Dari Kursi Manajer ke Dapur Roti, Abdul Rahman Tahir Bangun Alibaba Bakery demi Tetap Dekat Keluarga

Dari promosi mulut ke mulut, Alibaba Bakery kemudian tumbuh dari produsen roti sederhana menjadi pemasok berbagai kebutuhan pelaku usaha kuliner.

Dari Dapur Rumahan Menjadi Penopang UMKM Kuliner

Saat ini Alibaba Bakery tidak hanya memproduksi roti tawar dan roti manis, tetapi juga menyuplai roti burger, roti hotdog, tortilla, hingga roti maros untuk berbagai pelaku usaha.

Pertumbuhan itu membuat usahanya bukan sekadar sumber nafkah keluarga, tetapi juga bagian dari rantai pasok bagi UMKM kuliner yang ikut berkembang bersama produknya.

Bagi Abdul Rahman, ukuran keberhasilan tidak berhenti pada pertumbuhan omzet. Ia justru melihat nilai terpenting dari usahanya pada manfaat yang bisa dirasakan orang lain, termasuk terbukanya lapangan kerja dan tumbuhnya usaha kuliner yang ditopang produknya.

“Jangan takut meninggalkan zona nyaman jika itu demi sesuatu yang lebih bernilai. Gaji bisa memberikan rasa aman, tetapi keberanian untuk memulai bisa membuka peluang yang jauh lebih besar,” pesannya.

BACA JUGA:  Dari Pemasok Ikan di Pelelangan, Abi Daeng Jiwa Rintis Warung Ikan Bakar BukuJuku Langganan Pejabat

Ia menilai bisnis yang sehat semestinya tidak hanya mencetak keuntungan, tetapi juga menghadirkan waktu bersama keluarga dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.

Prinsip itulah yang kini menjadi pijakan Alibaba Bakery dalam menjaga kualitas, kejujuran, dan semangat belajar di tengah persaingan usaha.

“Bisnis yang hebat bukan hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga menghadirkan waktu bersama keluarga, membuka lapangan pekerjaan, dan memberi manfaat bagi banyak orang,” tutup Abdul Rahman.

Dari promosi mulut ke mulut, Alibaba Bakery kemudian tumbuh dari produsen roti sederhana menjadi pemasok berbagai kebutuhan pelaku usaha kuliner.

Dari Dapur Rumahan Menjadi Penopang UMKM Kuliner

Saat ini Alibaba Bakery tidak hanya memproduksi roti tawar dan roti manis, tetapi juga menyuplai roti burger, roti hotdog, tortilla, hingga roti maros untuk berbagai pelaku usaha.

Pertumbuhan itu membuat usahanya bukan sekadar sumber nafkah keluarga, tetapi juga bagian dari rantai pasok bagi UMKM kuliner yang ikut berkembang bersama produknya.

Bagi Abdul Rahman, ukuran keberhasilan tidak berhenti pada pertumbuhan omzet. Ia justru melihat nilai terpenting dari usahanya pada manfaat yang bisa dirasakan orang lain, termasuk terbukanya lapangan kerja dan tumbuhnya usaha kuliner yang ditopang produknya.

“Jangan takut meninggalkan zona nyaman jika itu demi sesuatu yang lebih bernilai. Gaji bisa memberikan rasa aman, tetapi keberanian untuk memulai bisa membuka peluang yang jauh lebih besar,” pesannya.

BACA JUGA:  Ini Perbedaan Pisang Ijo dan Pallu Butung, Kuliner Khas Makassar yang Sering Disamakan

Ia menilai bisnis yang sehat semestinya tidak hanya mencetak keuntungan, tetapi juga menghadirkan waktu bersama keluarga dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.

Prinsip itulah yang kini menjadi pijakan Alibaba Bakery dalam menjaga kualitas, kejujuran, dan semangat belajar di tengah persaingan usaha.

“Bisnis yang hebat bukan hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga menghadirkan waktu bersama keluarga, membuka lapangan pekerjaan, dan memberi manfaat bagi banyak orang,” tutup Abdul Rahman.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru