Kearifan Bugis-Makassar Jadi Inspirasi Eco-Parenting Dosen UMM Raih Hibah Inggris

SulawesiPos.com – Kearifan lokal Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan menjadi salah satu sumber inspirasi dalam pengembangan konsep eco-parenting yang digagas dua dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Konsep pengasuhan ramah lingkungan tersebut dikembangkan dengan memadukan kearifan lokal Jawa Timur dan Sulawesi Selatan untuk membekali orang tua menghadapi ancaman perubahan iklim dan krisis ekologis.

Gagasan tersebut digagas Wakil Rektor IV Bidang Riset, Pengabdian, dan Kerja Sama UMM Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., bersama dosen Fakultas Psikologi UMM Muhammad Fath Mashuri, S.Psi., M.A.

Riset dan pengabdian tersebut juga berhasil memperoleh hibah internasional dari Pemerintah Britania Raya.

Program ini rencananya mulai diimplementasikan pada November 2026 dan ditargetkan rampung pada Juni 2027.

Salis mengatakan konsep tersebut lahir dari melihat masih terbatasnya pembahasan pola asuh yang mengaitkan pengasuhan anak dengan isu perubahan iklim dan keberlanjutan.

“Apabila kita mendiskusikan parenting, topik utama yang diangkat hampir selalu berkisar pada gadget, pendidikan, atau kesehatan. Kita hampir tidak pernah menyentuh pentingnya pengasuhan untuk mengedukasi anak mengenai perubahan iklim (climate change) atau keberlanjutan (sustainability),” tutur Salis, Minggu (4/10/2026).

BACA JUGA:  IAS Ungkap 6 Calon Sekretaris Golkar Sulsel, Ini Nama-namanya

Menurutnya, literasi lingkungan perlu diperkenalkan sejak lingkungan keluarga.

Orang tua dinilai memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran anak mengenai keberlanjutan lingkungan.

“Padahal, literasi lingkungan harus menjadi kesadaran mendasar bagi orang tua. Sebab, anak-anak kitalah yang akan menghuni bumi ini selama 50 tahun ke depan,” tegasnya.

Kearifan Bugis-Makassar dalam Eco-Parenting

Konsep eco-parenting yang dikembangkan tidak sekadar mengadopsi teori pengasuhan dari negara-negara Barat.

Para peneliti justru menggali nilai-nilai dari tradisi dan kearifan lokal Indonesia.

Kearifan Jawa Timur kemudian dipadukan dengan nilai budaya Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat Bugis dan Makassar.

Kolaborasi tersebut juga memiliki keterkaitan dengan latar belakang Fath Mashuri yang berdarah Sulawesi Selatan.

Salah satu pendekatan yang digunakan berasal dari praktik masyarakat Jawa dalam menjaga lingkungan, termasuk tradisi bersih desa dan upaya menjaga sumber air.

“Di Jawa, misalnya, terdapat tradisi bersih desa serta ritual menjaga kesucian sumber air. Ada pula kearifan lokal petani kuno yang menaburkan parutan kelapa ke sawah sebagai pupuk alami. Kesadaran untuk kembali ke alam dan meminimalkan bahan kimia inilah yang kami jadikan materi edukasi budaya bagi orang tua,” urainya.

BACA JUGA:  Kantor Distribusi Yakult di Pallangga Gowa Terbakar, Poros Macet hingga Dini Hari

Penggabungan kearifan lokal tersebut menjadi bagian dari upaya membangun pola pengasuhan yang tidak hanya memperhatikan perkembangan anak, tetapi juga menanamkan kepedulian terhadap lingkungan.

Konsep tersebut sekaligus memperluas kontribusi ilmu psikologi terhadap isu pembangunan berkelanjutan.

Fath Mashuri yang berfokus pada psikologi sosial turut mengembangkan pendekatan yang menghubungkan pengasuhan dengan tantangan perubahan iklim dan pemanasan global.

Raih Hibah Internasional Pemerintah Inggris

Gagasan eco-parenting tersebut berhasil membawa tim peneliti UMM memperoleh hibah internasional dari Pemerintah Britania Raya.

Salis yang merupakan alumnus program doktoral Newcastle University, Inggris, mengatakan hibah tersebut merupakan program kompetitif yang diperuntukkan bagi alumni perguruan tinggi Inggris di berbagai negara.

“Seleksinya sangat ketat dan kompetitif. Setiap tahun hanya sekitar 15 penerima yang terpilih secara global. Saya pernah mencoba dua tahun lalu dan gagal tiga kali, hingga akhirnya tahun ini berhasil lolos,” ungkapnya.

Setelah penandatanganan kontrak pada Oktober 2026, proyek pengabdian masyarakat tersebut dijadwalkan mulai berjalan pada November 2026.

BACA JUGA:  BMKG: Tsunami 0,54 Meter Terdeteksi di Bulukumba, Selayar-Bantaeng-Jeneponto Siaga

Seluruh rangkaian edukasi eco-parenting ditargetkan selesai pada Juni 2027 dengan mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal sebagai bagian dari pendekatan kepada orang tua.

Dengan pendekatan tersebut, pengasuhan diharapkan tidak hanya membentuk perkembangan anak secara personal, tetapi juga menumbuhkan kesadaran mengenai lingkungan dan keberlanjutan sejak dari keluarga.

SulawesiPos.com – Kearifan lokal Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan menjadi salah satu sumber inspirasi dalam pengembangan konsep eco-parenting yang digagas dua dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Konsep pengasuhan ramah lingkungan tersebut dikembangkan dengan memadukan kearifan lokal Jawa Timur dan Sulawesi Selatan untuk membekali orang tua menghadapi ancaman perubahan iklim dan krisis ekologis.

Gagasan tersebut digagas Wakil Rektor IV Bidang Riset, Pengabdian, dan Kerja Sama UMM Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., bersama dosen Fakultas Psikologi UMM Muhammad Fath Mashuri, S.Psi., M.A.

Riset dan pengabdian tersebut juga berhasil memperoleh hibah internasional dari Pemerintah Britania Raya.

Program ini rencananya mulai diimplementasikan pada November 2026 dan ditargetkan rampung pada Juni 2027.

Salis mengatakan konsep tersebut lahir dari melihat masih terbatasnya pembahasan pola asuh yang mengaitkan pengasuhan anak dengan isu perubahan iklim dan keberlanjutan.

“Apabila kita mendiskusikan parenting, topik utama yang diangkat hampir selalu berkisar pada gadget, pendidikan, atau kesehatan. Kita hampir tidak pernah menyentuh pentingnya pengasuhan untuk mengedukasi anak mengenai perubahan iklim (climate change) atau keberlanjutan (sustainability),” tutur Salis, Minggu (4/10/2026).

BACA JUGA:  Prakiraan Cuaca Makassar Besok 18 Juni 2026: Pagi Cerah Berawan, Waspada Angin Kencang di Sulsel Selatan

Menurutnya, literasi lingkungan perlu diperkenalkan sejak lingkungan keluarga.

Orang tua dinilai memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran anak mengenai keberlanjutan lingkungan.

“Padahal, literasi lingkungan harus menjadi kesadaran mendasar bagi orang tua. Sebab, anak-anak kitalah yang akan menghuni bumi ini selama 50 tahun ke depan,” tegasnya.

Kearifan Bugis-Makassar dalam Eco-Parenting

Konsep eco-parenting yang dikembangkan tidak sekadar mengadopsi teori pengasuhan dari negara-negara Barat.

Para peneliti justru menggali nilai-nilai dari tradisi dan kearifan lokal Indonesia.

Kearifan Jawa Timur kemudian dipadukan dengan nilai budaya Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat Bugis dan Makassar.

Kolaborasi tersebut juga memiliki keterkaitan dengan latar belakang Fath Mashuri yang berdarah Sulawesi Selatan.

Salah satu pendekatan yang digunakan berasal dari praktik masyarakat Jawa dalam menjaga lingkungan, termasuk tradisi bersih desa dan upaya menjaga sumber air.

“Di Jawa, misalnya, terdapat tradisi bersih desa serta ritual menjaga kesucian sumber air. Ada pula kearifan lokal petani kuno yang menaburkan parutan kelapa ke sawah sebagai pupuk alami. Kesadaran untuk kembali ke alam dan meminimalkan bahan kimia inilah yang kami jadikan materi edukasi budaya bagi orang tua,” urainya.

BACA JUGA:  Karhutla Bulu Saukang Meluas, Pendaki Maros Dievakuasi

Penggabungan kearifan lokal tersebut menjadi bagian dari upaya membangun pola pengasuhan yang tidak hanya memperhatikan perkembangan anak, tetapi juga menanamkan kepedulian terhadap lingkungan.

Konsep tersebut sekaligus memperluas kontribusi ilmu psikologi terhadap isu pembangunan berkelanjutan.

Fath Mashuri yang berfokus pada psikologi sosial turut mengembangkan pendekatan yang menghubungkan pengasuhan dengan tantangan perubahan iklim dan pemanasan global.

Raih Hibah Internasional Pemerintah Inggris

Gagasan eco-parenting tersebut berhasil membawa tim peneliti UMM memperoleh hibah internasional dari Pemerintah Britania Raya.

Salis yang merupakan alumnus program doktoral Newcastle University, Inggris, mengatakan hibah tersebut merupakan program kompetitif yang diperuntukkan bagi alumni perguruan tinggi Inggris di berbagai negara.

“Seleksinya sangat ketat dan kompetitif. Setiap tahun hanya sekitar 15 penerima yang terpilih secara global. Saya pernah mencoba dua tahun lalu dan gagal tiga kali, hingga akhirnya tahun ini berhasil lolos,” ungkapnya.

Setelah penandatanganan kontrak pada Oktober 2026, proyek pengabdian masyarakat tersebut dijadwalkan mulai berjalan pada November 2026.

BACA JUGA:  Kantor Distribusi Yakult di Pallangga Gowa Terbakar, Poros Macet hingga Dini Hari

Seluruh rangkaian edukasi eco-parenting ditargetkan selesai pada Juni 2027 dengan mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal sebagai bagian dari pendekatan kepada orang tua.

Dengan pendekatan tersebut, pengasuhan diharapkan tidak hanya membentuk perkembangan anak secara personal, tetapi juga menumbuhkan kesadaran mengenai lingkungan dan keberlanjutan sejak dari keluarga.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru