Media Inggris Klaim Mojtaba Khamenei Koma dan Kehilangan Kaki, Dirawat Ketat di RS

SulawesiPos.com – Sejumlah media Inggris melaporkan kondisi kritis Mojtaba Khamenei, yang disebut-sebut sebagai Pemimpin Tertinggi baru Iran. Ia dikabarkan berada dalam keadaan koma serta mengalami amputasi kaki, berdasarkan klaim sumber yang mengaku memiliki akses ke tim medis tempat Mojtaba dirawat.

Laporan tersebut pertama kali dimuat oleh Mirror, yang menyebut seorang sumber telah berkomunikasi dengan staf rumah sakit yang menangani Mojtaba.

“Pemimpin Tertinggi baru Iran dalam keadaan koma, menurut laporan-laporan,” tulis Mirror dikutip Jumat (13/3/2026).

Media tersebut juga menambahkan bahwa Mojtaba disebut mengalami cedera serius pada bagian tubuh vital.

“Mojtaba Khamenei telah kehilangan satu kaki dan juga menderita luka serius pada perut atau liver, menurut klaim tersebut,” tambah laman itu.

Dirawat Intensif, Akses Rumah Sakit Dijaga Ketat

Informasi serupa juga dilaporkan oleh The Sun, yang menyebut Mojtaba tengah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Universitas Sina.

“Pasukan keamanan dilaporkan telah menutup sebagian bangunan tersebut,” tambahnya.

Baca Juga: 
Sayed Mojtaba Khamenei Pimpin Republik Islam Iran, Teheran Tegaskan Kedaulatan di Tengah Tekanan Perang

Sumber internal yang dikutip disebut berkaitan dengan seorang pembelot yang bermukim di London. Ia mengklaim mendapatkan informasi langsung dari staf rumah sakit bahwa kondisi Mojtaba berada pada tahap sangat kritis dan ditangani langsung oleh Mohammad Reza Zafargjani.

Zafargjani diketahui menjabat sebagai Menteri Kesehatan, Pengobatan, dan Pendidikan Kedokteran Iran, sekaligus dikenal sebagai salah satu ahli bedah trauma terkemuka di negara tersebut.

“Satu atau dua kakinya telah terputus. Hati atau perutnya juga pecah. Ia tampaknya juga dalam keadaan koma,” ujar sumber.

Belum ada kepastian apakah cedera tersebut berkaitan langsung dengan serangan yang sebelumnya dilaporkan menewaskan ayah Mojtaba, Pemimpin Tertinggi Iran terdahulu Ali Khamenei, yang berusia 86 tahun saat konflik pecah. Dalam laporan sebelumnya, ibu, istri, serta anak Mojtaba juga disebut turut menjadi korban.

Pesan Perdana Tanpa Kemunculan Publik

Di tengah spekulasi tersebut, Kamis waktu setempat, Press TV menyiarkan pesan Mojtaba untuk pertama kalinya kepada publik, meski tanpa kehadiran visual secara langsung.

Baca Juga: 
Israel Ancam Bunuh Siapa Pun Pengganti Ali Khamenei, Putranya Mojtaba Mencuat

Dalam pernyataan itu, Mojtaba menyerukan persatuan nasional Iran serta menegaskan Selat Hormuz akan tetap ditutup sebagai bentuk tekanan terhadap pihak-pihak yang dianggap musuh Teheran. Ia juga melontarkan ancaman terhadap kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan.

“Semua pangkalan AS di kawasan harus segera ditutup atau akan diserang,” kata Khamenei dalam pernyataannya, dilansir Al Jazeera.

Mojtaba juga menyinggung keterlibatan kelompok bersenjata di kawasan, termasuk Yaman dan Irak, yang disebut siap mendukung perlawanan terhadap tekanan terhadap Iran.

Selain itu, ia menyampaikan apresiasi kepada militer Iran yang dinilainya berhasil menjaga keutuhan negara di tengah tekanan dan serangan eksternal.

“Saya ingin berterima kasih kepada para pejuang pemberani yang melakukan pekerjaan besar pada saat negara kita berada di bawah tekanan dan diserang,” kata Mojtaba.

SulawesiPos.com – Sejumlah media Inggris melaporkan kondisi kritis Mojtaba Khamenei, yang disebut-sebut sebagai Pemimpin Tertinggi baru Iran. Ia dikabarkan berada dalam keadaan koma serta mengalami amputasi kaki, berdasarkan klaim sumber yang mengaku memiliki akses ke tim medis tempat Mojtaba dirawat.

Laporan tersebut pertama kali dimuat oleh Mirror, yang menyebut seorang sumber telah berkomunikasi dengan staf rumah sakit yang menangani Mojtaba.

“Pemimpin Tertinggi baru Iran dalam keadaan koma, menurut laporan-laporan,” tulis Mirror dikutip Jumat (13/3/2026).

Media tersebut juga menambahkan bahwa Mojtaba disebut mengalami cedera serius pada bagian tubuh vital.

“Mojtaba Khamenei telah kehilangan satu kaki dan juga menderita luka serius pada perut atau liver, menurut klaim tersebut,” tambah laman itu.

Dirawat Intensif, Akses Rumah Sakit Dijaga Ketat

Informasi serupa juga dilaporkan oleh The Sun, yang menyebut Mojtaba tengah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Universitas Sina.

“Pasukan keamanan dilaporkan telah menutup sebagian bangunan tersebut,” tambahnya.

Baca Juga: 
Garda Revolusi Iran Sebut Siap Perang 6 Bulan Melawan AS dan Israel

Sumber internal yang dikutip disebut berkaitan dengan seorang pembelot yang bermukim di London. Ia mengklaim mendapatkan informasi langsung dari staf rumah sakit bahwa kondisi Mojtaba berada pada tahap sangat kritis dan ditangani langsung oleh Mohammad Reza Zafargjani.

Zafargjani diketahui menjabat sebagai Menteri Kesehatan, Pengobatan, dan Pendidikan Kedokteran Iran, sekaligus dikenal sebagai salah satu ahli bedah trauma terkemuka di negara tersebut.

“Satu atau dua kakinya telah terputus. Hati atau perutnya juga pecah. Ia tampaknya juga dalam keadaan koma,” ujar sumber.

Belum ada kepastian apakah cedera tersebut berkaitan langsung dengan serangan yang sebelumnya dilaporkan menewaskan ayah Mojtaba, Pemimpin Tertinggi Iran terdahulu Ali Khamenei, yang berusia 86 tahun saat konflik pecah. Dalam laporan sebelumnya, ibu, istri, serta anak Mojtaba juga disebut turut menjadi korban.

Pesan Perdana Tanpa Kemunculan Publik

Di tengah spekulasi tersebut, Kamis waktu setempat, Press TV menyiarkan pesan Mojtaba untuk pertama kalinya kepada publik, meski tanpa kehadiran visual secara langsung.

Baca Juga: 
Selat Hormuz Memanas, 1 Kapal Dilaporkan Tenggelam, Lebih dari 150 Lepas Jangkar

Dalam pernyataan itu, Mojtaba menyerukan persatuan nasional Iran serta menegaskan Selat Hormuz akan tetap ditutup sebagai bentuk tekanan terhadap pihak-pihak yang dianggap musuh Teheran. Ia juga melontarkan ancaman terhadap kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan.

“Semua pangkalan AS di kawasan harus segera ditutup atau akan diserang,” kata Khamenei dalam pernyataannya, dilansir Al Jazeera.

Mojtaba juga menyinggung keterlibatan kelompok bersenjata di kawasan, termasuk Yaman dan Irak, yang disebut siap mendukung perlawanan terhadap tekanan terhadap Iran.

Selain itu, ia menyampaikan apresiasi kepada militer Iran yang dinilainya berhasil menjaga keutuhan negara di tengah tekanan dan serangan eksternal.

“Saya ingin berterima kasih kepada para pejuang pemberani yang melakukan pekerjaan besar pada saat negara kita berada di bawah tekanan dan diserang,” kata Mojtaba.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru