Maudu Lompoa Cikoang: Merawat Rasa Cinta pada Nabi SAW dalam Balutan Kearifan Lokal

Berdasarkan kajian jurnal UIN, makanan yang dibawa masing-masing masyarakat diterima oleh anrongguru selaku pemimpin ritual. Prosesi tersebut dilakukan dengan pembakaran dupa sembari duduk bersila dan membaca doa.

A’ratek atau Azzikiri

Setelah penerimaan makanan, rangkaian berlanjut pada A’ratek atau Azzikiri. Prosesi ini merupakan inti perayaan Maudu Lompoa dan dipimpin oleh anrongguru.

A’ratek berasal dari kitab Rate’ karya Sayyid Jalaluddin Al-Aidid dan berisi syair pujian berbahasa Arab yang ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW dan keluarganya.

Pembacaannya berlangsung sekitar dua jam dengan lagu dan irama khas.

Setelah A’ratek atau Azzikiri selesai, rangkaian dilanjutkan dengan jamuan tamu. Para tamu yang berada di baruga dijamu dengan makanan yang telah disiapkan panitia.

Kanre maudu yang telah dibacakan A’ratek/Azzikiri kemudian masuk dalam tahapan Attoana atau pembagian makanan maulid.

Jurnal UIN mencatat, pembagian tersebut memiliki ketentuan tersendiri. Qadhi atau imam dan pejabat pemerintah setempat masing-masing mendapatkan sebuah julung-julung lengkap dengan isinya.

BACA JUGA:  Maulid Akbar Pesisir Makassar 28 Agustus 2026 Digelar di Paotere, Ini Lokasinya

Peserta A’ratek/Azzikiri memperoleh kandawari lengkap dengan isinya, sementara masyarakat umum mendapatkan sebuah bakul.

Andi Alwi mengatakan isi julung-julung saat ini juga semakin beragam dan dapat dinikmati masyarakat.

Ia mengatakan nantinya isi dari julung-julung spetti baju, daster, boneka, makanan, songkolo, teur maulid akan dibagikan untuk warha.

Bagi masyarakat Cikoang, pembagian tersebut menjadi bagian dari semangat kebersamaan yang mengiringi perayaan Maudu Lompoa.

Di tengah kemeriahan itu, julung-julung juga memiliki makna simbolis. Bukan sekadar wadah untuk membawa berbagai perlengkapan maulid, kapal tersebut menjadi gambaran kegembiraan dan kesatuan masyarakat.

“Ia juga menjelaskan julung-julung itu bermskna kegembiraan wujud dari kegembiraan menggambarkan suatu kesatuan yang utuh yang siap berlayar mengarungi kehidupan di dunia ini,” ujarnya.

Maudu Lompoa akhirnya tidak hanya memperlihatkan kemeriahan sebuah perayaan keagamaan. Di dalamnya terdapat gotong royong, penghormatan terhadap ajaran Islam, penghargaan terhadap sejarah, serta kearifan lokal yang terus diwariskan

Berdasarkan kajian jurnal UIN, makanan yang dibawa masing-masing masyarakat diterima oleh anrongguru selaku pemimpin ritual. Prosesi tersebut dilakukan dengan pembakaran dupa sembari duduk bersila dan membaca doa.

A’ratek atau Azzikiri

Setelah penerimaan makanan, rangkaian berlanjut pada A’ratek atau Azzikiri. Prosesi ini merupakan inti perayaan Maudu Lompoa dan dipimpin oleh anrongguru.

A’ratek berasal dari kitab Rate’ karya Sayyid Jalaluddin Al-Aidid dan berisi syair pujian berbahasa Arab yang ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW dan keluarganya.

Pembacaannya berlangsung sekitar dua jam dengan lagu dan irama khas.

Setelah A’ratek atau Azzikiri selesai, rangkaian dilanjutkan dengan jamuan tamu. Para tamu yang berada di baruga dijamu dengan makanan yang telah disiapkan panitia.

Kanre maudu yang telah dibacakan A’ratek/Azzikiri kemudian masuk dalam tahapan Attoana atau pembagian makanan maulid.

Jurnal UIN mencatat, pembagian tersebut memiliki ketentuan tersendiri. Qadhi atau imam dan pejabat pemerintah setempat masing-masing mendapatkan sebuah julung-julung lengkap dengan isinya.

BACA JUGA:  Warna-warni Maudu Lompoa di Cikoang: Merawat Nilai Agama dan Kearifan Lokal yang Terus Mengakar

Peserta A’ratek/Azzikiri memperoleh kandawari lengkap dengan isinya, sementara masyarakat umum mendapatkan sebuah bakul.

Andi Alwi mengatakan isi julung-julung saat ini juga semakin beragam dan dapat dinikmati masyarakat.

Ia mengatakan nantinya isi dari julung-julung spetti baju, daster, boneka, makanan, songkolo, teur maulid akan dibagikan untuk warha.

Bagi masyarakat Cikoang, pembagian tersebut menjadi bagian dari semangat kebersamaan yang mengiringi perayaan Maudu Lompoa.

Di tengah kemeriahan itu, julung-julung juga memiliki makna simbolis. Bukan sekadar wadah untuk membawa berbagai perlengkapan maulid, kapal tersebut menjadi gambaran kegembiraan dan kesatuan masyarakat.

“Ia juga menjelaskan julung-julung itu bermskna kegembiraan wujud dari kegembiraan menggambarkan suatu kesatuan yang utuh yang siap berlayar mengarungi kehidupan di dunia ini,” ujarnya.

Maudu Lompoa akhirnya tidak hanya memperlihatkan kemeriahan sebuah perayaan keagamaan. Di dalamnya terdapat gotong royong, penghormatan terhadap ajaran Islam, penghargaan terhadap sejarah, serta kearifan lokal yang terus diwariskan

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru