DPR Soroti Saham Indonesia Keluar dari MSCI, Minta Reformasi Pasar Modal Diperkuat

SulawesiPos.com – Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PKS, Amin Ak, meminta pemerintah serius menjaga kekuatan dan kredibilitas pasar modal Indonesia di tengah tekanan ekonomi global maupun domestik.

Pernyataan itu disampaikan Amin merespons keluarnya sejumlah saham Indonesia dari indeks global MSCI dalam peninjauan Mei 2026.

MSCI diketahui mengeluarkan enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index, yakni saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Selain itu, 13 emiten Indonesia lainnya juga dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Index yang efektif berlaku mulai 1 Juni 2026.

“Rekomposisi MSCI ini memang bagian dari mekanisme pasar global yang rutin dilakukan. Namun, kita tidak boleh menutup mata bahwa ini juga menjadi sinyal agar pembenahan pasar modal nasional dilakukan lebih serius dan konsisten,” ujar Amin dalam keterangannya di Senayan, Senin (18/5/2026).

BACA JUGA: 
Berikut Prediksi Pergerakan IHSG dan Rekomendasi Saham untuk Perdagangan Senin, 4 Mei 2026

Amin menilai keluarnya sejumlah saham dari indeks MSCI berpotensi memberi tekanan jangka pendek terhadap pasar modal nasional.

Menurutnya, dampak tersebut dapat terlihat dari sentimen investor asing hingga pergerakan likuiditas saham di pasar.

Karena itu, ia meminta pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadikan momentum ini sebagai bahan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas pasar modal Indonesia.

“Kita melihat pasar masih menghadapi tantangan dari sisi volatilitas global, tekanan geopolitik, hingga faktor domestik yang memengaruhi kepercayaan investor. Jangan sampai pasar kita terlihat kurang kompetitif dibanding negara lain di kawasan,” tegasnya.

Amin juga menyoroti kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menurutnya masih menghadapi tekanan di tengah ketidakpastian global.

DPR Dorong Transparansi dan Reformasi Pasar

Meski demikian, Amin mengapresiasi reformasi integritas pasar modal yang telah dilakukan OJK dan Self-Regulatory Organizations (SRO).

Namun, ia menilai langkah tersebut perlu dibarengi penguatan fundamental pasar secara lebih konkret.

BACA JUGA: 
OJK Desak BNI Tuntaskan Kasus Dugaan Penyimpangan Dana Rp28 Miliar di Sumut

Beberapa hal yang disorot meliputi peningkatan free float, transparansi emiten, hingga pengawasan terhadap praktik-praktik yang dapat mengganggu kredibilitas pasar.

“Pasar modal yang sehat bukan hanya soal indeks naik atau turun, tetapi bagaimana menciptakan ekosistem investasi yang transparan, likuid, dan dipercaya investor dalam jangka panjang. Kepercayaan itu yang harus terus dijaga,” katanya.

Amin menambahkan pasar modal memiliki peran strategis dalam mendukung pembiayaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Karena itu, pemerintah diminta tidak hanya fokus menjaga stabilitas jangka pendek, tetapi juga memperkuat fondasi struktural pasar keuangan Indonesia.

“Kita harus menjadikan momentum ini sebagai alarm untuk memperkuat daya tahan pasar modal Indonesia. Dengan kebijakan yang tepat dan pengawasan yang kuat, saya yakin pasar modal kita tetap memiliki prospek yang baik dan mampu kembali menarik minat investor global,” pungkasnya.

SulawesiPos.com – Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PKS, Amin Ak, meminta pemerintah serius menjaga kekuatan dan kredibilitas pasar modal Indonesia di tengah tekanan ekonomi global maupun domestik.

Pernyataan itu disampaikan Amin merespons keluarnya sejumlah saham Indonesia dari indeks global MSCI dalam peninjauan Mei 2026.

MSCI diketahui mengeluarkan enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index, yakni saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Selain itu, 13 emiten Indonesia lainnya juga dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Index yang efektif berlaku mulai 1 Juni 2026.

“Rekomposisi MSCI ini memang bagian dari mekanisme pasar global yang rutin dilakukan. Namun, kita tidak boleh menutup mata bahwa ini juga menjadi sinyal agar pembenahan pasar modal nasional dilakukan lebih serius dan konsisten,” ujar Amin dalam keterangannya di Senayan, Senin (18/5/2026).

BACA JUGA: 
OJK Desak BNI Tuntaskan Kasus Dugaan Penyimpangan Dana Rp28 Miliar di Sumut

Amin menilai keluarnya sejumlah saham dari indeks MSCI berpotensi memberi tekanan jangka pendek terhadap pasar modal nasional.

Menurutnya, dampak tersebut dapat terlihat dari sentimen investor asing hingga pergerakan likuiditas saham di pasar.

Karena itu, ia meminta pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadikan momentum ini sebagai bahan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas pasar modal Indonesia.

“Kita melihat pasar masih menghadapi tantangan dari sisi volatilitas global, tekanan geopolitik, hingga faktor domestik yang memengaruhi kepercayaan investor. Jangan sampai pasar kita terlihat kurang kompetitif dibanding negara lain di kawasan,” tegasnya.

Amin juga menyoroti kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menurutnya masih menghadapi tekanan di tengah ketidakpastian global.

DPR Dorong Transparansi dan Reformasi Pasar

Meski demikian, Amin mengapresiasi reformasi integritas pasar modal yang telah dilakukan OJK dan Self-Regulatory Organizations (SRO).

Namun, ia menilai langkah tersebut perlu dibarengi penguatan fundamental pasar secara lebih konkret.

BACA JUGA: 
IHSG Terkoreksi 0,64% ke 8.212 Pekan Lalu, Berikut Prediksi Pergerakan IHSG untuk Perdagangan Rabu, 18 Februari 2026

Beberapa hal yang disorot meliputi peningkatan free float, transparansi emiten, hingga pengawasan terhadap praktik-praktik yang dapat mengganggu kredibilitas pasar.

“Pasar modal yang sehat bukan hanya soal indeks naik atau turun, tetapi bagaimana menciptakan ekosistem investasi yang transparan, likuid, dan dipercaya investor dalam jangka panjang. Kepercayaan itu yang harus terus dijaga,” katanya.

Amin menambahkan pasar modal memiliki peran strategis dalam mendukung pembiayaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Karena itu, pemerintah diminta tidak hanya fokus menjaga stabilitas jangka pendek, tetapi juga memperkuat fondasi struktural pasar keuangan Indonesia.

“Kita harus menjadikan momentum ini sebagai alarm untuk memperkuat daya tahan pasar modal Indonesia. Dengan kebijakan yang tepat dan pengawasan yang kuat, saya yakin pasar modal kita tetap memiliki prospek yang baik dan mampu kembali menarik minat investor global,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru