Overview
- Inflasi Sulawesi Selatan pada Januari 2026 tercatat sebesar 4,11 persen secara tahunan, dipicu terutama oleh kenaikan tarif listrik akibat tidak adanya diskon seperti tahun sebelumnya.
- Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang inflasi tertinggi, disusul kenaikan harga pangan dan komoditas perikanan.
- Secara wilayah, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sidenreng Rappang, sementara Kota Makassar mencatat inflasi terendah di Sulsel.
SulawesiPos.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan mencatat laju inflasi tahunan pada Januari 2026 mencapai 4,11 persen secara year on year (yoy), dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) berada di level 109,79, dipengaruhi oleh perubahan kebijakan tarif listrik dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala Bagian Umum BPS Sulsel, Khaerul Agus, menjelaskan bahwa lonjakan inflasi tahunan tersebut terutama dipicu oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mencatat kenaikan tertinggi hingga 11,67 persen.
“Pada Januari 2025 ada diskon listrik, sedangkan Januari 2026 tidak ada diskon listrik, ini menjadikan secara tahunan kenaikan kelompok ini tinggi,” katanya.
Selain sektor perumahan dan energi, tekanan inflasi juga datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami kenaikan indeks sebesar 3,59 persen, seiring meningkatnya harga sejumlah bahan pangan.
Beberapa kelompok pengeluaran lain turut mengalami kenaikan meski relatif moderat, seperti kesehatan sebesar 1,5 persen, transportasi 0,2 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya 0,9 persen, pendidikan 0,83 persen, serta penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 1,52 persen.
Inflasi Daerah Bervariasi, Sidrap Tertinggi
Di tengah tren kenaikan tersebut, BPS mencatat masih terdapat kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi, antara lain pakaian dan alas kaki yang turun 0,3 persen, perlengkapan dan pemeliharaan rumah tangga turun 0,34 persen, serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang terkoreksi 0,39 persen.

