SulawesiPos.com — Ada sejumlah istilah dalam percakapan sehari-hari masyarakat Makassar-Bugis yang terdengar sederhana, tetapi kerap membuat orang dari luar daerah bertanya-tanya tentang arti sebenarnya.
Bagi masyarakat setempat, kata-kata seperti “kodong”, “tawwa”, hingga “ewako” sudah sangat akrab dan sering digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Namun, ketika diterjemahkan langsung ke dalam bahasa Indonesia, sejumlah istilah tersebut terkadang terasa tidak memiliki padanan yang benar-benar menggambarkan maksudnya.
Dosen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (Unhas), Burhan Kadir, S.S., M.A menjelaskan makna dan penggunaan sejumlah istilah tersebut dalam konteks percakapan masyarakat Makassar-Bugis.
Berikut tiga istilah Makassar-Bugis yang kerap membuat orang luar daerah bingung ketika mendengarnya.
1. Kodong
Kata “kodong” merupakan salah satu istilah yang sangat sering terdengar dalam percakapan masyarakat Makassar dan biasanya digunakan untuk menunjukkan rasa iba atau simpati terhadap seseorang.
Dosen Sastra Daerah FIB Unhas Burhan Kadir menjelaskan bahwa jika diartikan secara langsung, “kodong” memiliki makna “kasihan”.
“Kalau dari kata kodong itu bentuk kasihan sebenarnya. Lebih kepada rasa iba, simpati, prihatin, atau karena misalnya ada rasa sayang gitu terhadap seseorang, akhirnya muncul kata itu,” ujarnya.
Penggunaan kata “kodong” juga sangat bergantung pada konteks percakapan dan kondisi orang yang sedang dibicarakan.
Karena itu, satu kata tersebut bisa membawa nuansa iba, prihatin, simpati, maupun rasa sayang.
2. Tawwa
Istilah berikutnya yang cukup sering membuat orang luar Makassar bertanya-tanya adalah “tawwa”.
Dalam percakapan sehari-hari, “tawwa” biasanya muncul di penghujung kalimat dan dapat digunakan untuk mengungkapkan rasa kagum terhadap sesuatu.
“Tawwa itu kan karena lebih kepada rasa kagum sebenarnya ya. Misalnya ‘bagus sekali tawwa toh’,” jelas dosen FIB Unhas itu.
Selain menunjukkan kekaguman, “tawwa” juga dapat digunakan untuk memberikan penekanan terhadap suatu pernyataan.
“Tawwa itu juga begitu, dia penegasan tapi dalam hal-hal tertentu. Ada juga yang misalnya ‘di sini kita tinggal toh?’ Langsung dia bilang ‘jauh sekali rumahnya tawwa toh’,” jelas dia.
Dalam percakapan yang lebih santai, penggunaan “tawwa” juga dapat membawa nuansa mengolok yang terdengar menggelitik, tetapi tetap digunakan untuk memberikan penegasan.
Dengan demikian, “tawwa” tidak selalu dapat diterjemahkan dengan satu kata tertentu dalam bahasa Indonesia karena maknanya sangat dipengaruhi konteks percakapan.
4. Ewako
“Ewako” menjadi istilah lain yang sangat identik dengan masyarakat Makassar dan kerap terdengar dalam berbagai situasi, termasuk ketika memberikan semangat.

