Hampir Ditembak, Pengakuan “Saya Muslim” Selamatkan Kapten Tanker Honour 25 Asal Gowa yang Kapalnya Dibajak Perompak Somalia

SulawesiPos.com – 4 WNI yang menjadi pekerja migran di kapal tanker Honour 25 disandera oleh para perompak Somalia masih dalam kondisi yang belum dapat dipastikan keselamatannya hingga hari ini.

Berdasarkan informasi yang dihimpun SulawesiPos, pihak Kementerian Luar Negeri (Kemlu) masih berkoordinasi dan berusaha secara intensif dengan pihak terkait untuk membebaskan para WNI yang disandera.

Salah satu dari 4 WNI yang disandera, yang merupakan kapten kapal berasal dari Gowa, Sulawesi Selatan, Ashari Samadikun (33).

Pihak keluarga dari Ashari sempat mendapatkan kabar pada detik-detik terjadinya pembajakan oleh para perompak.

Hal ini diungkapkan oleh istri ABK asal Gowa tersebut, Santi Sanaya. Ia menjelaskan bahwa suaminya sempat mengirimkan pesan suara via aplikasi WhatsApp, yang berisi keterangan bahwa kapalnya sedang dibajak.

Namun, saat dihubungi kembali oleh Santi, tidak mendapat respons sama sekali.

“Betul-betul putus komunikasiku sama dia,” ujar ibu dua anak tersebut, dikutip dari BBC, Kamis (30/4/2026).

BACA JUGA: 
Keluarga Kapten Kapal yang Dibajak Perompak Tak Sabar Menanti Kabar dari Somalia

Sempat Berkomunikasi Kembali

Dari pernyataan istri Ashari, diketahui bahwa putus kontaknya ia bersama suami disebabkan oleh alat komunikasi milik suaminya disita oleh para pembajak sejak hari pertama kapal itu diambil alih.

Namun, Santi dapat kembali berkomunikasi dengan suaminya pada Jumat (20/4/2026). Ia menyatakan bahwa diberi ponsel untuk menghubungi perusahaan dan keluarga.

Dalam percakapan pada Jumat itu, Santi mendengar kisah suaminya yang kerap kali ditodong senjata oleh para perompak.

Pada salah satu momen pembajakan, suaminya bercerita ia dapat menenangkan para pembajak kapal ini dengan mengucapkan salam.

“Suamiku sempat sambut (pembajak) dengan ‘Assalamualaikum, jangan tembak saya. Saya muslim,’” ujarnya sambil menirukan penuturan suaminya.

Percakapannya pun berlanjut, mendengar bahwa para pembajak juga mengaku beragama yang sama dengan dirinya, Islam.

Selain menceritakan percakapan tersebut, Santi mengakui ada beberapa hal yang diceritakan suaminya selama ia disandera selama satu pekan.

Mereka menjalin komunikasi terakhir pada Minggu (26/4/2026), dengan kabar bahwa pihak perompak dan perusahaan pemilik kapal sedang berunding untuk uang tebusan.

BACA JUGA: 
Warga Gowa Kapten Kapal Honour 25 Disandera Perompak Somalia, Keluarga Minta Bantuan Presiden Prabowo

Selain itu, Santi juga diberitahu bahwa para ABK masih diizinkan melakukan ibadah dan diberi makanan. Ia juga diberi tahu bahwa mereka semua berada dalam kondisi sehat.

Namun, suaminya juga menceritakan bahwa mereka kerap ditodong senjata jika para perompak merasa terancam oleh serangan tiba-tiba.

Awal Mula Insiden Pembajakan

Sebelumnya, ayah dari Ashari, Syamsudin dg Ngawing, (68) menuturkan bahwa anaknya sempat menghubungi bahwa kapalnya dibajak, pada Selasa pekan lalu (21/4/2026).

Anaknya merupakan salah satu dari 4 Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia yang bekerja di Kapal Honour 25.

Total ABK dari kapal tanker tersebut berjumlah 17 orang dengan rincian 4 dari Indonesia, 11 dari pakistan, 1 Sri Lanka dan 1 dari India.

Santi menjelaskan bahwa dari pengakuan suaminya, saat kapal dibajak para perompak berjumlah 15 orang dan saat kontak terakhir dengan suaminya, jumlah total perompak sudah menjadi 30 orang karena sudah dekat dengan markas mereka.

Tanggapan Pemerintah

Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, mengatakan pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk memantau situasi para korban.

BACA JUGA: 
Pemerintah Pantau Penyanderaan ABK oleh Perompak Somalia, Dua Warga Sulsel Masih Disandera

“Kami telah menghubungkan keluarga korban dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) dan Kementerian Luar Negeri. Kami terus memantau perkembangannya,” kata Gubernur, dikutip Rabu (29/4/2026).

Pemerintah Provinsi Sulsel melalui Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Sulsel turut menurunkan tim untuk mendatangi keluarga korban di Gowa sebagai bentuk pendampingan.

“Kami telah mengunjungi keluarga korban dan menghubungkan mereka dengan pihak kementerian, termasuk Wakil Menteri P2MI, untuk mendapatkan informasi terkini,” ujar Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Sulsel, Jayadi Nas.

Upaya pembebasan para sandera saat ini ditangani pemerintah pusat melalui jalur diplomasi dengan melibatkan otoritas terkait di kawasan tersebut.

Pemerintah memastikan proses ini terus berjalan dengan mengutamakan keselamatan seluruh awak kapal.

SulawesiPos.com – 4 WNI yang menjadi pekerja migran di kapal tanker Honour 25 disandera oleh para perompak Somalia masih dalam kondisi yang belum dapat dipastikan keselamatannya hingga hari ini.

Berdasarkan informasi yang dihimpun SulawesiPos, pihak Kementerian Luar Negeri (Kemlu) masih berkoordinasi dan berusaha secara intensif dengan pihak terkait untuk membebaskan para WNI yang disandera.

Salah satu dari 4 WNI yang disandera, yang merupakan kapten kapal berasal dari Gowa, Sulawesi Selatan, Ashari Samadikun (33).

Pihak keluarga dari Ashari sempat mendapatkan kabar pada detik-detik terjadinya pembajakan oleh para perompak.

Hal ini diungkapkan oleh istri ABK asal Gowa tersebut, Santi Sanaya. Ia menjelaskan bahwa suaminya sempat mengirimkan pesan suara via aplikasi WhatsApp, yang berisi keterangan bahwa kapalnya sedang dibajak.

Namun, saat dihubungi kembali oleh Santi, tidak mendapat respons sama sekali.

“Betul-betul putus komunikasiku sama dia,” ujar ibu dua anak tersebut, dikutip dari BBC, Kamis (30/4/2026).

BACA JUGA: 
Warga Gowa Kapten Kapal Honour 25 Disandera Perompak Somalia, Keluarga Minta Bantuan Presiden Prabowo

Sempat Berkomunikasi Kembali

Dari pernyataan istri Ashari, diketahui bahwa putus kontaknya ia bersama suami disebabkan oleh alat komunikasi milik suaminya disita oleh para pembajak sejak hari pertama kapal itu diambil alih.

Namun, Santi dapat kembali berkomunikasi dengan suaminya pada Jumat (20/4/2026). Ia menyatakan bahwa diberi ponsel untuk menghubungi perusahaan dan keluarga.

Dalam percakapan pada Jumat itu, Santi mendengar kisah suaminya yang kerap kali ditodong senjata oleh para perompak.

Pada salah satu momen pembajakan, suaminya bercerita ia dapat menenangkan para pembajak kapal ini dengan mengucapkan salam.

“Suamiku sempat sambut (pembajak) dengan ‘Assalamualaikum, jangan tembak saya. Saya muslim,’” ujarnya sambil menirukan penuturan suaminya.

Percakapannya pun berlanjut, mendengar bahwa para pembajak juga mengaku beragama yang sama dengan dirinya, Islam.

Selain menceritakan percakapan tersebut, Santi mengakui ada beberapa hal yang diceritakan suaminya selama ia disandera selama satu pekan.

Mereka menjalin komunikasi terakhir pada Minggu (26/4/2026), dengan kabar bahwa pihak perompak dan perusahaan pemilik kapal sedang berunding untuk uang tebusan.

BACA JUGA: 
Keluarga Kapten Kapal yang Dibajak Perompak Tak Sabar Menanti Kabar dari Somalia

Selain itu, Santi juga diberitahu bahwa para ABK masih diizinkan melakukan ibadah dan diberi makanan. Ia juga diberi tahu bahwa mereka semua berada dalam kondisi sehat.

Namun, suaminya juga menceritakan bahwa mereka kerap ditodong senjata jika para perompak merasa terancam oleh serangan tiba-tiba.

Awal Mula Insiden Pembajakan

Sebelumnya, ayah dari Ashari, Syamsudin dg Ngawing, (68) menuturkan bahwa anaknya sempat menghubungi bahwa kapalnya dibajak, pada Selasa pekan lalu (21/4/2026).

Anaknya merupakan salah satu dari 4 Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia yang bekerja di Kapal Honour 25.

Total ABK dari kapal tanker tersebut berjumlah 17 orang dengan rincian 4 dari Indonesia, 11 dari pakistan, 1 Sri Lanka dan 1 dari India.

Santi menjelaskan bahwa dari pengakuan suaminya, saat kapal dibajak para perompak berjumlah 15 orang dan saat kontak terakhir dengan suaminya, jumlah total perompak sudah menjadi 30 orang karena sudah dekat dengan markas mereka.

Tanggapan Pemerintah

Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, mengatakan pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk memantau situasi para korban.

BACA JUGA: 
Pemerintah Pantau Penyanderaan ABK oleh Perompak Somalia, Dua Warga Sulsel Masih Disandera

“Kami telah menghubungkan keluarga korban dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) dan Kementerian Luar Negeri. Kami terus memantau perkembangannya,” kata Gubernur, dikutip Rabu (29/4/2026).

Pemerintah Provinsi Sulsel melalui Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Sulsel turut menurunkan tim untuk mendatangi keluarga korban di Gowa sebagai bentuk pendampingan.

“Kami telah mengunjungi keluarga korban dan menghubungkan mereka dengan pihak kementerian, termasuk Wakil Menteri P2MI, untuk mendapatkan informasi terkini,” ujar Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Sulsel, Jayadi Nas.

Upaya pembebasan para sandera saat ini ditangani pemerintah pusat melalui jalur diplomasi dengan melibatkan otoritas terkait di kawasan tersebut.

Pemerintah memastikan proses ini terus berjalan dengan mengutamakan keselamatan seluruh awak kapal.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru