SulawesiPos.com — Matahari mulai meninggi di langit Cikoang. Jarum jam menunjukkan pukul 07.30 Wita ketika suasana di Desa Cikoang, Kecamatan Laikang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan (Sulsel), perlahan berubah ramai.
Pantauan reporter SulawesiPos.com di lokasi, warga mulai berdatangan dari berbagai penjuru.
Mereka membawa sesuatu yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari: julung-julung, kapal kayu yang dihias meriah dengan kain warna-warni, sarung, hingga baju bermotif yang digantung pada tiang dan dibentuk menyerupai layar perahu.
Dari dekat, setiap julung-julung memiliki tampilan yang berbeda. Ada yang dipenuhi warna mencolok, ada pula yang dihiasi dengan berbagai perlengkapan rumah tangga.

Di dalam kapal-kapal kayu tersebut tersimpan beragam bahan pokok dan hasil bumi dari wilayah sekitar Takalar. Telur yang telah diberi warna-warni juga menjadi bagian dari isian.
Pakaian, celana, pasta gigi, sabun, hingga berbagai kebutuhan sehari-hari turut ditempatkan di dalamnya.
Bagi masyarakat Cikoang, berbagai isi dan hiasan itu bukan sekadar pemanis. Julung-julung menjadi simbolisasi perjalanan masuknya ajaran Islam ke wilayah Cikoang yang dipercaya dibawa oleh para pedagang.
Tak hanya kebutuhan sehari-hari, warga juga menghadirkan Baku Maudu, bakul besar yang dibuat dari anyaman daun lontar.
Di dalamnya terdapat makanan khas songkolo’ yang dilengkapi lauk ayam kampung.
Seiring waktu, kreativitas warga membuat isi julung-julung semakin beragam. Uang, kebutuhan rumah tangga, hingga hadiah-hadiah turut menghiasi kapal-kapal tersebut.
Ratusan Julung-julung Diarak

Sekitar pukul 08.00 Wita, suasana semakin semarak. Satu per satu julung-julung mulai diarak. Warga bergotong royong mengangkat kapal-kapal kayu tersebut menuju titik pelaksanaan prosesi. Jumlahnya mencapai ratusan.
Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa ikut larut dalam keramaian. Teriakan dan sorak-sorai sesekali terdengar di antara barisan warga yang mengarak julung-julung.
Tawa pecah ketika sejumlah warga saling mencipratkan air. Suasana yang awalnya khidmat berubah menjadi riuh dan penuh kegembiraan.
Beberapa orang bahkan naik ke atas julung-julung. Mereka memainkan alat musik tradisional seperti gendang, sepasang gong kecil, hingga gong berukuran besar.

Tabuhan musik mengiringi langkah warga yang terus bergerak. Kapal-kapal kayu yang penuh warna itu perlahan memenuhi jalur menuju Sungai Cikoang.
Di sepanjang perjalanan, masyarakat tampak menikmati setiap bagian dari prosesi.
Tidak hanya sebagai ritual keagamaan dan tradisi, momen tersebut menjadi ruang bagi warga untuk berkumpul, bersilaturahmi, dan merayakan warisan budaya yang terus dipertahankan.
Arak-arakan berlangsung hingga sekitar pukul 12.00 Wita.
Ratusan julung-julung kemudian dibawa ke tepian Sungai Cikoang untuk dilayarkan.
Diselingi dengan Ma’rate
Setelah prosesi pelayaran julung-julung, rangkaian kegiatan berlanjut dengan zikir setelah salat Zuhur.
Prosesi tersebut dikenal masyarakat setempat sebagai Ma’rate dan dilaksanakan di rumah adat yang berada di dekat Sungai Cikoang.
Suasana kembali berubah. Setelah sebelumnya dipenuhi suara musik, sorakan, dan tawa warga, masyarakat kemudian mengikuti rangkaian zikir dengan suasana yang lebih khidmat.
Ma’rate menjadi salah satu bagian penting dari rangkaian tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Cikoang.
Setelah prosesi selesai, perhatian warga kembali tertuju kepada julung-julung.
Isi kapal kemudian dibagikan kepada masyarakat dan para tamu yang hadir. Di sinilah salah satu momen yang paling ditunggu.
Warga beramai-ramai berebut mengambil hadiah dan berbagai barang yang sebelumnya ditempatkan di dalam julung-julung. Anak-anak dan orang dewasa sama-sama antusias.
Tawa dan kegembiraan kembali memenuhi suasana di sekitar Sungai Cikoang.

