerintahan, efektif segera”.

Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, menyampaikan apresiasi atas pengabdian Phelan.

“Atas nama Menteri Perang dan Wakil Menteri Perang, kami berterima kasih kepada Sekretaris Phelan atas pengabdiannya,” ujarnya.

Sebagai langkah cepat menjaga stabilitas komando, Wakil Menteri Angkatan Laut Hung Cao ditunjuk sebagai pelaksana harian (acting secretary).

Penunjukan ini dilakukan di tengah situasi sensitif yang membutuhkan kesinambungan kepemimpinan militer.

BACA JUGA: 
Trump Ultimatum Iran 48 Jam, Konflik Timur Tengah Kian Memanas

Gelombang Pergantian Pejabat Tinggi

Pemecatan Phelan menambah daftar panjang pergantian pejabat tinggi militer AS dalam beberapa waktu terakhir.

Sebelumnya, Kepala Staf Angkatan Darat Randy George juga diberhentikan tanpa penjelasan resmi, yang disebut terkait ketegangan internal dengan Daniel Driscoll.

Sejumlah posisi strategis lain, termasuk pimpinan operasi Angkatan Laut dan pejabat tinggi Angkatan Udara, juga mengalami perombakan.

Pergolakan internal ini terjadi di tengah gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran.

Washington saat ini terus memperkuat kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah, terutama melalui pengerahan kekuatan laut.

Strategi tersebut menjadi bagian dari tekanan terhadap Iran agar kembali ke meja perundingan sesuai kepentingan AS.

SulawesiPos.com – Ketegangan internal di militer Amerika Serikat kembali mencuat setelah Menteri Angkatan Laut John Phelan dilaporkan dipecat secara mendadak.

Keputusan tersebut diambil oleh Presiden Donald Trump pada Rabu (22/4/2026) waktu setempat, di tengah situasi geopolitik yang memanas.

Pemecatan ini disebut sebagai bagian dari langkah perombakan internal yang dilakukan selama masa konflik.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Pete Hegseth juga memberhentikan sejumlah pejabat tinggi militer, termasuk jenderal senior Angkatan Darat.

Namun, pihak Pentagon tidak memberikan penjelasan rinci terkait alasan pencopotan Phelan.

Dalam pernyataan resminya, Pentagon hanya menyebut bahwa Phelan “meninggalkan pemerintahan, efektif segera”.

Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, menyampaikan apresiasi atas pengabdian Phelan.

“Atas nama Menteri Perang dan Wakil Menteri Perang, kami berterima kasih kepada Sekretaris Phelan atas pengabdiannya,” ujarnya.

Sebagai langkah cepat menjaga stabilitas komando, Wakil Menteri Angkatan Laut Hung Cao ditunjuk sebagai pelaksana harian (acting secretary).

Penunjukan ini dilakukan di tengah situasi sensitif yang membutuhkan kesinambungan kepemimpinan militer.

BACA JUGA: 
Sikap AS Dinilai Inkonsisten, Kemarin Ingin Damai Sekarang Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Energi Iran

Gelombang Pergantian Pejabat Tinggi

Pemecatan Phelan menambah daftar panjang pergantian pejabat tinggi militer AS dalam beberapa waktu terakhir.

Sebelumnya, Kepala Staf Angkatan Darat Randy George juga diberhentikan tanpa penjelasan resmi, yang disebut terkait ketegangan internal dengan Daniel Driscoll.

Sejumlah posisi strategis lain, termasuk pimpinan operasi Angkatan Laut dan pejabat tinggi Angkatan Udara, juga mengalami perombakan.

Pergolakan internal ini terjadi di tengah gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran.

Washington saat ini terus memperkuat kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah, terutama melalui pengerahan kekuatan laut.

Strategi tersebut menjadi bagian dari tekanan terhadap Iran agar kembali ke meja perundingan sesuai kepentingan AS.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru