SulawesiPos.com – Abdul Rahman Tahir meninggalkan karier mapan sebagai manajer di sebuah perusahaan jasa keuangan demi membangun Alibaba Bakery, usaha roti yang ia rintis dari nol agar bisa tetap dekat dengan istri dan anak-anaknya.
Keputusan itu tidak lahir dari ruang yang nyaman, melainkan dari kegelisahan karena pekerjaan membuatnya terlalu sering berpindah kota dan kehilangan banyak momen bersama keluarga.
Di tengah penghasilan tetap yang menjanjikan, pria yang akrab disapa Arman ini mulai mempertanyakan arah hidup yang dijalaninya. Baginya, karier tidak lagi cukup jika harus dibayar dengan jarak yang terus melebar dari orang-orang terdekat di rumah.
“Saya semakin sering jauh dari istri dan anak-anak. Saya mulai kehilangan banyak momen penting bersama keluarga,” kenangnya.
Dari kegelisahan itulah, lulusan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin ini memutuskan keluar dari zona nyaman dan memilih pulang untuk membangun usaha sendiri.
Dunia bakery menjadi jalur yang ia pilih, meski saat itu ia tidak datang dari latar keluarga pembuat roti dan belum memiliki pengalaman panjang di bidang tersebut.
Belajar dari Roti Gosong hingga Ditolak Toko
Fase awal Alibaba Bakery diwarnai kegagalan yang datang nyaris setiap hari. Abdul Rahman berkali-kali mengulang resep, membuang adonan yang tidak sesuai, menghadapi roti bantat, tekstur keras, hingga hasil panggangan gosong yang tidak layak dijual, di workshopnya, Jalan Toddopuli 5 Setapak 8 no 25, Makassar.
Dengan modal terbatas, ia juga harus cermat menghitung pembelian bahan baku sambil menjalankan hampir semua pekerjaan sendiri, mulai dari membuat adonan, mengoperasikan oven, mengemas produk, memasarkan, mengantar pesanan, hingga menagih pembayaran.
Setelah produksi selesai, tantangan belum berhenti di dapur. Ia membawa roti dari satu toko ke toko lain secara door-to-door, menghadapi penolakan dari calon pelanggan yang sudah memiliki pemasok tetap, meragukan kualitas produknya, atau sekadar menerima sampel tanpa pernah melakukan pemesanan lanjutan.
“Jujur, ada saat-saat saya pulang dengan rasa kecewa. Tetapi saya selalu mengingat alasan saya memulai: Saya ingin tetap dekat dengan keluarga, dan ingin membangun warisan bagi anak-anak kelak. Karena itu, saya memilih bangkit lagi setiap kali gagal,” tuturnya.
Keteguhan itu perlahan mengubah arah usahanya. Konsistensi menjaga kualitas membuat pelanggan yang semula hanya mencoba mulai kembali memesan.

