SulawesiPos.com – Arab Saudi, Turki, dan Uni Emirat Arab sepanjang 2026 semakin memperluas pengaruh ekonomi serta keamanannya di Afrika melalui investasi bernilai puluhan hingga ratusan miliar dolar AS, pengelolaan pelabuhan, diplomasi, industri pertahanan, dan kerja sama militer demi mengamankan mineral kritis, lahan produktif, pasar baru, serta jalur perdagangan strategis di Laut Merah, Selat Bab el-Mandeb, dan Teluk Aden.
Perkembangan tersebut dilaporkan RT Arabic pada 15 Agustus 2026, dengan merujuk antara lain pada analisis Australian Broadcasting Corporation (ABC) dan data investasi yang pernah dipublikasikan Financial Times.
Persaingan itu tidak lagi berbentuk pendudukan kolonial seperti pada abad ke-19, tetapi bergerak melalui modal, konsesi pertambangan, pembangunan infrastruktur, jaringan logistik, kerja sama pertahanan, dan penguasaan simpul perdagangan.
Afrika menjadi magnet baru karena memiliki pasar yang berkembang, penduduk berusia muda, lahan pertanian luas, posisi geografis yang menghubungkan Samudra Hindia, Laut Merah, Mediterania, dan Atlantik, serta cadangan mineral yang sangat penting bagi teknologi masa depan.
Naskah The Conservative yang dipublikasikan pada 29 Agustus 2023 sebelumnya menggambarkan Afrika sebagai arena persaingan Amerika Serikat dan China, tetapi perkembangan mutakhir menunjukkan bahwa kekuatan Asia Barat seperti Saudi dan UEA, bersama Turki, kini semakin aktif membentuk lapisan persaingan baru.
Laut Merah Menjadi Gerbang Perebutan Pengaruh
Arab Saudi pada 2026 memimpin pembentukan aliansi pertahanan maritim multinasional untuk melindungi pelayaran niaga dan jalur energi di Laut Merah, Bab el-Mandeb, serta Teluk Aden, dengan 13 negara lain dilaporkan mendukung pembentukan awalnya.
Aliansi tersebut tidak hanya berkaitan dengan keamanan kapal, sebab Bab el-Mandeb merupakan salah satu titik sempit perdagangan dunia yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Terusan Suez dan pasar Eropa.
Gangguan keamanan di jalur ini dapat meningkatkan ongkos asuransi, memperpanjang waktu pengiriman, menaikkan harga energi, serta memaksa kapal memutar ribuan kilometer melewati Tanjung Harapan di Afrika Selatan.
Turki dan Pakistan turut mendukung inisiatif maritim Saudi setelah ketiga negara menandatangani Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah pada 7 Agustus 2026, yang menetapkan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu penandatangan dipandang sebagai serangan terhadap semuanya.
Pakta itu digambarkan para penandatangan sebagai mekanisme pertahanan yang tidak diarahkan kepada negara tertentu, sedangkan rincian kewajiban operasional dan kontribusi pasukannya masih perlu dilihat melalui implementasi berikutnya.
Turki membawa modal strategis berupa industri pesawat nirawak, pengalaman operasi lintas batas, jaringan diplomatik yang luas, serta keterlibatan keamanan di Libya dan Somalia.
Ankara juga memperkuat hubungan dengan Afrika melalui pembukaan kantor diplomatik, perluasan penerbangan Turkish Airlines, perdagangan, pembangunan infrastruktur, pendidikan, bantuan kemanusiaan, dan penjualan perlengkapan pertahanan.
Mineral Kritis Menjadi Hadiah Terbesar
Afrika memiliki cadangan besar kobalt, mangan, grafit, tembaga, litium, platinum, dan unsur tanah jarang yang dibutuhkan untuk kendaraan listrik, penyimpanan energi, semikonduktor, turbin angin, sistem komunikasi, serta teknologi pertahanan.
Nilai strategis sumber daya tersebut semakin meningkat karena transisi energi dunia membutuhkan mineral jauh lebih banyak dibandingkan sistem energi berbasis bahan bakar fosil.
Republik Demokratik Kongo memegang posisi sangat kuat dalam pasokan kobalt dunia, sementara Zimbabwe menjadi salah satu produsen penting konsentrat spodumene yang digunakan sebagai bahan baku litium.
Pemerintah Kongo mengganti larangan ekspor kobaltnya dengan sistem kuota sejak Oktober 2025 untuk mengendalikan pasokan dan harga, sedangkan Zimbabwe melarang ekspor mineral mentah serta konsentrat litium pada Februari 2026 guna mendorong pengolahan domestik.
Mozambik juga mengesahkan aturan baru pada 2026 yang mewajibkan kepemilikan negara sedikitnya 15 persen dalam proyek pertambangan dan mendorong pemrosesan mineral di dalam negeri.

