Warna-warni Maudu Lompoa di Cikoang: Merawat Nilai Agama dan Kearifan Lokal yang Terus Mengakar

Masyarakat memainkan alat musik saat mengarak julung-julung dalam perayaan Maudu Lompoa di Desa Cikoang, Kabupaten Takalar pada Kamis (10/9/2026). Foto: SPos/Abud.

Tabuhan musik mengiringi langkah warga yang terus bergerak. Kapal-kapal kayu yang penuh warna itu perlahan memenuhi jalur menuju Sungai Cikoang.

Di sepanjang perjalanan, masyarakat tampak menikmati setiap bagian dari prosesi.

Tidak hanya sebagai ritual keagamaan dan tradisi, momen tersebut menjadi ruang bagi warga untuk berkumpul, bersilaturahmi, dan merayakan warisan budaya yang terus dipertahankan.

Arak-arakan berlangsung hingga sekitar pukul 12.00 Wita.

Ratusan julung-julung kemudian dibawa ke tepian Sungai Cikoang untuk dilayarkan.

Diselingi dengan Ma’rate

Setelah prosesi pelayaran julung-julung, rangkaian kegiatan berlanjut dengan zikir setelah salat Zuhur.

Prosesi tersebut dikenal masyarakat setempat sebagai Ma’rate dan dilaksanakan di rumah adat yang berada di dekat Sungai Cikoang.

Suasana kembali berubah. Setelah sebelumnya dipenuhi suara musik, sorakan, dan tawa warga, masyarakat kemudian mengikuti rangkaian zikir dengan suasana yang lebih khidmat.

Ma’rate menjadi salah satu bagian penting dari rangkaian tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Cikoang.

BACA JUGA:  Pria di Makassar Cabuli Gadis 12 Tahun, Aksi Dilakukan Berulang Kali

Setelah prosesi selesai, perhatian warga kembali tertuju kepada julung-julung.

Isi kapal kemudian dibagikan kepada masyarakat dan para tamu yang hadir. Di sinilah salah satu momen yang paling ditunggu.

Warga beramai-ramai berebut mengambil hadiah dan berbagai barang yang sebelumnya ditempatkan di dalam julung-julung. Anak-anak dan orang dewasa sama-sama antusias.

Tawa dan kegembiraan kembali memenuhi suasana di sekitar Sungai Cikoang.

Masyarakat memainkan alat musik saat mengarak julung-julung dalam perayaan Maudu Lompoa di Desa Cikoang, Kabupaten Takalar pada Kamis (10/9/2026). Foto: SPos/Abud.

Tabuhan musik mengiringi langkah warga yang terus bergerak. Kapal-kapal kayu yang penuh warna itu perlahan memenuhi jalur menuju Sungai Cikoang.

Di sepanjang perjalanan, masyarakat tampak menikmati setiap bagian dari prosesi.

Tidak hanya sebagai ritual keagamaan dan tradisi, momen tersebut menjadi ruang bagi warga untuk berkumpul, bersilaturahmi, dan merayakan warisan budaya yang terus dipertahankan.

Arak-arakan berlangsung hingga sekitar pukul 12.00 Wita.

Ratusan julung-julung kemudian dibawa ke tepian Sungai Cikoang untuk dilayarkan.

Diselingi dengan Ma’rate

Setelah prosesi pelayaran julung-julung, rangkaian kegiatan berlanjut dengan zikir setelah salat Zuhur.

Prosesi tersebut dikenal masyarakat setempat sebagai Ma’rate dan dilaksanakan di rumah adat yang berada di dekat Sungai Cikoang.

Suasana kembali berubah. Setelah sebelumnya dipenuhi suara musik, sorakan, dan tawa warga, masyarakat kemudian mengikuti rangkaian zikir dengan suasana yang lebih khidmat.

Ma’rate menjadi salah satu bagian penting dari rangkaian tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Cikoang.

BACA JUGA:  Jukir Liar Makassar Curi HP di Laci Motor, CCTV Bongkar Aksi

Setelah prosesi selesai, perhatian warga kembali tertuju kepada julung-julung.

Isi kapal kemudian dibagikan kepada masyarakat dan para tamu yang hadir. Di sinilah salah satu momen yang paling ditunggu.

Warga beramai-ramai berebut mengambil hadiah dan berbagai barang yang sebelumnya ditempatkan di dalam julung-julung. Anak-anak dan orang dewasa sama-sama antusias.

Tawa dan kegembiraan kembali memenuhi suasana di sekitar Sungai Cikoang.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru