Istilah tersebut bahkan dapat disebut sebagai salah satu jargon sekaligus branding yang melekat pada bahasa Makassar.
Burhan menjelaskan bahwa secara harfiah, “ewako” memiliki arti “lawan”.
“Ewako itu kan sebenarnya kalau bahasa Indonesianya itu lawan. Dia penyemangat sebenarnya toh. Dia membakar semangat itu,” katanya.
Menurutnya, penggunaan kata tersebut juga berkaitan dengan gambaran masyarakat Bugis-Makassar yang kerap dianggap sebagai “ayam jantan dari timur”.
Ia kemudian menjelaskan asal penggunaan istilah tersebut.
“Dan kata ewako itu dari kata rewako gitu toh,” imbuhnya.
Karena penggunaannya sebagai penyemangat, “ewako” kemudian tidak sekadar dipahami berdasarkan arti harfiahnya, tetapi juga menjadi ungkapan yang menggambarkan keberanian dan dorongan untuk menghadapi sesuatu.
Ketiga istilah tersebut menunjukkan bahwa bahasa daerah tidak selalu dapat diterjemahkan secara harfiah ke dalam bahasa Indonesia.
Konteks, intonasi, dan situasi percakapan turut menentukan makna yang ingin disampaikan, sehingga kata yang bagi masyarakat Makassar-Bugis terasa biasa saja bisa terdengar unik dan membingungkan bagi orang dari luar daerah.

