31 C
Makassar
4 March 2026, 17:18 PM WITA

Penembakan Remaja di Makassar Picu Gelombang Protes, Mahasiswa Turun ke Jalan Tuntut Transparansi

SulawesiPos.com, Makassar – Kasus penembakan yang menewaskan seorang remaja di Kota Makassar memicu sorotan publik serta gelombang protes dari mahasiswa dan warga.

Peristiwa yang terjadi di kawasan Jalan Toddopuli, Kecamatan Panakkukang, pada Minggu (1/3/2026) itu diduga melibatkan oknum anggota kepolisian.

Korban diketahui bernama Bertrand Eka Prasetyo (18).

Ia dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami luka tembak saat polisi membubarkan sekelompok pemuda yang diduga membuat keributan di badan jalan.

Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Arya Perdana, menjelaskan bahwa insiden penembakan tersebut terjadi secara tidak sengaja ketika anggota kepolisian berupaya mengamankan situasi di lokasi kejadian.

Menurut Arya, peristiwa bermula ketika pihak kepolisian menerima laporan sekitar pukul 07.00 WITA mengenai sekelompok pemuda yang disebut meresahkan warga karena bermain senapan angin di jalan dan mengganggu pengguna jalan.

Mendapat laporan tersebut, seorang anggota polisi berpangkat IPTU berinisial N langsung menuju lokasi menggunakan mobil dinas untuk melakukan penertiban.

Setibanya di lokasi, petugas menemukan korban yang diduga bersikap agresif terhadap pengendara motor.

Polisi kemudian melepaskan tembakan peringatan ke udara sebelum mencoba mengamankan situasi.

Namun saat hendak diamankan, korban disebut berusaha melarikan diri dan melakukan perlawanan.

“Ketika meronta, pistol yang masih dipegang oleh IPTU N meletus secara tidak sengaja dan mengenai bagian belakang tubuh korban,” ujar Arya dalam konferensi pers di Mapolrestabes Makassar, Selasa (3/3/2026).

Korban kemudian segera dilarikan ke Rumah Sakit Grestelina untuk mendapatkan penanganan medis.

Namun setelah dirujuk ke RS Bhayangkara, korban dinyatakan meninggal dunia.

Peristiwa tersebut dengan cepat menjadi viral di media sosial dan memicu berbagai reaksi dari masyarakat.

Banyak pihak mempertanyakan kronologi kejadian serta mendesak adanya penyelidikan yang transparan.

Gelombang protes pun muncul di Makassar. Mahasiswa bersama warga menggelar aksi di depan Kampus Universitas Negeri Makassar (UNM) di Jalan A.P Pettarani, Selasa (3/3/2026).

Dalam aksi tersebut, massa bahkan sempat memblokade jalan sebagai bentuk desakan agar kasus penembakan tersebut diusut secara terbuka dan tuntas.

Selain itu, ratusan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) juga menggelar aksi solidaritas di depan Pintu 1 kampus Unhas pada Selasa malam (3/3/2026).

Aksi solidaritas tersebut diwarnai dengan penyalaan lilin sebagai simbol duka cita sekaligus bentuk protes terhadap dugaan kekerasan aparat.

Salah satu peserta aksi, Tofik, mengatakan kegiatan tersebut merupakan hasil konsolidasi mahasiswa sebagai bentuk solidaritas terhadap korban.

“Ini adalah aksi yang terkonsolidasi. Salah satu latar belakangnya adalah peristiwa dua hari lalu, di mana menurut kami aparat tidak menindaklanjuti secara hukum, tetapi langsung mengambil nyawa seseorang. Aksi ini bentuk solidaritas terhadap korban dan pernyataan sikap bahwa kekerasan aparat negara semakin sering terjadi,” ujarnya dalam orasi.

Mahasiswa juga mendesak aparat penegak hukum mengusut tuntas dugaan penembakan tersebut secara objektif dan transparan.

Mereka menilai proses hukum terbuka penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum.

Selain itu, massa aksi menuntut agar segala bentuk kekerasan oleh aparat negara dihentikan.

“Tegakkan keadilan sebaik-baiknya kepada masyarakat dan berikan hak untuk hidup damai dan adil sejahtera bagi seluruh rakyat Indonesia,” tegas Tofik.

Aksi solidaritas tersebut berlangsung tertib dengan pengawalan aparat keamanan.

Hingga kini, kasus penembakan yang menewaskan remaja tersebut masih menjadi perhatian publik luas dan menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut dari pihak berwenang.

SulawesiPos.com, Makassar – Kasus penembakan yang menewaskan seorang remaja di Kota Makassar memicu sorotan publik serta gelombang protes dari mahasiswa dan warga.

Peristiwa yang terjadi di kawasan Jalan Toddopuli, Kecamatan Panakkukang, pada Minggu (1/3/2026) itu diduga melibatkan oknum anggota kepolisian.

Korban diketahui bernama Bertrand Eka Prasetyo (18).

Ia dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami luka tembak saat polisi membubarkan sekelompok pemuda yang diduga membuat keributan di badan jalan.

Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Arya Perdana, menjelaskan bahwa insiden penembakan tersebut terjadi secara tidak sengaja ketika anggota kepolisian berupaya mengamankan situasi di lokasi kejadian.

Menurut Arya, peristiwa bermula ketika pihak kepolisian menerima laporan sekitar pukul 07.00 WITA mengenai sekelompok pemuda yang disebut meresahkan warga karena bermain senapan angin di jalan dan mengganggu pengguna jalan.

Mendapat laporan tersebut, seorang anggota polisi berpangkat IPTU berinisial N langsung menuju lokasi menggunakan mobil dinas untuk melakukan penertiban.

Setibanya di lokasi, petugas menemukan korban yang diduga bersikap agresif terhadap pengendara motor.

Polisi kemudian melepaskan tembakan peringatan ke udara sebelum mencoba mengamankan situasi.

Namun saat hendak diamankan, korban disebut berusaha melarikan diri dan melakukan perlawanan.

“Ketika meronta, pistol yang masih dipegang oleh IPTU N meletus secara tidak sengaja dan mengenai bagian belakang tubuh korban,” ujar Arya dalam konferensi pers di Mapolrestabes Makassar, Selasa (3/3/2026).

Korban kemudian segera dilarikan ke Rumah Sakit Grestelina untuk mendapatkan penanganan medis.

Namun setelah dirujuk ke RS Bhayangkara, korban dinyatakan meninggal dunia.

Peristiwa tersebut dengan cepat menjadi viral di media sosial dan memicu berbagai reaksi dari masyarakat.

Banyak pihak mempertanyakan kronologi kejadian serta mendesak adanya penyelidikan yang transparan.

Gelombang protes pun muncul di Makassar. Mahasiswa bersama warga menggelar aksi di depan Kampus Universitas Negeri Makassar (UNM) di Jalan A.P Pettarani, Selasa (3/3/2026).

Dalam aksi tersebut, massa bahkan sempat memblokade jalan sebagai bentuk desakan agar kasus penembakan tersebut diusut secara terbuka dan tuntas.

Selain itu, ratusan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) juga menggelar aksi solidaritas di depan Pintu 1 kampus Unhas pada Selasa malam (3/3/2026).

Aksi solidaritas tersebut diwarnai dengan penyalaan lilin sebagai simbol duka cita sekaligus bentuk protes terhadap dugaan kekerasan aparat.

Salah satu peserta aksi, Tofik, mengatakan kegiatan tersebut merupakan hasil konsolidasi mahasiswa sebagai bentuk solidaritas terhadap korban.

“Ini adalah aksi yang terkonsolidasi. Salah satu latar belakangnya adalah peristiwa dua hari lalu, di mana menurut kami aparat tidak menindaklanjuti secara hukum, tetapi langsung mengambil nyawa seseorang. Aksi ini bentuk solidaritas terhadap korban dan pernyataan sikap bahwa kekerasan aparat negara semakin sering terjadi,” ujarnya dalam orasi.

Mahasiswa juga mendesak aparat penegak hukum mengusut tuntas dugaan penembakan tersebut secara objektif dan transparan.

Mereka menilai proses hukum terbuka penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum.

Selain itu, massa aksi menuntut agar segala bentuk kekerasan oleh aparat negara dihentikan.

“Tegakkan keadilan sebaik-baiknya kepada masyarakat dan berikan hak untuk hidup damai dan adil sejahtera bagi seluruh rakyat Indonesia,” tegas Tofik.

Aksi solidaritas tersebut berlangsung tertib dengan pengawalan aparat keamanan.

Hingga kini, kasus penembakan yang menewaskan remaja tersebut masih menjadi perhatian publik luas dan menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut dari pihak berwenang.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/