SulawesiPos.com – Saat Makassar dan sejumlah kota di Indonesia masih ribut dengan sampah campuran, sejumlah negara sudah lebih dulu menekan persoalan itu sejak dari rumah. Jerman, Korea Selatan, dan Jepang menjadi tiga rujukan yang paling sering dibahas karena sama-sama memaksa pemilahan dari sumber, tetapi memakai jalur yang berbeda, mulai dari sistem bin berlapis, pungutan berbasis volume, hingga jadwal pembuangan yang sangat rinci.
Di Eropa, Jerman masih menjadi salah satu acuan terkuat untuk pengelolaan sampah rumah tangga.
Data resmi Eurostat yang diperbarui pada 30 Maret 2026 mencatat recycling rate municipal waste Jerman pada 2024 berada di angka 67,1 persen.
Angka itu menempatkan Jerman jauh di atas rata-rata Uni Eropa yang berada di kisaran 48,1 persen pada tahun yang sama.
Kekuatan sistem Jerman bukan hanya pada angka daur ulang, tetapi pada kedisiplinan pemilahan di level rumah tangga.
Badan Lingkungan Federal Jerman menjelaskan warga memakai sistem “5-chamber system”, yakni memisahkan kaca, kertas dan karton, kemasan plastik atau logam, sampah organik, dan sampah residu.
Kaca bahkan tetap dipisahkan lagi berdasarkan warna, sementara bahan yang tak masuk arus rumah tangga biasa diarahkan ke depo lingkungan atau recycling yard.
Model itu membuat pemilahan tidak berhenti di slogan. Sampah yang keluar dari rumah sudah ditempatkan ke alur yang berbeda sejak awal, sehingga beban pencampuran ulang di hilir bisa ditekan.
Korea Selatan menempuh jalur yang lebih keras terutama untuk sampah makanan.
Di Seoul, pemerintah kota kini menampilkan sistem yang banyak dirujuk kota-kota lain: sampah makanan dipisahkan tersendiri, dimasukkan ke fasilitas berlabel atau RFID-tagged bins, lalu dibebankan biaya sesuai volume atau berat dalam pola pay-as-you-throw.

