Warna-warni Maudu Lompoa di Cikoang: Merawat Nilai Agama dan Kearifan Lokal yang Terus Mengakar

SulawesiPos.com — Matahari mulai meninggi di langit Cikoang. Jarum jam menunjukkan pukul 07.30 Wita ketika suasana di Desa Cikoang, Kecamatan Laikang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan (Sulsel), perlahan berubah ramai.

Pantauan reporter SulawesiPos.com di lokasi, warga mulai berdatangan dari berbagai penjuru.

Mereka membawa sesuatu yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari: julung-julung, kapal kayu yang dihias meriah dengan kain warna-warni, sarung, hingga baju bermotif yang digantung pada tiang dan dibentuk menyerupai layar perahu.

Dari dekat, setiap julung-julung memiliki tampilan yang berbeda. Ada yang dipenuhi warna mencolok, ada pula yang dihiasi dengan berbagai perlengkapan rumah tangga.

Salah satu julung-julung di perayaan Maudu Lompoa di Desa Cikoang, Kabupaten Takalar pada Kamis (10/9/2026). Foto: SPos/Abud.

Di dalam kapal-kapal kayu tersebut tersimpan beragam bahan pokok dan hasil bumi dari wilayah sekitar Takalar. Telur yang telah diberi warna-warni juga menjadi bagian dari isian.

Pakaian, celana, pasta gigi, sabun, hingga berbagai kebutuhan sehari-hari turut ditempatkan di dalamnya.

Bagi masyarakat Cikoang, berbagai isi dan hiasan itu bukan sekadar pemanis. Julung-julung menjadi simbolisasi perjalanan masuknya ajaran Islam ke wilayah Cikoang yang dipercaya dibawa oleh para pedagang.

BACA JUGA:  Mobil Tangki Solar Bersubsidi Diamankan di Toraja Utara, Sopir Diperiksa

Tak hanya kebutuhan sehari-hari, warga juga menghadirkan Baku Maudu, bakul besar yang dibuat dari anyaman daun lontar.

Di dalamnya terdapat makanan khas songkolo’ yang dilengkapi lauk ayam kampung.

Seiring waktu, kreativitas warga membuat isi julung-julung semakin beragam. Uang, kebutuhan rumah tangga, hingga hadiah-hadiah turut menghiasi kapal-kapal tersebut.

Ratusan Julung-julung Diarak

Salah satu julung-julung diarak masyarakat dalam perayaan Maudu Lompoa di Desa Cikoang, Kabupaten Takalar pada Kamis (10/9/2026). Foto: SPos/Abud.

Sekitar pukul 08.00 Wita, suasana semakin semarak. Satu per satu julung-julung mulai diarak. Warga bergotong royong mengangkat kapal-kapal kayu tersebut menuju titik pelaksanaan prosesi. Jumlahnya mencapai ratusan.

Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa ikut larut dalam keramaian. Teriakan dan sorak-sorai sesekali terdengar di antara barisan warga yang mengarak julung-julung.

Tawa pecah ketika sejumlah warga saling mencipratkan air. Suasana yang awalnya khidmat berubah menjadi riuh dan penuh kegembiraan.

Beberapa orang bahkan naik ke atas julung-julung. Mereka memainkan alat musik tradisional seperti gendang, sepasang gong kecil, hingga gong berukuran besar.

SulawesiPos.com — Matahari mulai meninggi di langit Cikoang. Jarum jam menunjukkan pukul 07.30 Wita ketika suasana di Desa Cikoang, Kecamatan Laikang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan (Sulsel), perlahan berubah ramai.

Pantauan reporter SulawesiPos.com di lokasi, warga mulai berdatangan dari berbagai penjuru.

Mereka membawa sesuatu yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari: julung-julung, kapal kayu yang dihias meriah dengan kain warna-warni, sarung, hingga baju bermotif yang digantung pada tiang dan dibentuk menyerupai layar perahu.

Dari dekat, setiap julung-julung memiliki tampilan yang berbeda. Ada yang dipenuhi warna mencolok, ada pula yang dihiasi dengan berbagai perlengkapan rumah tangga.

Salah satu julung-julung di perayaan Maudu Lompoa di Desa Cikoang, Kabupaten Takalar pada Kamis (10/9/2026). Foto: SPos/Abud.

Di dalam kapal-kapal kayu tersebut tersimpan beragam bahan pokok dan hasil bumi dari wilayah sekitar Takalar. Telur yang telah diberi warna-warni juga menjadi bagian dari isian.

Pakaian, celana, pasta gigi, sabun, hingga berbagai kebutuhan sehari-hari turut ditempatkan di dalamnya.

Bagi masyarakat Cikoang, berbagai isi dan hiasan itu bukan sekadar pemanis. Julung-julung menjadi simbolisasi perjalanan masuknya ajaran Islam ke wilayah Cikoang yang dipercaya dibawa oleh para pedagang.

BACA JUGA:  Diduga Persoalan Jatah BBM, Dua Pemuda Nyaris Adu Parang di SPBU Ammessangeng

Tak hanya kebutuhan sehari-hari, warga juga menghadirkan Baku Maudu, bakul besar yang dibuat dari anyaman daun lontar.

Di dalamnya terdapat makanan khas songkolo’ yang dilengkapi lauk ayam kampung.

Seiring waktu, kreativitas warga membuat isi julung-julung semakin beragam. Uang, kebutuhan rumah tangga, hingga hadiah-hadiah turut menghiasi kapal-kapal tersebut.

Ratusan Julung-julung Diarak

Salah satu julung-julung diarak masyarakat dalam perayaan Maudu Lompoa di Desa Cikoang, Kabupaten Takalar pada Kamis (10/9/2026). Foto: SPos/Abud.

Sekitar pukul 08.00 Wita, suasana semakin semarak. Satu per satu julung-julung mulai diarak. Warga bergotong royong mengangkat kapal-kapal kayu tersebut menuju titik pelaksanaan prosesi. Jumlahnya mencapai ratusan.

Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa ikut larut dalam keramaian. Teriakan dan sorak-sorai sesekali terdengar di antara barisan warga yang mengarak julung-julung.

Tawa pecah ketika sejumlah warga saling mencipratkan air. Suasana yang awalnya khidmat berubah menjadi riuh dan penuh kegembiraan.

Beberapa orang bahkan naik ke atas julung-julung. Mereka memainkan alat musik tradisional seperti gendang, sepasang gong kecil, hingga gong berukuran besar.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru