SulawesiPos.com – Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan total produksi beras nasional smester I (Januari – Juni) 2026 mencapai 19,31 juta ton. Pencapaian ini sedikit lebih tinggi, 0,26%, dari periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan total produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG) menyentuh angka 33,52 juta ton, yang diperoleh dari hasil panen seluas 6,27 juta hektar.
Pencapaian tersebut pada gilirannya mendorong Cadangan Beras Pemerintah (CBP) meningkat tajam. Diperkirakan pada akhir Juni 2026, stok beras Bulog mencapai 5,37 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Bulog.
Oleh karena kapasitas operasional (normal) seluruh gudang Bulog hanya sekitar 3 juta ton, timbul masalah terkait penyimpanan. Namun Bulog lebih dini mengantisipasinya dengan menyewa gudang milik swasta. Saat ini, Bulog telah memiliki gudang sewa dengan kapasitas 2 juta ton, tersebar di daerah sentra produksi beras di Pulau Jawa.
Menurut sumber di Perum Bulog, untuk mengantisipasi lonjakan produksi yang diperkirakan terjadi pada semester II 2026, Bulog juga sedang mempersiapkan gudang sewa baru sebagai tambahan dengan kapasitas 1 juta ton. Langkah ini cukup beralasan. Sebab sawah hasil Optimasi Lahan (Oplah) dan cetak sawah baru di luar Jawa, kini mulai berproduksi. Kontribusinya diperkirakan akan mencapai 10–15% dari agregat produksi nasional.
Paralel dengan itu, Bulog juga sedang membangun gudang baru modern pada 100 titik yang mencakup 92 kabupaten/kota. Disebut modern karena gudang tersebut akan dilengkapi sistem pengering (dryer system), penggilingan gabah (rice milling unit), dan mesin pengemas otomatis. Teknologi yang digunakan diklaim mampu menyimpan beras dengan kualitas tetap prima hingga 3 tahun.
Bagi mereka yang tak percaya Indonesia saat ini surplus beras (kelompok kontra), punya pandangan lain. Pembangunan Gudang baru itu dianggapnya lips service. Bahkan menuding pemerintah hanya membangun kesan seolah-olah kita memang benar-benar mengalami surplus.
Narasi kontra semacam itu tak bisa juga sepenuhnya disalahkan. Sebab terbukti, sejak dicanangkannya hingga saat ini, belum ada satu pun dari gudang-gudang baru yang dimaksud telah rampung dibangun. Padahal, pembangunan gudang semacam itu, konstruksnya tak tergolong rumit.
Namun, taruhlah tudingan itu benar. Akan tetapi, bagaimana pula menjelaskan upaya masif Bulog menyewa gudang di berbagai daerah untuk penyimpanan beras? Dan, apa yang dilakukan Bulog itu bukan isapan jempol, karena dampaknya terlihat pada maraknya bisnis sewa gudang belakangan ini di berbagai daerah. Setidaknya, bisnis gudang menjadi marak oleh wara-wiri para makelar yang gentayangan.
Tak percaya Indonesia saat ini surplus beras, seperti narasi yang dibangun oleh kelompok kontra, sebenarnya, penjelasannya juga tidak memadai. Narasinya tentu saja tak cukup jika hanya melihatnya dari sisi harga beras yang dinilai mahal (menyalahi kaidah supply and demand). Sebab yang disebut mahal di sini, relatif. Faktanya, sejauh ini masyarakat masih mampu membelinya. Artinya, harganya masih terjangkau.
Beras premium seharga 15 ribu/Kg itu, misalnya, setelah dimasak, cukup dimakan oleh 12 orang. Artinya, untuk sepiring nasi nilainya Rp 1.250. Satu piring nasi ini jika kita makan di warung pecel pinggir jalan seharga 22.000, maka kontribusi nilai beras di dalamnya hanya 5,6%. Apakah ini masih disebut mahal? Sementara warung pecel itu adalah tempat makan bagi rakyat kebanyakan di Indonesia.
Jika saja saat ini kita mengalami defisit, maka pertanyaannya, dari mana sumber beras yang kita makan dalam satu setengah tahun terakhir? Sedangkan sumber beras yang kita makan hanya dua, yaitu produksi dalam negeri dan impor.
Sebut saja impor, maka siapa yang bisa memberi bukti bahwa ada impor beras konsumsi dalam satu setengah tahun terakhir? Anggap saja pemerintah menyembunyikan datanya. Ayo cari datanya di negara eksportir. Pasti ada. Jika tak ketemu juga, maka tidak ada lagi alasan untuk menolak narasi surplus yang disodorkan pemerintah.
Sekali lagi, jika memang kita mengalami defisit, maka seharusnya sudah terlihat antrean beras yang panjang di berbagai kota di seantero negeri. Tetapi realitasnya, tak tampak hingga sejauh ini. Artinya apa?
Depok, 18 Juni 2026
Yarifai Mappeaty
Pemerhati Pangan


