SulawesiPos.com – Superkomputer Opta menempatkan Prancis sebagai favorit utama juara Piala Dunia 2026 dengan peluang 18,7 persen setelah fase grup berakhir, disusul Argentina 16,3 persen dan Spanyol 13,5 persen, berdasarkan 25.000 simulasi jalur babak gugur. Di saat yang sama, Argentina justru dinilai punya peluang terbesar mencapai final berkat bagan fase knockout yang relatif lebih ringan.
Model prediksi Opta menunjukkan Prancis memiliki peluang terbesar mengangkat trofi berkat keseimbangan lini serang, kedalaman skuad, dan konsistensi permainan sepanjang babak penyisihan.
Meski berada di posisi kedua dalam peluang juara, Argentina justru memiliki probabilitas tertinggi mencapai partai final sebesar 30 persen, mengungguli Prancis yang berada di angka 28,4 persen.
Spanyol diperkirakan memiliki peluang 22,7 persen mencapai final, diikuti Inggris sebesar 18,6 persen dan Brasil 13,7 persen.
Lima besar favorit juara menurut Opta dilengkapi Inggris dengan peluang juara 9,7 persen serta Brasil 6,5 persen.
Di bawah mereka terdapat Belanda 5,1 persen, Portugal 4,7 persen, Jerman 4,4 persen, Kolombia 3,2 persen dan Norwegia 3 persen yang masih dinilai berpeluang menciptakan kejutan.
Performa Lapangan Menguatkan Prediksi Statistik
Analisis The Athletic menyebut hanya Prancis dan Argentina yang berhasil memenangkan seluruh pertandingan fase grup dengan selisih lebih dari satu gol sehingga keduanya dinilai pantas berada di puncak daftar unggulan.
Prancis tampil impresif melalui ketajaman trio penyerangnya yang dipimpin Kylian Mbappe, didukung Ousmane Dembele dan Michael Olise yang menjadi salah satu kreator peluang terbaik sepanjang babak grup.
Les Bleus juga menjadi salah satu tim tersubur dengan torehan 10 gol selama penyisihan grup sehingga memperkuat status mereka sebagai kandidat utama juara.
Sementara itu Argentina tampil meyakinkan sebagai juara bertahan dengan Lionel Messi memimpin daftar pencetak gol terbanyak sementara setelah mengoleksi enam gol meski sempat diistirahatkan pada laga terakhir fase grup.
Jalur babak gugur yang relatif lebih ringan dinilai semakin memperbesar peluang Argentina untuk kembali mencapai final.

Simulasi Marca Hadirkan Skenario Berbeda
Berbeda dengan Opta, model simulasi harian milik media olahraga Spanyol Marca justru menempatkan Argentina sebagai favorit utama juara setelah bagan fase gugur resmi terbentuk.
Simulasi Marca memperkirakan peluang Argentina mempertahankan gelar mencapai sekitar 27 persen, sedangkan Spanyol berada di posisi kedua dengan sekitar 21 persen, diikuti Prancis, Inggris, Kolombia, dan Brasil.
Menurut Marca, perubahan tersebut dipengaruhi jalur pertandingan yang dinilai lebih menguntungkan bagi Argentina dibandingkan para pesaing utamanya.
Model prediksi Marca dibangun menggunakan sistem pemeringkatan Elo, yakni metode statistik yang memperbarui kekuatan setiap tim berdasarkan kualitas lawan yang dihadapi sehingga dinilai lebih responsif terhadap performa terkini dibandingkan peringkat FIFA.
Probabilitas kemenangan setiap pertandingan kemudian dikombinasikan dengan data historis hasil Piala Dunia sejak 1994 sebelum disimulasikan sebanyak 100.000 kali untuk menghasilkan peluang setiap negara melangkah ke babak berikutnya hingga menjadi juara.
Tim Kuda Hitam Masih Berpeluang Menciptakan Kejutan
Opta menempatkan Amerika Serikat sebagai kuda hitam utama dengan peluang juara 2,5 persen, disusul Swiss 2,2 persen, Meksiko 1,8 persen, Maroko 1,6 persen, Belgia 1,6 persen dan Jepang 1 persen.
Negara-negara seperti Ekuador dan Kroasia hanya memperoleh peluang sekitar 0,6 persen, sedangkan Kanada, Senegal, serta Mesir berada di bawah 0,5 persen.
Peluang paling kecil dimiliki Afrika Selatan, Republik Demokratik Kongo, dan Cape Verde yang masing-masing diperkirakan memiliki kemungkinan kurang dari 0,1 persen untuk menjadi juara.
Meski demikian, sejarah Piala Dunia berkali-kali menunjukkan simulasi statistik tidak selalu menentukan hasil akhir karena faktor strategi, kebugaran pemain, tekanan psikologis, hingga efektivitas permainan dalam sistem gugur sering kali melahirkan kejutan besar yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi model komputasi mana pun. (Ali)


